Shenia Ananda : Bangun Bisnis Fesyen Dari Kepepet

Shenia Ananda - Founder & CEO Batik Gauri (Foto: Stevy Widia/youngster.id)

youngster.id - Kreativitas kerap timbul dari kondisi yang tidak menyenangkan. Bahkan situasi “kepepet” ini ternyata bisa melahirkan sosok wirausahawan. Mereka menjadikan langkah untuk mulai berbisnis sebagai obat mujarab untuk mengentaskan kemiskinan, mengurangi pengangguran dan meningkatkan perekonomian.

The power of kepepet” terbukti telah membawa sejumlah orang meraih sukses. Contoh, William Tanuwijaya yang memulai Tokopedia karena terjepit keadaan ekonomi. Menurut dia, dengan kepepet orang dipaksa untuk memikirkan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi. Kepepet rupanya memiliki energi positif untuk maju.

Hal ini juga yang terjadi pada Shenia Ananda, pemilik usaha Batik Gauri yang tengah hits di kalangan pecinta fashion batik modern milenial. Tak ada yang menduga, kalau usaha yang berdiri sejak 2015 ini dimulai dari keadaan yang tidak menyenangkan.

“Saya harus mengaku kalau Gauri ini lahir dari kepepet. Saya waktu itu kehilangan pekerjaan dan harus jadi pengangguran. Satu-satunya jalan adalah menjadi pengusaha, meski kecil-kecilan,” ungkap perempuan yang akrab disapa Nia itu kepada youngster.id.

Nia menceritakan, sebelumnya dia pernah bekerja di sebuah perusahaan swasta, tetapi karena ingin meningkatkan karier dia melamar di perusahaan lain dan keterima. Karena sudah yakin keterima, maka Nia pun memutuskan untuk keluar dari perusahaan tempat dia telah bekerja selama tiga tahun. “Ternyata harapan saya hilang, karena saya tidak jadi diterima di perusahaan baru tersebut,” ujarnya sambil tersenyum kecut.

Perempuan kelahiran Jakarta, 14 September 1987 ini mengaku sempat terpukul dengan peristiwa itu. Apalagi setelah dia mencoba melamar ke berbagai tempat tidak ada satupun yang berhasil. Rasa kecewa, sekaligus terjepit keadaan membuat Nia mencari cara agar bisa memiliki penghasilan.

“Saya waktu itu sudah menikah namun belum punya anak. Jadi saya merasa sangat jenuh tidak memiliki aktivitas. Selain itu, secara ekonomi saya tidak mau menjadi beban suami. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk jadi pengusaha saja,” ungkapnya.

Dengan meminjam modal dari suami, Nia memutuskan terjun ke bisnis online fesyen. Hal itu karena dia memang memiliki passion terhadap dunia mode. “Saya memang tidak memiliki latar belakang di bidang fesyen namun saya punya selera akan busana. Saya senang mengamati perkembangan fesyen. Karena itu saya merasa cocok dengan bisnis ini,” ucapnya.

Baca juga :   Inilah 9 Tips Cara Seru & Murah Untuk Traveling

Dengan mengandalkan imajinasi, dan sedikit ilmu manajemen bisnis yang ditimbanya selama bekerja, Nia pun memulai memberanikan diri membuka usaha sendiri. “Saya yakin manusia diberi akal oleh Allah SWT untuk sanggup melalui ujian yang dihadapi. Dan saya pun menggunakan seluruh akal dan upaya saya menjadi pengusaha dan bisa lolos dari keadaan kepepet itu,” ungkap Nia penuh semangat.

 

Gagal Berkali Kali

Dunia wirausaha memang keras dan berat, dia akan menyita waktu, tenaga dan perhatian. Dan, itu juga yang dialami Nia. Dia awalnya mulai berbisnis dengan menjual outer yang ketika itu tengah tren. Namun produk yang dibelinya dari Tanahabang ternyata tidak laku. Bahkan Nia sempat dimarahi orang tuanya karena dianggap membuang-buang uang saja.

Namun halangan itu tidak membuat Nia menyerah. “Saya punya target untuk maju. Dan itu butuh kerja keras dan usaha,” ujarnya.

Nia kemudian beralih berjualan tas impor. Bisnis ini sempat berjalan lancer. Tetapi kemudian Nia merasa bisnis ini tidak berkembang. “Saya ingin punya brand sendiri. Dan, itu ternyata sangat sulit, butuh modal yang besar. Di sisi lain saya juga ingin meng-create sesuatu, ada value dari yang saya buat,” ungkapnya dengan penuh penekanan.

Toh, pada akhirnya, usaha tas impor pun mesti tutup. Tak mengherankan, Nia sempat ditegur sang suami. “Dia bilang saya jangan kebanyakan mau. Tetapi gimana ya, tidak cocok di hati,” ujarnya sambil tertawa.

Pada tahun 2015 Nia memutuskan untuk memulai bisnis batik. Dia melihat potensi bisnis ini sangat besar. Apalagi batik telah menjadi bagian dari tren fesyen dalam negeri. Dan seperti cita-cita sebelumnya, dia ingin punya brand batik sendiri.

Menariknya alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia ini tidak memiliki latar belakang fashion design. Nia mengaku hanya punya imajinasi. “Saya tidak bisa menggambar desain seperti perancang busana lain. Tapi saya punya banyak imajinasi dan rancangan di kepala saya. Saya juga kebetulan punya rekanan tukang jahit yang bisa menerjemahkan isi kepala saya,” ungkap Nia.

Baca juga :   Zaenal Abidin : Program SEA Dompet Dhuafa Untuk Pemberdayaan Kewirausahaan Masyarakat

Dia membuat kreasi busana yang memadupadankan beragam motif batik, termasuk memadukan dengan tenun. Dengan begitu, busana yang ditampilkan terkesan berbeda dan unik. Dengan modal Rp 5 juta hasil tabungan dari usaha sebelumnya, digunakannya untuk belanja bahan kain yang dijadikannya menjadi 6 model busana. Baju tersebut lalu dipasarkan melalui media sosial Instagram dengan brand Gauri.

Ternyata tanggapan dari netizen cukup positif. Pasalnya, Gauri menawarkan busana batik yang memadupadankan berbagai motif berbahan batik cap dalam satu model. Pola puzzle ini memang tengah diminati, terutama oleh anak-anak muda yang ingin tampil modern meski berbusana kain tradisional. Selain itu, Nia juga menetapkan harga tidak terlalu mahal, antara Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu. “Saya menyasar market yang ada diantara kelas A dan B,” ujarnya.

Dengan keunikan yang ditawarkan, Batik Gauri dengan cepat menarik perhatian dari netizen. Produksi pun terus meningkat, sehingga kini Nia telah mempekerjakan tiga orang penjahit. Nia mengaku lewat usaha ini dia mampu meraih omzet hingga Rp 100 juta setiap bulan. “Saya bersyukur apa yang saya targetkan mulai bisa tercapai,” ujarnya.

 

Shenia Ananda kini sukses berjualan batik memanfaatkan media sosial Instagram. Katanya, tidak ada yang tidak mungkin kalau kita mau berusaha dan bekerja keras (Foto: Stevy Widia/youngster.id)

 

Terus Belajar

Menurut Nia, sejauh ini ia hanya memasarkan produk Gauri Batik lewat media sosial Instagram. Alasannya, terutama karena keterbatasan produksi. “Saya waktu awal itu hanya mampu memproduksi satu macam produk, sehingga kalau di toko fisik apa yang mau dipajang. Sebaliknya kalau di toko online, dengan satu produk saja kita sudah bisa langsung mulai jualan. Di saat ada order baru diproduksi lagi,” katanya.

Ada hal menarik yang dilakukan Nia untuk bisa menarik perhatian netizen. Dia tidak membeli follower tetapi dia rajin mengikuti para netizen yang kerap berbelanja di toko online. “Dari 10 orang yang saya follow pasti ada satu yang followback saya. Dari sana saya mulai dapat pelanggan baru yang kemudian menjadi customer setia,” akunya.

Seiring berjalan waktu, ibu satu putra ini juga terus belajar untuk “mempercantik” tokonya. Dia belajar teknik fotografi sehingga produk busananya terlihat menarik meski pemotretan dibuat di ruang tamu rumahnya. Karena Nia mengaku sebagai pengusaha yang mengandalkan toko online, update foto itu penting. “Karena foto yang menarik dan terus baru membuat customer betah menjelajah dalam toko. Walaupun kemudian mereka memilih model yang lama. Tapi itu tidak masalah, yang penting tampilan toko selalu baru. Itu yang membedakan dengan toko fisik yang juga buka tiap hari,” jelasnya.

Baca juga :   Teknologi Informasi Harus Persempit Kesenjangan

Dia juga terus mengembangkan produksi dengan mengeluarkan tiga produk baru setiap minggu. Meski demikian Nia tidak pernah menyimpan stok. “Saya tidak punya gudang penyimpanan yang luas. Jadi setiap bulan saya pasti gelar sale dengan harga modal. Dengan begitu saya bisa terus produksi yang baru,” ungkapnya.

Rencananya, Nia juga akan membangun website Gauri, sehingga toko onlinenya dapat berkembang. Apalagi pembeli produk ini datang dari seluruh daerah di Indonesia.

Di awal tahun 2018, Nia  juga punya produk tas batik dan akseori berbahan batik. “Saya bekerjasama dengan teman yang baru mulai usaha. Mereka produksi dengan menggunakan label Gauri Batik dengan sistem bagi hasil. Dengan begitu, saya juga turut membantu orang lain,” katanya.

Berkat the power of kepepet, kini Nia telah menjadi wirausahawan. Jatuh bangun dia jalani dengan tekad dan upaya yang keras. Toh, reward yang dijanjikan juga sepadan, yaitu kebebasan aktualisasi diri dan peningkatan finansial.

“Saya belajar bahwa tidak ada yang tidak mungkin kalau kita mau berusaha dan bekerja keras. Karena jadi wirausahawan dengan passion itu tidak akan pernah ada habisnya,” pungkasnya.

 

===================================

Shenia Ananda

  • Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 14 September 1987
  • Pendidikan Terakhir    : S1 Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia
  • Nama Brand              : Batik Gauri
  • Produk                      : Busana ready to wear, tas batik dan aksesori batik
  • Mulai Usaha              : 2015
  • Karyawan                 : 3 orang
  • Modal Awal               : Rp 5 juta
  • Omzet                      : rata-rata Rp 100 juta/bulan

==================================

 

STEVY WIDIA