youngster.id - Saham Netflix Inc. (NFLX) tercatat melemah sekitar 4% pada perdagangan terbaru, meskipun perusahaan membukukan kinerja keuangan kuartal IV yang sedikit melampaui ekspektasi pasar. Pelemahan saham mencerminkan sikap hati-hati investor di tengah ketidakpastian terkait rencana akuisisi Warner Bros. Discovery (WBD).
Dalam laporan keuangan terbarunya, Netflix mencatat pendapatan sebesar US$12,05 miliar pada kuartal IV, tumbuh 17,6% secara tahunan (year-on-year/YoY). Laba operasional meningkat 30% menjadi US$2,96 miliar, dengan margin operasi naik ke level 24,5%. Laba bersih tercatat US$2,42 miliar, naik 29% YoY, didukung efisiensi biaya dan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Arus kas bebas (free cash flow) juga menunjukkan kinerja solid, meningkat 36% menjadi US$1,87 miliar, memperkuat posisi keuangan perusahaan untuk mendukung ekspansi ke depan.
Namun, sentimen pasar tertekan oleh kabar perubahan struktur penawaran akuisisi Warner Bros. Discovery. Netflix dilaporkan mengajukan penawaran all-cash sebesar US$27,75 per saham untuk unit studio dan streaming WBD. Rencana tersebut dinilai strategis untuk memperluas pustaka konten serta mengintegrasikan layanan HBO Max, tetapi memunculkan kekhawatiran investor terkait risiko eksekusi, kebutuhan pendanaan, dan dampaknya terhadap struktur permodalan perusahaan.
“Akuisisi ini berpotensi menciptakan nilai jangka panjang melalui peningkatan skala bisnis dan diferensiasi konten di tengah persaingan industri streaming yang semakin ketat,” ujar manajemen Netflix memberi alasan, dikutip Jum’at (23/1/2026).
Meski demikian, investor masih menunggu kejelasan lebih lanjut, terutama terkait aspek regulasi, potensi sinergi operasional, serta dampak finansial jangka menengah.
Untuk tahun 2026, Netflix memproyeksikan pendapatan di kisaran US$50,7–US$51,7 miliar dengan target margin operasi mencapai 31,5%. Proyeksi tersebut didukung oleh pertumbuhan pelanggan global, penyesuaian harga layanan, serta lonjakan pendapatan iklan yang diperkirakan hampir dua kali lipat. Kendati prospek fundamental dinilai solid, valuasi saham yang relatif tinggi dan waktu realisasi ekspansi margin menjadi faktor yang membatasi optimisme pasar. (*AMBS)
