Tiyo Avianto : Dari Terpaksa Kini Jadi Passion

Tiyo Avianto, Founder dan CEO Cubeacon (Foto: Fahrul Anwar/Youngsters.id)

YOUNGSTER.id - Internet of Things (IoT) merupakan tren teknologi masa depan yang mulai dilihat manfaatnya. Aneka inovasi IoT juga mulai muncul di Tanah Air, terutama lewat usaha rintisan (startup). Adopsti teknologi ini merupakan bagian dari transformasi digitalitasi di segala sendi kehidupan.

Kiprah IoT dalam memberikan daya guna berbagai aktivitas manusia mulai disadari. Salah satunya adalah Cubeacon, produk IoT dari startup asal Surabaya yang baru-baru ini menjadi finalis ASEAN ICT Award (AICTA) 2016.

Startup di bawah PT Eyro Digital Teknologi ini didirikan oleh Tiyo Avianto. Pria kelahiran Magetan, 26 Desember 1987 ini bisa dibilang pelopor strartup yang bergerak di bidang IoT.

“Kami percaya bahwa di era 2020 industri IoT akan menjadi industri baru yang besar, dan punya market capital yang besar juga. Karena itu kami memokuskan diri untuk membuat perusahaan yang bergerak di bidang IoT (Internet of Things),” ucap Tiyo kepada Youngsters.id.

Startup ini dimulai pada Januari 2014 oleh Tiyo dan kedua rekannya, Riza Alaudinsyah dan Fariz Yunian. Usaha ini awalnya merupakan provider company dan pabrik manufaktur bagi iBeacon. Menurut Tiyo, Cubeacon awalnya dibuat untuk pengenalan IoT. Ini menjadi semacam wadah integrasi IoT untuk memberikan informasi ke berbagai perangkat di sekitarnya. Ini merupakan protokol komunikasi yang bekerja dengan bluetooth low energy.

Produk teknologi yang diusung Cubeacon awalnya memudahkan para pedagang untuk dapat memantau aktivitas para pelanggan mereka melalui smartphone. Dengan perangkat tersebut, para pedagang dapat memantau pergerakan dari para pelanggan mereka melalui aplikasi yang terpasang pada smartphone sang pelanggan.

Perangkat Cubeacon tersebut memiliki bentuk menyerupai sebuah kubus kecil dan memanfaatkan konektivitas bluetooth untuk dapat tersambung dengan beragam perangkat elektronik. Setiap satu paket pembelian produk Cubeacon ini berisi tiga buah Beacon dan sebuah baterai terpisah. Saat ini produk Cubeacon sudah berkembang pesat untuk berbagai keperluan.

“Awalnya market Indonesia sedikit demam ketika tahu Cubeacon mulai di kenal sebagai produk lokal, tapi dengan layanan dan kualitas produk, akhirnya mereka menerima,” ujar Tiyo. Dia menyebutkan, dari data statistik penjualan Cubeacon, hampir 80% produk terserap di sektor industri dengan berbagai kategori, di antaranya fleet, warehouse, management access, security dan tracking.

Berkat Cubeacon, alumni Politeknik Elektronika Negeri Surabaya ini terpilih mengikuti babak final ASEAN ICT Award (AICTA) 2016 di Novotel Yangoon, Myanmar. Bahkan, pada kesempatan itu, Cubeacon akan bersaing dengan 17 peserta lainnya dari seluruh negara di Asia Tenggara. Pemenang akan diumumkan pada 24-25 November nanti di Brunei Darussalam.

“Kami menjadi satu-satunya startup Indonesia yang menjadi finalis ASEAN ICT Award 2016,” ujar Tiyo bangga. Selain itu dia juga yakin bahwa bisnis yang dirintisnya ini akan dapat berkembang.

 

Pas-pasan

Menariknya, Tiyo mengaku menjadi wirausaha di bidang teknologi (technopreneur) ini berangkat dari keterpaksaan.

“Sejak kuliah di tahun 2007 saya sudah mulai usaha. Dari jualan online via forum, lalu coba-coba buat layanan web desain. Semua itu terpaksa untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Saya mencoba untuk tidak merepotkan orang tua saat saya harus kuliah, memang kondisi orang tua saya secara ekonomi hanya pas pas-an” ungkap Tiyo.

Dari keterpaksaan itulah putra pasangan Timbu dan Sukarminatiningsih ini pun mengasah jiwa enterpeneur. “Menjadi pengusaha dari kondisi terpaksa, yang kemudian saya rasa adalah pilihan tepat. Karena mau nggak mau kita harus terjun total. Kini menjadi pengusaha adalah passion, pilihan dan tujuan hidup. Anda akan merasa tanpa beban bila mental itu melekat dari dalam diri. Terpaksa awal-awal dan berubah menjadi passion,” ungkap Tiyo.

Berlatar belakang pendidikan teknik membuat pemuda yang suka membaca ini serius berkecimpung di bisnis startup digital. Ia sempat bekerja di RnD Panasonic, namun hanya bertahan setahun karena jiwa wirausaha jauh lebih kuat. Di tahun 2011 ia mulai lebih fokus jadi wirausaha startup, meski tidak mudah. “Mengubah kondisi diri menjadi pengusaha ternyata tidak mudah. Harus jatuh bangun dalam meniti karir sebagai pengusaha, apalagi di dunia teknologi,” kisah Tiyo.

Di awal dia membangun startup digital e-commerce untuk produk IT, SolusiHardware.com di Surabaya. Namun perkembangan pasar yang lambat membuat Tiyo beralih. Sejak tahun 2013 dia memutuskan untuk beralih ke IoT. Selain belum banyak kompetitor di Indonesia, kelebihannya bisnis ini melengkapi bisnis layanan hingga core teknologi. Pasar yang punya peluang yang besar di Indonesia. Selain itu, Tiyo mengaku dia mendapatkan konsep bisnis yang berbeda yakni IoT.

Brand yang dibangun dalam kurun waktu satu tahun ini telah melakukan pengembangan produk untuk memperkuat pasar. Varian terbaru dari produk Cubeacon di tahun 2016 adalah produk Cubeaconcard. Menurut Tiyo, inovasi teranyar startupnya ini masih sama seperti Cubeacon yang dulu, bedanya pada sisi casing yang lebih tipis, seukuran kartu ATM standar. Card-reader ini akan didesain sebagai sebuah perangkat stand-alone dan mampu bekerja secara 24 jam non-stop. Konsep produk ini sedikit berbeda dengan produk iBeacon yang sebelumnya sudah meluncur, yakni menggunakan mekanisme scan dengan smartphone.

Sementara itu, untuk informasi layanan Backend as a Services (BaaS) Cubeacon, dari data statistik yang terhimpun tercatat telah digunakan lebih dari 1.300 pengembang. Di dalamnya juga sudah bertengger hampir 200 Apps untuk iOS dan hampir 600 Apps untuk Android yang dikelola. Pembenahan terhadap layanan ini juga akan menjadi prioritas Cubeacon sehingga bisa menjadi layanan BaaS yang lebih general dan bisa digunakan untuk keperluan di luar iBeacon juga.

 

Ubah Branding

Tiyo mengakui tidak mudah memang memperkenalkan produk berbasis IoT. Hal itu menurut dia karena ekosistem untuk IoT masih belum berkembang. “Kendala terberat adalah presepsi orang Indonesia sendiri yang tidak suka dengan barang buatan lokal. Kami merasakan hal itu, ketika saya baru memperkenalkan Cubeacon. Door to door, dari perusahaan satu ke perusahaan yang lain, namun saya selalu diremehkan,” kisahnya.

Untuk mengatasi masalah itu dia bersama 8 tim inti pun mengubah branding Cubeacon. “Saya coba jual di luar Indonesia. Semua sisi Cubeacon tidak ada sentuhan lokal. Saya coba western base, mulai dari promo kit, video dan semua aspek. Setahun saya lakukan itu, akhirnya banyak orang yang nggak sadar kalau Cubeacon adalah buatan lokal. Dan dari situ mulailah banyak yang menerima Cubeacon di market Indonesia,” ungkapnya.

Akhirnya dia kembali ke pasar Indonesia pada 20 Mei 2015. “Bisnis ini adalah kepercayaan. Kredibilitas pribadi adalah yang utama, kejujuran adalah modal penting dalam berbisnis. Kami selalu menanamkan nilai-nilai tersebut dalam men-deliver layanan,” katanya lagi.

Tiyo juga menyadari bahwa bisnis ini masih dalam tahap early adopt technology. “Ini bukan bisnis jangka pendek. Secara konsep Cubeacon adalah long term business, karena kami ingin memberikan impact bagi masyarakat,” ucapnya.

Di sisi lain, bisnis IoT memiliki kendala dalam manufaktur untuk merakit perangkat elektronik. Untuk itu, Cobeacon harus membuat line production di Shenzhen untuk mempercepat proses dan efisiensi. “Karena di sana semua ekosistem sudah terbentuk,” ujar Tiyo.

Kini setelah lebih dari dua tahun berjalan, PT Eyro Digial Teknologi yang menaungi Cubeacon telah berkembang. Pangsa pasar juga semakin terbuka luas. Demikian juga dengan persaingan. Namun Tiyo tidak gentar.

“Persaingan adalah bentuk dimana produk atau solusi mulai dijawab oleh market. Sah-sah saja persaingan muncul. Beberapa kali kami harus berhadapan dengan brand luar saat presentasi ke pelanggan. Cubeacon berupaya memberikan solusi yang terbaik. Kami tidak hanya menjual hardware-nya, tapi kami memberikan layanan selengkap mungkin karena kami menguasai core teknologi. Di dunia Hardware, bukan hanya brand, dan harga yang bersaing, namun layanan yang solutif. Dan, memberikan revenue stream baru buat pelanggan adalah kunci bagi Startup hardware,” tegas Tiyo.

 

Cubeacon, perangkat pemancar iBeacon produksi PT Eyro Digital Teknologi, Surabaya. (Foto: Istimewa/Youngsters.id)
Cubeacon, perangkat pemancar iBeacon produksi PT Eyro Digital Teknologi, Surabaya. (Foto: Istimewa/Youngsters.id)

 

Semangat

Dari sisi pengguna iBeacon, Tiyo mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya akan lebih banyak mengarah ke sektor industri, ketimbang untuk segmentasi lifestyle dan ritel. Namun demikian, untuk lifestyle dan ritel ini tidak sepenuhnya dibatasi, hanya membutuhkan timing yang tepat untuk memaksimalkan penetrasinya. Sementara di pasar industri saat ini penerimaannya lebih kencang.

“Dunia hardware di Indonesia memang masih tertinggal. Tapi tidak ada kesempatan yang tertunda kalau kita memulai dan berupaya,” ujar Tiyo penuh keyakinan.

Dia selalu mendapat dorongan semangat dari kedua orang tua, dan juga para developer yang terlibat bekerja sama. “Selain orang tua, tentunya saya secara pribadi termotifasi dan lebih semangat ketika melihat developer kita bekerja hingga tengah malam, dan mereka lakukan itu untuk membuat produk cubecaon menjadi lebih baik,” katanya.

Inovasi Cubeacon terbaru adalah BaaS. Diprediksikan awal Oktober akan ada rilis ulang untuk layanan BaaS. Selain itu akan ada satu produk hardware lagi yang akan segera dirilis. Harapannya awal tahun depan produk tersebut siap tersedia di pasar.

“Cubeacon ke depan akan memproduksi perangkat-perangkat atau sensor dan gateway yang di gunakan untuk menghubungkan semua perangkat ke internet,” ungkap Tiyo. Dia melihat akan ada industri baru di tahun 2020 yaitu IoT. Untuk itu, perlu bagi para developer muda mempersiapkan diri untuk masuk ke industri tersebut sedari dini. Tentu dengan konsekuensi harus bersabar dalam men-deliver layanan.

“Kami yakin konsumen teknologi akan berpindah dari sifat tradisional menjadi digital, mengubah aktivitas offline menjadi online activities. Contoh, kalau dulu orang kirim barang harus dicatat pakai kertas, atau hanya di-scan pakai barcode, ke depan semua akan dilakukan seamless, langsung terhubung ke internet. Ketika truk datang datanya langsung ke internet, ketika barang dibuka di gudang datanya langsung ke internet, ketika barang disimpan langsung ke internet. ketika barang terjual datanya langsung ke internet. Saya pribadi berharap semoga ke depan Indonesia bisa menjadi tuan rumah dalam industri elektronika. Saya berharap pemerintah juga care terhadap industri hardware, memproteksi, dan memberikan peluang baru,” papar Tiyo penuh harap.

 

==================================

Tiyo Avianto

  • Tempat Tanggal Lahir             : Magetan 26-12-87
  • Pendidikan Terakhir                : Sarjana Teknik ITS
  • Nama Perusahaan                  :  PT. Eyro Digital Teknologi
  • Nama Brand                          : Cubeacon

Prestasi :

  • Juara #1 Indigo Apprentice Award Telkom Indonesia 2015,
  • Juara #1 Indonesia ICT Award 2015 kategori SME dan Financial,
  • Juara #2 Asia Pacific ICT Alliance 2015 kategori Communication,
  • Finalis Asean  ICT Award 2016 – Myanmar kategori “Private Sector”

==================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia