Nina Nuraniyah : Kupu Kupu Yang Menjadi Pejuang (Masalah) Sampah

youngster.id - Bagi Nina Nuraniyah sampah tak sekadar tumpukan kotoran yang tak berarti. Sampah adalah produk limbah yang bisa bernilai ekonomis. Dengan sampah dia berhasil memberdayakan masyarakat di kampung Cisalopa Bogor. Sampah juga yang membawa dia mendapat berbagai penghargaan di bidang lingkungan hidup berskala internasional. Padahal, dulu Nina hanya seorang mahasiwa bertipe “kupu-kupu”.

Gadis berkerudung ini terlihat begitu bersahaja. Tak terlihat kalau dia adalah aktivis lingkungan hidup, sekaligus CEO sebuah perusahaan. Namun ketika berbicara tentang pengeloaan sampah dan pemberdayaan masyarakat, bicaranya langsung penuh semangat dan sulit dihentikan. Pasalnya, Nina telah Nina merintis semua itu sejak tahun 2009.

“Saya merasa perlu melakukan sesuatu yang bisa memberikan sesuatu bagi orang banyak. Dan pengolahan sampah merupakan fokus utama dari usaha saya ini. Karena masalah sampah itu terjadi di sekitar kita di seluruh negeri. Saya ingin dengan kegiatan ini paling tidak akan dapat memberikan solusi untuk lingkungan yang bersi sekaligus memberi inspirasi bagi masyarakat bahwa sampah masih bisa bernilai ekonomis,” ungkap Nina kepada Youngsters.id.

Dia mendirikan Greena, sebuah Yayasan yang melakukan kegiatan pengolahan sampah terpadu. Jadi tak hanya mengolah limbah sampah plastik menjadi biji plastik, Greena melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat untuk membuat produk bernilai ekonomi dari limbah sampah.

Kegiatan Greena mendapat apresiasi dari banyak pihak. Segudang penghargaan diraih Nina. Diantaranya dia terpilih menjadi Get Inspired BBC 2011 dan Pioner youth from West Java. Lalu memenangkan Shell LIve Wire Indonesia, Categories of most impactful start up business (2015), serta sejumlah penghargaan lain seperti Tupperware She Can Awards 2013 kategori Lingkungan (2013), Indonesia Digital Women Award 2013 from Telkom Indonesia.

“Semua penghargaan menjadi inspirasi dan motivasi bagi saya untuk lebih baik lagi mengelola Grenna,” ujar gadis kelahiran Bogor, 10 Desember 1983 itu merendah.

Sesungguhnya semua itu merupakan buah dari perjuangan Nina selama bertahun-tahun. Demi Grenna, dia dicemooh banyak orang, bahkan ditinggalkan teman-temannya. Namun dia tetap bertahan dengan idealisme untuk memberdayakan masyarakat lewat kegiatan mengolah sampah.”Saya ini orangnya humanis. Panggilan jiwa saya adalah memberdayakan masyarakat di sekitar. Dan itu jauh lebih tinggi nilainya daripada uang,” ucap Nina tegas.

 

Kupu Kupu

Impian dan cita-cita untuk memberdayakan masyarakat dan lingkungan bermula dari ketidaksengajaan. Bahkan, menurut Nina semasa kuliah dia adalah mahasiwa jenis kupu-kupu. “Saya ini tipe mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang – kuliah pulang,” kenang lulusan jurusan MIPA Institut Pertanian Bogor tahun 2004 ini sambil tertawa.

Tapi hatinya kemudian terpikat dengan dunia aktivis lingkungan ketika melihat pameran dari Rimbawan Muda Indonesia (RMI), sebuah LSM lingkungan di Bogor. Rupanya pekerjaan yang berhubungan langsung dengan lingkungan dan masyarakat sekitar itu langsung memikat hati Nina. Dia pun nekad melamar jadi relawan.

Baca juga :   Anggaran Promosi UKM Rp 12 Miliar

Kegiatan yang berhubungan langsung dengan masyarakat dan lingkungan itu dijalani selama 5 tahun. Hal itu diakui Nina, yang membentuk karakter diri. Di sana dia belajar bagaimana memberdayakan masyarakat dengan mendekatkan kembali mereka pada alam sekitar. Termasuk tidak mengotori lingkungan dengan sampah. Kepergiannya ke berbagai daerah di Indonesia membuka wawasannya tentang kehidupan masyarakat. Medan berat pun ditempuhnya.

“Bayangkan, saya harus berkendara selama 4 jam dari bandara, kemudian 4 jam berikutnya saya harus menyebrang menggunakan kapal. Kemudian saya masih harus berkendara lagi melewati hutan belantara sekiar 2 jam. Jika saya mau sosialisasi, harus menggunakan perahu kecil untuk menemui penduduk dari satu rumah ke rumah lainnya. Setiap ingin berkomunikasi, saya harus mendaki gunung terlebih dulu,” ungkap Nina yang sempat bekerja di Internasional Resque Animal, sebuah LSM internasional, penuh semangat.

Panggilan hatinya untuk bisa menjangkau dan memberi dampak langsung ke masyarakat memag sangat kuat. Namun di saat yang bersamaan dia dipanggil pulang oleh kedua orang tuanya pasangan (Alm) H Udin Muhtadin dan (Alm) Hj Djubaedah. Mereka rupanya khawatir dengan aksi anak bungsu dari tujuh bersaudara ini.

 

Pulang Kampung

Setelah hampir lima tahun melanglang buana, demi menghormati kecemasan orangtua Nina memutuskan pulang kampung. Dia sempat galau. “Saya bingung mau apa selanjutnya. Tetapi kemudian saya melihat dan terkejut melihat orang-orang di kampung saya ternyata malah masih membuang sampah sembarangan. Saya jadi berpikir, selama ini saya sibuk di luar mengurusi masalah lingkungan, tetapi ternyata di kampung halaman sendiri orang masih tidak peduli lingkungan,” ungkap Nina.

Dari sana semangat Nina untuk menularkan idealisme agar masyarakat peduli lingkungan bangkit kembali. Awalnya, dia bersama beberapa teman membuat program Green Earth. Mereka melakukan program penyuluhan ke beberapa sekolah di Bogor untuk mengenalkan climate change dengan pendekatan khusus. Ternyata tanggapannya positif bahkan melahirkan Kopling, Komunitas Peduli Lingkungan. Hal itu semakin memicu semangat Nina. “Saya mulai aktif bersosialisasi. Tak cuma di sekolah tetapi juga ke pengajian ibu-ibu serta pesantren,” ujarnya.

Lalu, Nina memutuskan untuk fokus kegiatannya pada lingkungan di sekitar tempat tinggalnya. “Selain karena saya tinggal di sana, lebih mudah memantaunya dan tidak membutuhkan biaya,” tambahnya.

Keputusan itu membuat Nina harus berpisah dari rekan-rekannya di Green Earth. “Saya terlalu idealis mungkin,” ujarnya. Meski demikian dia tidak patah arang. Apalagi kegiatannya terus mendapat apresiasi bahkan dukungan, termasuk dari teman-temannya di Jepang.

Baca juga :   E-Commerce dan Pariwisata Masih Jadi Primadona di 2018

Demi program ini Nina mendekati ibu-ibu rumah tanga di desa Cisalopa lewat kegiatan pengajian. Di sana dia mengenalkan tentang pemilahan sampah organik dan non organik. Bahkan kemudian membentuk bank sampah dan memberikan pelatihan untuk mengumpulkan, mencuci, membersihkan, lalu membuat pola dan merangkai sampai daur ulang tadi menjadi kerajinan tangan.

Awalnya usaha Nina ini mendapat cemooh dari banyak orang. Bahkan, ada yang bilang kegiatan mengumpulkan sampah itu fakir, tidak diperbolehkan agama. Dan itu sempat menghambat para ibu untuk ikut aktif. Namun Nina tetap yakin pada idealismenya dan terus melakukan pendekatan. Dia juga rela merogoh kantong sendiri demi mempertahankan kegiatan itu. Bahkan uang dari penghargaan seperti Asoka Change Maker dan Climate British Council di tahun 2010 dipakai untuk mengembangkan kegiatan tersebut.

Namun yang paling menyedihkan ditengah segala usaha itu, Nina harus kehilangan kedua orang tuanya dalam waktu yang hampir bersamaan di tahun 2015. “Kedua orang tua saya adalah inspirasi dan motivasi saya. Karena itu sepeninggalan mereka saya tidak ingin kegiatan ini berhenti dan jadi sia-sia,” ucap Nina.

Nina dan Komunitas Greena

 

Edu-Eco Village

Dari kegiatan bank sampah itulah Nina mulai mendapat dukungan masyarakat. Apalagi setelah masyarakat mengetahui bahwa pengolahan sampah selain bisa menjadi pupuk takakura untuk pertanian, juga memberi penghasilan tambahan. Dari 5 orang peserta aktif, kini program Nina sudah memiliki 15 pengrajin untuk produk limbah sampah.

Hal inilah yang membuat Nina memutuskan meningkatkan level kegiatannya. Pada tahun 2011 Green Earth berganti nama menjadi Grenna, Yayasan non profit yang dikelola Nina sendiri. Greena tak lagi sekadar melakukan penyuluhan, tetapi juga mulai memproduksi produk. Mulai dari membuat biji plastik dari limbah sampah hingga produk kerajinan tangan. Selain itu, Greena juga bekerjasama dengan beberapa sekolah untuk pengolahan sampah organik dan anorganik.

Menurut Nina, langkah itu adalah untuk memperkuat kehidupan ekonomi warga binaannya. “Selama ini mereka hanya mendapatkan penghasilan yang kecil dari kegiatan membuat produk. Sekarang saya ingin mereka bisa lebih meningkat lagi, bahkan kalau bisa mendapat penghasilan setara UMR,” kata Nina.

Untuk itu Nina rela menjadikan rumah dan tanah milik almarhum kedua orang tuanya menjadi kantor, gudang, tempat workshop bagi eco friendly product. Upaya ini akhirnya mendapat dukungan dari pemerintah setempat. Dia mendapat bantuan mesin pengolahan sampah dari Dinas Kebersihan Kabupaten Bogor. Lewat mesin itu dia berhasil menjadikan desa Cisalopa sebagai desa percontohan pengolahan sampah terpadu.

Omzet Greena pun meningkat bahkan bisa meraup keuntungan hingga Rp 7 juta per bulan. Tak hanya itu Greena kini sudah mempersiapkan program Cisalopa bisa menjadi desa wisata dengan program Edu Eco Tourism, yakni memberikan informasi dan kegiatan mengenai pengelolaan sampah terpadu sehingga dapat diikuti oleh daerah-daerah lain di Indonesia. Juga program Waste Management Service, yakni mengajak masyarakat terutama pelajar untuk mengolah sampah sekolah menjadi produk bernilai ekonomis.

Baca juga :   Gal Gadot Jadi 'CEO' Huawei

Semua kegiatan tersebut menjadi program pengolahan sampah terpadu yang lengkap. Hebatnya, program yang disusun Nina ini mulai diadopsi oleh berbagai daerah. Bahkan, Nina didapuk sebagai konsultan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI untuk program eco village di seluruh Indonesia.

“Saya akan terus memikirkan bagaimana agar  sampah bisa bernilai bisnis yang diproduksi massal dan bisa menjadi sumber penghasilan tak hanya bagi warga Cisalopa tetapi seluruh Indonesia,” ucap Nina penuh harap.

 

=======================================

Nina Nuraniyah

 

  • Tempat/Tanggal Lahir  : Bogor, 10 Desember 1983
  • Nama Usaha : Yayasan Greena
  • Berdiri : 2012 

Working Experience:

  • Tahun 2009 – sekarang : Founder & CEO Greenna
  • Tahun 2008 – 2009 : IAR – International Animal Rescue
  • Tahun 2004 – 2008 : RMI – The Indonesian Institute for Forest and Environment

Konsultan :

  • Tahun 2016 : Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI – Konsultan untuk Eco Village Program
  • Tahun 2013 & 2015 : Kementerian Pekerjaan Umum – Konsultan untuk 3R Program Year

Buku :

“Menepis Kabut Halimun (Rangkaian Bunga Rampai Pengelolaan Sumberdaya Alam di Halimun)” Bogor Indonesia, 2008

Pembicara :

  • Tahun 2015 : Very50 workshop Asian Talk, Social Entrepreneur at Chair Building di Tokyo Jepang
  • Tahun 2014 : Workshop Waste Management: membuat Recycled Product dan kompos, Universitas Indonesia
  • Tahun 2013 : Workshop bank sampah di Universitas Makassar
  • Tahun 2012 : Workshop ecopreneur di Institut Pertanian Bogor
  • Tahun 2012 : Very50 wrokshop Sharing Greenna Activities at Chair Building di Tokyo Jepang

Penghargaan :

  • Tahun 2015 : Shell LIve Wire Indonesia, Categories of most impactful start up business
  • Tahun 2015: Tupperware She Can Awards 2013 kategori Lingkungan
  • Tahun 2013 : Perempuan Inspiratif NOVA 2013 kategori Lingkungan
  • Tahun 2013 : Indonesia Digital Women Award 2013 dari Telkom Indonesia
  • Tahun 2012 : Raksa Prasadha Award, kategori individual yang peduli lingkungan dari Gubernur Jawa Barat
  • Tahun 2012 : Pemuda Pioner dari Jawa Barat
  • Tahun 2011 : 100 of woman inspiring, versi Majalah Kartini
  • Tahun 2011 : Get Inspired BBC
  • Tahun 2010 : Climate Generation British Council
  • Tahun 2010 : Pemuda Pioner dari Pemerintah Kabupaten Bogor
  • Tahun 2009 : Ashoka Young Changemaker

==========================================

 

STEVY WIDIA