Ayu Purnamasari : Ingin Milenial Bangga Berbusana Dengan Kain Nusantara

Ayu Purnamasari

Ayu Purnamasari, Founder & CEO Dakara Indonesia (Foto: Istimewa/youngster.id)

youngster.id - Perkembangan industri fesyen di Indonesia di tengah pandemi Covid-19 saat ini cukup menggembirakan. Merek fesyen lokal semakin mendapat kepercayaan masyarakat. Bahkan anak-anak muda mulai bangga mengenakan produk fesyen lokal sebagai bagian dari gaya hidup mereka sehari-hari. Bisnis di bidang ini pun turut naik pamor.

Belakangan bisnis fesyen terus berkembang di kalangan anak muda. Kreativitas mereka membuat produk fesyen lokal menjadi sangat beragam dan melibatkan banyak orang di sekitar. Beberapa mulai dengan otodidak dan modal terbatas, namun mampu menghasilkan karya dan produk fesyen yang menawan.

Seperti yang lakukan Ayu Purnamasari, melalui merek Dakara Indonesia. Dengan belajar desain secara otodidak dan modal terbatas Ayu menghadirkan produk fesyen dengan bahan kain tenun dari berbagai daerah di Indonesia.

“Dakara dikemas dengan modern, namun tetap tidak meninggalkan unsur etnik dan kebudayaannya. Melalui Dakara saya ingin agar masyarakat Indonesia, khususnya kaum milenial bangga berbusana dengan menggunakan kain Nusantara,” ucap Ayu kepada youngster.id.

Nama Dakara diambil dari bahasa Sansekerta yang bermakna abadi. Ayu berharap pemberian nama tersebut dapat membuat usaha yang dirintisnya sejak tahun 2017 itu bisa terus berkembang sepanjang masa.

Sebelumnya, Ayu sempat bekerja di sebuah perusahaan multinasional, namun panggilan hati untuk jadi wirausaha begitu kuat. Ayu akhirnya memutuskan untuk menekuni usaha di bidang fesyen yang memang digemarinya.

“Saya ingin memiliki usaha yang dapat mengangkat budaya Indonesia sekaligus menjadi perantara rezeki bagi banyak orang. Akhirnya mantap memilih usaha di bidang fesyen dengan tenun ikat,” ucap Ayu.

Alumni D3 Komunikasi Universitas Indonesia ini memilih menggunakan wastra Nusantara sebagai motif andalan. Tak ingin terlihat kesan kuno, Ayu memberikan sentuhan modern di dalam setiap desain produknya. Kreasi produk fesyen etnik dengan wastra Nusantara dirancang ke dalam produk kemeja, celana, berbagai outer hingga gaun.

 

Keterbatasan

Ayu mengakui bahwa usaha ini dimulai dengan segala keterbatasan. “Ada banyak keterbatasan di awal usaha ini berdiri. Mulai dari keterbatasan modal, keterbatasan ilmu design, keterbatasan sumber daya penjahit dan pengrajin, serta keterbatasan restu orang tua,” ungkapnya.

Pasalnya, Ayu melepas pekerjaannya yang mapan demi mengejar impian menjadi seorang wirausaha. Dengan modal sekitar Rp 5 juta Ayu mulai memproduksi produk dan berjualan dari bazar ke bazar. Tekad yang kuat membuat Ayu tetap teguh untuk mengerjakan usaha ini. Kendati untuk itu dia harus mengalami banyak tantangan.

“Awal mulai merintis usaha, saya harus belajar tentang kain tenun, mengalami yang namanya kualitas jahitan kurang bagus, penjahit yang tidak tepat waktu, desain yang ditiru orang, hingga tidak ada penjualan sama sekali ketika pemeran. Semua tantangan ini membuat saya makin mencintai usaha ini,” ungkapnya.

Berkat tekad tersebut, Ayu berhasil mendapatkan kesempatan pameran di sebuah instansi pemerintah. Dari pengunjung pameran itulah Ayu mendapatkan database yang kemudian dikelola hingga mendapatkan pelanggan yang loyal. “Kuncinya adalah menjadikan customer sebagai partner, sehingga mereka tidak kecewa,” ujarnya.

Setelah mulai mendapatkan keuntungan, Ayu berhasil menjadikan itu sebagai modal untuk memperbesar kapasitas usaha sampai akhirnya punya stok yang cukup untuk membuka toko offline dan online. Produk Dakara Indonesia dijual mulai dari master dengan harga Rp 40 ribu hingga gaun seharga Rp 600 ribu.

“Produk Dakara Indonesia memiliki ciri khas. Salah satunya beberapa produk bisa digunakan dengan berbagai styling pemakaian. Di samping itu, pemilihan motif dan model yang unik menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli,” klaim Ayu.

Dakara memproduksi fesyen wanita maupun pria dengan bahan dasar kain tenun, khususnya tenun ikat. Fesyen yang diproduksi bervariasi mulai dari outwear, kimono, jacket, dress, gown, cullote, skirt, kemeja, dan lain sebagainya.

Meski merupakan pendatang baru, Ayu tidak khawatir dengan persaingan usaha. Dia yakin dengan selalu berinovasi, melihat peluang, serta memberikan solusi yang terbaik untuk customer akan membuat usahanya berkembang. “Saya terus belajar, berusaha selalu berinovasi dan memberikan yang terbaik. Yang terpenting ada kemauan yang dibarengi dengan usaha dan doa,” katanya.

Beberapa pameran yang pernah diikuti di antaranya Indonesia Fashion Week, Adiwastra Nusantara, Indonesia Modest Fashion Week, Wastra Nusantara, dan Indonesia Festival di Shanghai. Selain pameran, Dakara juga sering support berbagai ajang pemilihan seperti Putri Muslimah Indonesia, Abang dan None Jakarta Selatan, Abang dan Mpok Depok, Mojang Jajaka Bogor, Mojang Jajaka Jawa Barat, dan support paduan suara Indonesia yang mengikuti ajang perlombaan di Praha.

Saat ini Dakara Indonesia memiliki outlet di Bandara Soekarno Hatta dan Mall Kota Kasablanka (Kokas).

 

Fesyen yang diproduksi Dakara Indonesia bervariasi mulai dari outwear, kimono, jacket, dress, gown, cullote, skirt, kemeja, dan lain sebagainya (Foto: Istimewa/youngster.id)

 

Melebarkan Sayap

Sejak pandemi melanda, Ayu mengaku terpaksa menutup salah satu tokonya. Namun hal itu tidak membuat dia berkecil hati. Apalagi sekarang dia sudah melebarkan sayap ke bisnis online.

Ayu mengaku usahanya dapat bertahan berkat pertolongan platform belanja online Tokopedia. “Awalnya offline dari bazar ke bazar, titik baliknya itu pandemi siapa yang mau beli fesyen? Jadi inovasi ke e-commerce, dan alhamdulilah ternyata booming di Tokopedia,” ungkapnya.

Ayu mengklaim, metode pemasaran dengan cara online yang dilakukan selama ini dilakukan justru menambah jumlah para pekerja dengan memberdayakan ibu-ibu rumah susun. Khususnya mereka yang membutuhkan tambahan finansial.

“Ketika pandemi alhamdulillah Dakara tidak sampai mengurangi karyawan, malah menambah pekerja dengan memberdayakan ibu-ibu rumah susun. Khususnya mereka yang membutuhkan tambahan finansial,” ucapnya.

Ayu berharap dengan berbagai promosi dan dukungan pemerintah akan lebih banyak jumlah masyarakat Indonesia terutama di kalangan milenial tertarik menggunakan produk Indonesia. Apalagi Dakara mengusung produk wastra Nusantara berupa kain tenun.

Menurut Ayu, keragaman wastra harus terus dilestarikan karena merupakan ciri khas bangsa Indonesia. Untuk itu, Ayu mendesain agar produk Dakara dapat digunakan dalam berbagai kesempatan. Hasil desainnya juga lebih modern dan kekinian sehingga mampu menarik minat generasi muda untuk mengenakan produk ini.

“Kami berharap tetap terus berkreasi menggunakan wastra Nusantara sehingga Dakara Indonesia dapat lebih dikenal lagi oleh masyarakat luas. Dengan begitu perekonomian para pembuat kain tenun ini bisa terbantu dan lebih baik lagi nantinya,” pungkas Ayu.

 

===================

Ayu Purnamasari

Prestasi  :

– 10 UMKM Terbaik Jagoan Lokal Se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Kompas Group pada 2020 .

– Perwakilan Pemprov DKI Jakarta dalam acara Indonesia Festival di Shanghai pada 2019.

=====================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia

Exit mobile version