Difansa Rachmani : Jeli Membidik Ceruk Pasar Makanan Untuk Mereka Yang Berkebutuhan Khusus

Difansa Rachmani

Difansa Rachmani, Co-founder & Direktur Diet Special Needs (Foto: Dok. Pribadi)

youngster.id - Pandemi COVID-19 yang terjadi selama dua tahun dipastikan akan mengubah kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi makanan. Konsumen kini lebih mengutamakan aspek keamanan dan keselamatan saat memilih produk makanan dan minuman (F&B), baik saat makan di rumah maupun di luar. Namun kesadaran ini telah lama dimiliki oleh mereka yang memiliki kebutuhan khusus seperti anak autis.

Dalam laporan Google Year in Search 2021: Look Back to Move Your Marketing Forward yang menggambarkan perilaku masyarakat Indonesia berdasarkan data Google Trends, disebutkan terdapat peningkatan pada minat penelusuran makanan “rendah lemak” (69%), “gula diet” (35%), “rendah gula” (26%) dan “rendah kalori “(25%). Selain itu, laporan juga menunjukan konsumen semakin berminat untuk menjaga berat badan, tercermin dari pertumbuhan minat penelusuran “snack diet” sebesar 33%.

Orang-orang juga semakin tertarik dengan pilihan makanan yang bergizi, sehat, dan berkelanjutan. Ada pertumbuhan minat penelusuran yang melonjak hingga 233% untuk produk makanan “plant based”, lalu minat penelusuran untuk “makanan organik” juga tumbuh 55%. Konsumen juga ingin makanan instan yang sehat, penelusuran untuk merek mie instan sehat tumbuh 71%, lalu minat penelusuran “roti gandum” juga naik sebesar 36%.

Menariknya, kebutuhan pangan sehat ini sudah lama menjadi perhatian dari para orang tua yang memiliki anak autis. Pasalnya anak autis memerlukan pengaturan makan khusus, apalagi berada dalam situasi pandemi sekarang ini. Nutrisi yang dibutuhkan tidak hanya menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak, tapi juga untuk membentuk imunitas atau daya tahan tubuh agar anak terhindar dari penyakit.

Banyak alasan yang menyertai mengapa diet sehat untuk anak autis sangat dianjurkan. Dimana anak autis selain memiliki kecenderungan yang lebih tinggi terhadap alergi dan gangguan pencernaan, juga memiliki kekebalan tubuh yang berbeda. Hal inilah yang membuat diet sehat GFCF (gluten free casein free) menjadi salah satu terapi nutrisi yang dianjurkan. Selain berfungsi untuk memperbaiki pencernaan juga terbukti dapat mengurangi gejala autis dan sikap agresif anak pada umumnya.

Hal ini yang mendorong lahirnya usaha Diet Special Needs. Ini adalah bisnis yang menyediakan produk makanan bagi anak autis dan orang yang memiliki kebutuhan khusus seperti diabetes atau alergi.

“Usaha ini berawal dari kesulitan kami sebagai orang tua yang kesulitan dalam mencari makanan yang bisa dikonsumsi bagi anak kami yang autis. Karena selain ada banyak pantangan makanan juga mereka butuh diet khusus agar tidak salah makan yang bisa berakibat pada perubahan perilaku,” ungkap Difansa Rachmani, Pemilik Diet Special Needs dalam talkshow yang digelar Tokopedia baru-baru ini.

Ternyata apa yang dirasakan Difa dan suaminya Imam Santosa ini juga dirasakan oleh banyak orang tua dari anak berkebutuhan khusus. Pasalnya, penyintas autis tidak hanya membutuhkan terapi tetapi juga perlu menghindari aneka makanan dengan produk yang mengandung gluten, telur ataupun casein atau protein yang biasa terdapat dalam susu.

Menurut Difa, perasaan senasib itu didapatinya setelah mereka tergabung dalam komunitas orang tua anak berkebutuhan khusus. Di komunitas inilah mereka saling berbagi resep makanan yang bisa dikonsumsi.

“Dari sinilah tercetus ide untuk menjadikan ini sebagai usaha yang sekalian membantu orang-orang yang membutuhkan produk semacam ini namun susah mendapatkannya,” ucap Difa.

Akhirnya mereka mendirikan Diet Special Needs pada tahun 2017. “Kami ingin membantu banyak orang tua terutama yang memiliki anak berkebutuhan khusus mendapatkan akses makanan yang sesuai kebutuhan mereka,” kata Difa lagi.

 

Trial and Eror

Produk dari Diet Special Need benar-benar dibuat khusus. Difa mengungkapkan, oleh karena ini produk khusus maka proses produksinya juga terbilang unik.

“Kami melakukan proses trial and error untuk mendapat hasil produk yang sesuai. Kadang bisa sampai satu bulan, bahkan kadang tidak berhasil karena bahan baku dan kebutuhan dari pelanggan kami kurang sesuai,” ujarnya.

Menurut Difa, inspirasi resep untuk produk Diet Special Need didapat dari rekan-rekan di komunitas dan juga para ahli gizi yang menjadi konsultan mereka.

Sebagian besar produk Diet Special Needs tidak mengandung gluten, telur, bahkan tak ada satu pun produk yang mengandung casein atau protein yang biasanya terdapat dalam susu.

Produk Diet Special Needs juga tidak mengandung gula pasir, melainkan diganti dengan gula stevia, gula palem, dan gula aren. Selain itu, sebagian besar produk ini menggunakan bahan dasar tepung sagu yang baik bagi orang-orang yang sensitif terhadap gluten. Untuk hasilnya adalah kue dolar beras, dolar sagu, eggdrop sagu, eggroll sagu, emprit sagu, kue beras, sagon beras, kembang goyang, polo sagu, sevia sagu, dan stik pandan.

Ada juga cookies dengan gula aren dengan menggunakan bahan dasar tepung sagu dan yang lainnya menggunakan tepung beras. Cookies dengan gula aren ini di antaranya bangkit sagu jahe, kue sagu aren telur dan non telur, kue sagu kelapa aren, lidah kucing, sagon sagu, semprit beras telur dan non telur, semprong beras merah, sorghum chocochips, coconut cocoa, coconut original, coconut cinnamon, dan canna cookies.

Lalu ada Cookies yang menggunakan gula palem seperti gingeries diet cookies, palmkiss diet cookies, dan oatmonds diet cookies. Masing-masing disajikan dalam kemasan dengan ukuran berbeda, yakni 150 gram, 250 gram, dan 500 gram. “Kami bahkan menggunakan alat masak khusus yang terbuat dari steanless dan kaca,” ujar Difa.

Menurut Difa saat ini mereka memiliki 200 varian produk termasuk juga bumbu seperti kecap khusus non kedelai, kaldu dan produk mie.

“Kami menggunakan bahan baku lokal sehingga meski harnya lebih mahal dari produk yang umum tetapi masih lebih terjangkau dibanding produk impor,” ungkapnya.

 

Saat ini Diet Special Needs memiliki 200 varian produk termasuk juga bumbu seperti kecap khusus non kedelai, kaldu dan produk mie. (Foto: Dok. Diet Special Needs)

 

Pengembangan Usaha

Usaha yang telah berjalan lima tahun ini telah melayani pelanggan dari seluruh Indonesia. Apalagi sejak Diet Spesial Needs membuka toko di Tokopedia, permintaan mereka meningkat pesat. “Produk kami kini tak hanya dari kalangan terbatas tetapi telah menjangkau dari Aceh hingga Papua,” ujar Difa.

Tak hanya itu, bahan makanan Diet Special Needs diproses secara khusus tanpa terigu, gula pasir, susu dan turunannya, serta seafood dan bahan alergen lainnya ternyata juga cocok untuk mereka yang mengalami diabetes, hipertensi, autoimun, asam lambung, kanker, alzheimer, kulit sensitif atau alergi.

“Ternyata ada banyak orang yang kesulitan mencari makanan sehat, apalagi mereka yang punya pantangan khusus. Kehadiran kami sebagai pelaku usaha makanan sehat khusus ini sangat membantu mereka,” ucapnya.

Difa mengisahkan dia pernah mendapat permintaan cookies untuk seorang pasien diabetes. Hasilnya ternyata sangat memuaskan. “Pelanggan saya itu akhirnya bisa merasakan kembali kenikmatan cookies setelah sekian lama,” kisahnya.

Meski demikian, dalam pengembangan usaha, Difa mengaku mengalami banyak tantangan. Mulai dari banyaknya permintaan produk khusus dari pelanggan hingga masalah pendanaan.

“Untuk pengolahan makanan kami mendapat tantangan dari permintaan produk khusus dari pelanggan. Sayangnya, karena keterbatasan alat dan bahan maka tidak semua dapat kami realisasikan, karena usaha kami masih skala UMKM sementara untuk membuat produk tertentu butuh bahan baku dan peralatan khusus,” ungkap Difa.

Keterbatasan dana juga yang membuat mereka belum bisa membuka cabang yang lebih luas lagi. “Meski demikian kami terus berusaha agar usaha ini dapat terus berkembang. Sehingga kami dapat memberikan kesempatan yang sama bagi anak-anak berkebutuhan khusus dan masyarakat untuk mendapatkan opsi makanan yang sesuai kebutuhan,” pungkasnya.

 

====================

Difansa Rachmani

======================

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version