Ecky Anugrah : Kreatif Memasarkan Aksesoris Etnik Budaya Indonesia

Ecky Anugrah, founder & CEO Ammossi (Foto: Fahrul Anwar/Youngster.id)

youngster.id - Alam Indonesia menyediakan berbagai bahan yang indah untuk diolah menjadi berbagai kreasi. Mulai dari kulit kayu hingga bebatuan dapat dieksplor menjadi produk kriya yang unik. Selain terkesan etnik, produk ini juga menghadirkan kekayaan nilai budaya dan kearifan lokal negeri ini.

Nah, didorong kecintaannya pada alam Indonesia Ecky Anugrah pun mengembangkan usaha aksesoris bernama Ammossi. Berbeda dengan produk lain, Ammossi merupakan merek lokal yang khusus menyediakan aksesoris yang mengedepankan unsur alam dan budaya Indonesia.

Misalnya, produk aksesoris yang memadukan bahan-bahan premium seperti kulit asli, tenun Jepara, akar sulur hingga manik kayu sintetis. Belum lagi tas, dompet dan kain dengan nuansa etnik seperti dompet dan kain. Terkesan otentik dan beda dari aksesoris pada umumnya.

“Saya sudah lama jadi pecinta alam, jadi saya ingin punya usaha yang dapat mempertahan nilai budaya yang dimiliki negeri ini,” kata Ecky kepada Youngster.id belum lama ini di Jakarta.

Sebenarnya, awal pembuatan aksesoris etnik Ammossi ini bisa dibilang karena ketidaksengajaan. Si founder, Ecky, sering mengunjungi toko-toko yang menjual perlengkapan travel. Tapi ia tidak puas karena produk-produk travel ini terkesan monoton dan didominasi barang impor. “Dari situ saya kepikiran, itu orang-orang yang suka naik gunung dan backpacker-an kan suka pakai gelang. Kenapa nggak dibikinin gelang unik yang Indonesia banget?,” ujarnya.

Pria kelahiran Jakarta, 1 Mei 1992 ini juga mengaku, ingin dapat  mempertahankan nilai budaya dan kearifan lokal. Salah satunya dengan mengangkat benda-benda yang ada di alam menjadi produk yang dapat digunakan sehari-hari oleh masyarakat. Atas dasar inilah, ia pun akhirnya memberanikan diri memulai usaha sebagai jalan hidup yang dipilihnya.

Untuk itulah Ammossi lahir pada 2015 silam. Ecky mengatakan nama brand yang diambilnya itu berasal dari salah satu ritual adat dari masyarakat Bulu Kumba pembuat perahu Phinisi.

Baca juga :   Kris Samuel Dari Uttara Juara The Big Start Indonesia 2017

Pemilihan nama itu saya rasa memang sangat umum kalau dipakai kemana-mana. Dan tujuan saya ingin mengangkat kekuatan budaya yang dimiliki negeri ini. Jadi, Ammossi bermakna seperti kelahiran,” jelas Ecky.

Disebutkan Ecky, fokus awal ketika mengembangkan usaha itu adalah membuat gelang. Target pasar yang dibidiknya adalah para traveler dan backpacker. Dan, setelah itu men-support produk-produk untuk kegiatan traveling.

Produk pertama Ammossi adalah gelang Explore Mountain series. Nama-nama gelang mereka pun mengadopsi nama gunung di Indonesia, seperti Egon, Tinombala, dan Mekongga. Produk yang dikembangkan di Amossi umumnya berbahan dasar kulit.

“Karena saya sendiri ini hobi di outdoor, naik gunung. Saya suka mampir ke beberapa toko outdoor, ngeliat kayaknya kok belum ada aksesoris gelang kulit tapi yang memang mengarah ke ranah outdoor, budaya, dan alam Indonesia yang diangkat dalam satu produk aksesoris dalam gelang. Itu jarang terlihat. Orang-orang yang memakai gelang kulit rata-rata mereka memakai tali prusik atau tali rajut,” paparnya.

 

Motif dan Story

Bagi Ecky berwirausaha butuh keberanian dan juga tujuan. Sebelumnya, selama tujuh tahun dia bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta. Sampai akhirnya dia memberanikan diri untuk berwirausaha produk bernuansa etnik.

Sebenarnya, diakui Ecky, proyek Ammossi ini sudah dimulai jauh sebelum dia keluar dari pekerjaan, dan memutuskan resign pada tahun 2015. Sebelum memutuskan keluar, ia rajin menyisihkan sebagian gajinya untuk membeli bahan, misalnya benang atau kulit. Lalu, bahan-bahan yang dibeli secara menyicil itu dikumpulkannya. “Modal usaha ini, kurang dari Rp 1 juta,” tegas Ecky.

Di awal, produk yang dibuat Ecky dijual ke teman-temannya yang tergabung dalam forum pecinta alam. Namun sejak awal dia sudah membuat pembeda dengan memberikan packaging yang menarik. “Ammossi lahir dari keunikan etnik. Motif dan story-nya yang membedakan produk kami dengan produk lain di pasar para traveler dan backpacker. Dan belum ada yang konsen soal ini,” ujarnya.

Baca juga :   Duta Cilik Bawa Nama Indonesia di FIFA World Cup 2018

Konsep dan pengemasan yang unik memang menjadi andalan Ammossi. Misalnya, gelang produk Ammossi dikemas dalam kotak yang menarik sehingga terkesan ekslusif. Selain itu, Ecky juga mencoba mengombinasikan antara egon series yang dipadukan dengan tali paragon.

“Yang pertama kali keluar waktu itu adalah egon series, dimana tali kulit dipadukan dengan tali paracord dan pengen ngangkat nama-nama gunung yang jarang di-explore di Indonesia,” ungkapnya.

Dari segi pemasaran, Ecky juga melakukan pendekatan melalui media sosial. Ternyata tanggapannya cukup baik, sehingga usaha yang melibatkan istri dan dua orang karyawan ini mulai membuahkan hasil. Kini, tidak hanya memproduksi sendiri, Ammossi juga melibatkan 8 perajin lokal dari Sumatera hingga Nusa Tenggara Barat untuk menghasilkan karya yang authentic dan handmade. Mereka sangat menjaga kualitas dari setiap piece aksesorisnya, mulai dari gelang, dompet, tas, hingga kain etnik yang dikemas dalam bentuk ethnic in a jar.

“Jadi selain saya punya workshop sendiri untuk membuat gelang dan asesoris, saya juga memvendor ke Bandung untuk pembuatan produk. Kami sudah bekerjasama dengan delapan pengrajin lokal daerah. Nah, hasil dari pengrajin tadi kami rebranding untuk membantu memasarkan produk pengrajin tadi ke toko modern dan toko-toko outdoor dan offline store,” ungkapnya.

Saat ini, produk Ammossi sudah tersebar di 30 kota di Indonesia. “Produk kami ada di 88 toko yang tersebar di seluruh Indonesia. Kami juga bekerjasama dengan asosiasi toko outdoor seluruh Indonesia,” ujarnya.

Menurut Ecky, sekarang produksi Amossi mencapai 500 – 1000 pieces per bulan, dengan omzet sekitar Rp 40 juta. Dan, tak hanya gelang, kini ia mengembangkan usaha produk tas.

Menurut Ecky, Ammossi sangat peduli pada pelestarian nilai budaya Indonesia seperti tenun. Oleh karena itu, ia ingin membantu para perajin lokal agar bisa meningkatkan produk mereka ke pasar yang lebih modern dan lebih luas.

Baca juga :   Hendriyadi Bahtiar : Membantu Pendidikan Anak-Anak dan Memberdayakan Masyarakat Pesisir

“Kami terus berusaha untuk mengedukasi masyarakat bahwa setiap produk kami punya nilai story,” ujarnya.

 

Melalui Ammossi, Ecky Anugrah berbisnis aksesoris dengan menampilkan etnik dan budaya INdonesia (Foto: Fahrul Anwar/Youngster.id)

 

Tak Sendiri

Tidak hanya memproduksi sendiri, Ammossi juga melibatkan 8 perajin lokal dari Sumatera hingga Nusa Tenggara Barat untuk menghasilkan karya yang authentic dan handmade. Mereka sangat menjaga kualitas dari setiap piece aksesorisnya, mulai dari gelang, dompet, tas, hingga kain etnik yang dikemas dalam bentuk ethnic in a jar.

“Selain web dan media sosial, kami juga telah bekerjasa dengan pemerintah untuk memeperkenalkan produk Ammossi ke masyarakat. Salah satunya ke Kementrian Lingkungan Hidup, Jadi hal-hal seperti inilah yang sedang kami bangun, agar produk kami bisa lebih dekat dengan masyarakat,” imbuhnya.

Apa yang dikerjakan Ecky menjadi nilai lebih sehingga Ammossi terpilih menjadi juara kedua kompetisi wirausaha kreatif, The Big Start Indonesia 2017 yang digelar Blibli.com. Ia mendapat hadiah uang senilai Rp 300 juta, yang akan dipergunakan untuk mengembangkan usaha Ammossi.

“Lewat program ini saya merasa semakin lebih jauh mengenal Ammossi begitu dalam. Jadi bisa kenal produk, brand awareness sekaligus mengangkat brand Ammossi,” ujar Ecky, dengan raut muka sumringah. “Saya berusaha agar selalu kreatif. Ini sebagai filosofi saya ketika berusaha. Saya berharap teman-teman hebat disana bisa kolaborasi dengan Ammossi. Dalam usaha jangan pernah bergerak sendiri. Kolaborasi itu penting,” pungkasnya.

 

=======================================

Ecky Anugrah

  • Tempat Tanggal Lahir   : Jakarta 1 Mei 1992
  • Pendidikan                   : SMA 33 Cengkareng Jakarta Barat
  • Usaha                         : Ammossi
  • Mulai Usaha                 : 2015
  • Modal                         : sekitar Rp 1 juta
  • Omset                        : Rp 40 juta perbulan
  • Prestasi                      :  Juara II The Big Star Indonesia 2017

===================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia