Sashia, Presa, Jenda, & Kevin : Meraup Sukses Lewat Bisnis Kuliner Makanan Khas Hawaii

Pressa,Sashia, Jenda, dan Kevin, sepakat mengembangkan bisnis kuliner dengan menu utama menjual makanan khas Hawaii Poke Bowl (Foto: Fahrul Anwar/Youngsters.id)

YOUNGSTER.id - Kegandrungan orang Indonesia mencoba aneka kuliner membuka ceruk baru dalam bisnis ini. Berbagai jenis makanan dunia hadir di sini. Lalu, dengan sentuhan kreativitas dan sedikit modifikasi rasa yang disesuaikan dengan lidah orang Indonesia, maka pundi-pundi Rupiah pun cepat terkumpul.

Salah satu yang tengah hip adalah restoran yang menampilkan hidangan Poke Bowl. Poke (dibaca: ‘poh-kay’), yang berasal dari bahasa Hawaii, adalah hidangan tradisional yang berupa potongan ikan mentah dan topping.

Sebenarnya menu Poke Bowl ini mirip seperti kuliner Jepang. Oleh karena itu, Poke Bowl juga dikenal sebagai deconstructed sushi atau the next generation of sushi. Santapan berupa potongan ikan mentah yang disajikan bersama ikan dan beberapa bumbu Asia, seperti minyak wijen dan rumput laut.

Dalam wujud terbarunya, Poke beralih rupa menjadi Poke Bowl. Masih Poke, cuma ditambah nasi putih. Dalam satu mangkok Poke Bowl, ada ikan mentah yang dipotong kotak-kotak, nasi, dan diberi saus serta garnish yang bikin rasanya makin enak.

Kini, makanan khas dari Hawaii yang biasa dijadikan makanan pembuka atau menu hidangan utama ini kembali popular dan sampai ke Indonesia. Bahkan Poke Bowl menjadi makanan favorit kekinian bagi para anak muda milenial.

Peluang usaha kuliner Poke Bowl ini ditangkap oleh empat sekawan yakni Sashia Rosari, Presa Demiyasa, Jenda Badilangoe dan Kevin Rumantir. Mereka membuka Honu Poke Bowl & Matcha Bar di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

“Kami ingin membawa keunikan rasa Poke Bowl ke dalam kultur masyarakat urban di Jakarta,” ucap Sashia kepada Youngsters.id.

Di Honu Poke, semua bahan yang digunakan segar dan disajikan dalam bentuk potongan bersama nasi, siraman soy sauce dan beragam toping ala Asia lainnya yang disajikan dalam mangkuk. Menu yang paling populer di sini adalah Two & Two. Sajian ikannya ada salmon segar dan tuna sashimi. Kedua bahan utama tersebut dihidangkan bersama lettuce yang segar, tempura crunch, dan seasoning yang rasanya seperti perpaduan soy sauce dan chilli powder. Ikannya sama sekali tidak berbau amis. Bisa dibilang, makanan ini secara tidak langsung menggeser posisi salad sebagai fast-casual healthy food.

“Ide awal kami untuk mendirikan Honu Poke adalah menawarkan konsep makanan yang sehat. Jadi Honu Poke memang tak sekadar menghadirkan menu kuliner baru, tetapi lebih fokus pada konsep gaya hidup sehat,” klaim Sashia.

Konsep itu membuat Honu Poke dengan cepat memikat hati para pecinta menu fast casual. Dalam kurun waktu enam bulan restoran ini naik daun dan menjadi hip di berbagai media sosial.

 

Persahabatan dan Passion

Model bisnis restoran fast casual bisa dipandang sebagai usaha kuliner yang cepat balik modal.  Tak heran jika Sashia dan kawan-kawannya memilih bisnis ini.

“Bisnis F&B merupakan passion dari kami. Kebetulan Poke Bowl memang lagi happening di California dan kemudian di Bali. Dan kehadiran kami bisa dibilang yang pertama di Jakarta,” klaim Sashia.

Sejatinya, pada awalnya mereka memulai usaha kulinernya bukan menawarkan Poke Bowl, tapi konsep sandwich soft. Namun dengan berbagai pertimbangan, mereka menghentikan konsep itu dan beralih ke Poke Bowl. “Kami semua ingin menerapkan pola hidup sehat dalam bisnis ini,” kilahnya.

Gadis kelahiran Jakarta, 6 Mei 1988 ini mengaku pernah lama tinggal di Bali kemudian mendapati popularitas menu Poke Bowl di sana. Dari sinilah ide untuk bisnis ini lahir. Dia lalu berbagi ide ini dengan ketiga rekannya itu. Dengan modal kurang dari Rp 1 miliar mereka pun memutuskan untuk terjun ke bisnis kuliner fast casual ini.

Kendati begitu, disebutkan Presa Demiyasa, cukup lama bagi mereka dalam memutuskan untuk memasarkan Poke Bowl buatannya. Pasalnya, selama tiga bulan keempat pemilik resto ini harus melakukan food testing sebelum dilempar ke khalayak.

“Kami para owner, sudah merasakan Poke Bowl di beberapa negara, terutama di Hawai. Makanya cukup lama bagi kami ketika ingin melempar Poke Bowl buatan kami ini ke masyarakat Jakarta. Karena kami harus melakukan food testing dan mencoba memodifikasinya dengan rasa yang cocok dengan lidah orang Indonesia. Makanya koki atau chef yang kami hadirkan di sini memang chef yang handal dalam masalah memasak, khususnya dalam membuat Poke Bowl ini,” papar pria kelahiran Jakarta, 8 Desember 1986.

Itu dibenarkan oleh Sashia. “Makanya, dari beberapa poke yang ada di berbagai negara, di sini kami coba adaptasikan sedikit dengan kesukaan orang-orang lokal,” imbuhnya.

Menariknya, mereka sempat kurang yakin dengan bisnis ini. Bahkan sempat memutuskan untuk menjajal pasar lewat penjualan online. Namun naluri bisnis yang mereka miliki rupanya lebih mendorong membuka restoran.

“Secara bisnis kalau sesuatu yang baru ini lebih baik disediakan tempat agar para penikmat kuliner bisa mengetahui dengan mudah. Tadinya kami mau buka secara online aja dan nggak sebesar ini. Akhirnya, kami berani setelah kelihatan produknya, lalu kami buka. Boleh dibilang kehadiran kami di sini sebagai toko Poke Bowl pertama di Jakarta,” sahut Jenda Badilangoe.

Ternyata, keputusan mereka untuk membuka resto Honu Poke Bowl & Matcha Bar cukup tepat. Sejak beroperasi pada Februari 2017 Honu Poke langsung meraih perhatian, terutama di ranah digital. Selain itu, para tamu atau pelanggan Honu Poke yang datang langsung ke resto ini sekaligus menjadi pendukung bisnis ini.

“Pada saat mereka makan, mereka sering selfie dilokasi hingga foto makanan. Secara nggak langsung, apa yang dilakukan pelanggan itu sudah sangat membantu kami dalam hal promosi. Tanpa diminta mereka memajang foto makanan Poke Bowl ini melalui media sosial pribadi mereka. Secara langsung hal itu dapat sangat cepat menyebar luas ke sesama rekannya yang memang penikmat kuliner,” jelas Jenda.

 

Gerai Honu Poke Bowl & Matcha Bar yang berlokasi di kawasan Kemang, Jakarta Selatan (Foto: Fahrul Anwar/Youngsters.id)

 

Promosi lewat berbagai media sosial seperti Instagram dan Twitter mempercepat popularitas bisnis ini. Alhasil Sashia dan rekan-rekannya bisa meraih omzet 7.000 box pesanan setiap bulan untuk menu yang dihargai sekitar Rp 65 ribu per pesanan. Tentu saja, omzet itu belum termasuk pengunjung yang datang langsung dan makan di resto Honu Poke ini.

Sayangnya, ketiganya enggan menggungkap lebih jauh mengeai jumlah pengunjung yang datang dan makan di resto Honu Poke setiap harinya. “Yang jelas, kami sangat happy kehadiran kami bisa diketahui oleh banyak orang dengan cepat dan diterima masyarakat,” ujar Sashia.

 

Meski cukup sukses dalam rentang waktu singkat, Sashia dkk tidak ingin buru-buru membuka cabang (Foto: Fahrul Anwar/Youngsters.id)

 

Persaingan Sehat

Bisnis kuliner memang memiliki tantangan tersendiri. Selain dituntut kreativitas dalam hal penampilan dan menu, juga peta persaingannya yang ketat. Hal itu disadari oleh para pemilik Honu Poke. “Soal persaingan kami tak merasa khawatir. Justru akan lebih menyenangkan jika ada persaingan. Sebab kami memiliki sesuatu yang beda. Apa yang kami tawarkan di sini ingin mengajak masyarakat untuk lebih memilih makanan sehat dan balence meal. Itu juga yang kami ingin kampanyekan melalui Honu Poke ini,” ucap Jenda, yang merupakan lulusan Macquane University, Sydney.

Oleh karena itu, dalam hal pemilihan menu, mereka mengincar para pecinta kuliner sehat. “Menu yang terdapat di Honu Poke memang sengaja dihadirkan sebagai makanan sehari-hari. Jadi ketika ada pelanggan yang datang hari ini, besoknya mereka juga bisa kembali lagi,” ungkap Pressa.

Selain itu, dalam pemilihan bahan baku mereka menggunakan bahan baku lokal yang organik. Tentunya, selain sehat, juga ikut mengangkat perekonomian lokal. “Dengan demikian kami bisa memberikan sajian yang terbaik dari bahan lokal,” ujar Sashia.

Selain itu, mereka juga menerapkan manajemen kekeluargaan. “Intinya kami ingin kebahagiaan itu juga dirasakan sama 10 orang karyawan kami yang sudah bekerja sepenuh hati buat Honu Resto. Makanya kami seperti keluarga, sehingga mereka tetap bertanggung jawab dengan pekerjaannya,” jelas Jenda.

Meski mampu menuai sukses, toh Sashia dan rekan-rekannya tidak ingin terburu-buru mengembangkan bisnis ini dengan memperluas atau membuka cabang di lokasi yang berbeda.

“Kalau rencana ingin buka di tempat lain memang ada, seperti di daerah lain atau di negara sekitar Asia Tenggara. Cuma kami harus lihat dulu benar-benar lokasinya, sudah tepat kah target pasar di sana. Karena hal itu perlu dipertimbangkan juga. Banyak juga kok yang siap ingin frenchise sama kami. Tapi untuk saat ini, kami ingin fokus dulu dengan apa yang sedang kami lakukan sekarang ini. Terutama membesarkan brand awarness,” kata Sashia.

 

========================================

Sashia Rosari, Presa Demiyasa, Jenda Badilangoe & Kevin  Rumantir

  • Nama Usaha           : Honu Poke Bowl & Matcha Bar
  • Mulai Usaha           : Februari 2017
  • Modal                     : Kurang dari Rp. 1 Milyar
  • Omset perbulan     : Rata-rata 7000 box pesanan setiap bulan (@Rp 65.000/box)
  • Jumlah Karyawan : 10 orang

=========================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia