Stefanie Kurniadi: Arsitek Yang Sukses Berbisnis Kuliner

Stefanie Kurniadi, Cofounder & Vice Marketing Director CRP Group. (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

youngster.id - Makanan adalah kebutuhan dasar manusia. Namun sekarang orang tak sekadar mencari makanan, mereka juga butuh suasana, dan fasilitas tambahan yang mendukung kegiatan makan. Tak heran jika gerai makanan pun harus bisa tampil semenarik mungkin dan mengikuti gaya kekinian.

Belakangan ini ada banyak gerai makan di sejumlah kota yang membuat tempat makan berkonsep restoran namun dengan harga terjangkau. Sebutlah Nasi Goreng Rempah Mafia, Warunk Upnormal, Bakso Boedjangan, atau Sambal Khas Karmila, yang sedang nge-hits di sejumlah wilayah di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi hingga Bandung. Ternyata, gerai-gerai resto tersebut berada di bawah satu bendera, PT Citarasa Prima Indonesia Berjaya (CRP Group), perusahaan kuliner yang digawangi sejumlah anak muda asal Bandung.

Salah satu para founder CRP Group adalah Stefanie Kurniadi yang menjabat sebagai Deputy dan Director Marketing CRP Group. Sejatinya, manis ini bercita-cita menjadi arsitek. Namun keinginan untuk hidup mandiri malah membawanya menekuni bisnis kuliner.

“Awalnya, aku membangun bisnis di bidang kuliner ini karena kesulitan ekonomi. Saat itu orang tua merasa kesulitan membiayai kuliah aku. Dari situ, aku berpikir dan mencoba memutar otak bagaimana caranya aku bisa membantu mencari jalan keluar dari kesulitan itu. Artinya, biaya pendidikan kuliah tak lagi harus meminta sama orang tua. Idenya adalah jualan nasi goring, dan itu menjadi usaha pertama dengan brand Nasi Goreng Mafia,” papar Stefanie kepada youngster.id.

Kenapa kuliner yang dipilih? Karena gadis kelahiran Bandung, 11 Juni 1985 ini memang gemar berwisata kuliner. Usaha jualan nasi goreng itu dimulai pada Oktober tahun 2013. Usaha itu merupakan hasil kerja bareng Stefanie dan keenam sahabtanya, yaitu Angga Nugraha, Rex Marindo, Danis Puntoadi, Pujiana Nurul Hikmah, Budiardi Supasentana, dan Sarita Sutedja.  “Kami buat bisnis bersama. Karena punya ketertarikan berbeda, maka tugas dibagi. Saya arsitek buat desain set tempat baru, ada teman saya yang latar belakang keuangan jadi bagian financial marketing,” ujarnya.

Menurut Stefanie, mereka bertujuh adalah teman yang sering nongkrong bareng dan sama-sama penggemar kuliner. Salah satu alasan yang menguatkan untuk memilih nasi goreng adalah menu nasi goreng ada di urutan kedua sebagai menu paling enak di dunia menurut website CNN.

Baca juga :   Startup Indonesia Bawa Pengalaman Berharga Dari Google Launchpad Accelerator

Namun mereka tak mau asal membuat rumah makan nasi goreng seperti umumnya. Setelah berdiskusi lagi diputuskan bahwa mereka akan menonjolkan citarasa rempah dalam nasi goreng mereka. Seperti diketahui, Indonesia adalah negeri yang kaya rempah-rempah. Berbagai eksperimen mereka lakukan untuk menemukan citarasa paling pas dari nasi goreng tersebut. Akhirnya, pada 1 Oktober 2013 resmi berdiri cabang pertama Nasgor Mafia di Jalan Dipati Ukur, Bandung.

Ternyata dari kios sempit itu usaha ini berkembang. Gerai Nasgor Mafia dibuka di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Surabaya, hingga Pekanbaru. Gerai mereka meningkat menjadi puluhan kios. Stefanie mengaku sempat kaget karena melihat pertumbuhan dan perkembangan bisnis ini. Oleh karena itu, dia dan kawan-kawan pun berani melangkah mengembangkan bisnis ini ke tahap berikutnya.

“Ternyata setelah kami melihat bisnis model di food ini bagus, mungkin kompetensinya bagus dan cocok untuk ngegarap bisnis ini lebih jauh. Akhirnya di tahun kedua 2014 kami memunculkan brand baru yaitu Warunk Upnormal,” ungkap Stefanie.

Tak berhenti di situ, pada Januari 2015 mereka meluncurkan Bakso Boedjangan, dan pada bulan Oktober ditahun yang sama mereka mendirikan hadir Sambal Karmila.

Sebagai hasil kerja keras dan inovasi, selain direspon positif pasar, gerai resto yang dibesut Stafanie dan kawan-kawannya itu juga meraih sejumlah penghargaan. Di antaranya The Most Favorite Merchant 2016 oleh Go-Jek dan Creative & Innovative Culinary dari Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Bandung.

 

Komitmen Sepaham

Toh seperti usaha lainnya, membangun bisnis kuliner juga tentunya tak selalu mulus dan lancar. Komplen pelanggan juga kerap dialami grup bisnis anak muda ini. Tetapi, menurut Stefanie, mereka tetap menganggap sebagai masukan positif untuk membangun.

Komplen yang sering datang adalah soal rasa yang kadang berbeda dari satu cabang dengan cabang lain. Juga, menyangkut layanan yang berbeda antara satu cabang dengan cabang yang lain. Untuk mengatasi masalah tersebut, manajemen CRP Group rutin mengadakan pelatihan untuk proses standardisasi rasa makanan dan pelayanan kepada pelanggan.

“Kami sekarang ini rutin mengadakan pelatihan kepada para karyawan agar pelayanan dan citarasa yang dinikmati pelanggan bisa sama. Sejak pelatihan rutin ini dijalankan komplen dari pelanggan sudah berkurang,” klaim Stefanie.

Dia mengaku tertantang untuk dapat meningkatkan standarisasi di semua gerai. “Tantangannya bagaimana supaya brand kami punya standar seperti brand-brand internasional. Sehingga bisa deliver food safety-lah buat konsumen kami,” imbuhnya.

Baca juga :   Facebook-YCAB Kembali Adakan Literasi Digital

Di sisi lain, tantangan datang dari dalam. Maklum, bisnis ini dibangun oleh 7 orang yang berbeda, dan ini diakui Stefanie bukan hal yang mudah. Dia menyadari pemikiran yang tak sepaham jadi hambatan membangun bisnis secara kolektif. Bahkan, Stefanie menegaskan, bisnis kolektif akan sulit berlanjut jika perselisihan sudah mengerucut pada masalah uang. Tak sedikit masalah perselisihan uang berbuntut pada pecah kongsi yang terkadang membuat bisnisnya tak berlanjut.

“Apapun yang terjadi jangan sampai ribut karena masalah uang. Kalau sudah bisnis harus komitmen bersama. Bahwa tak boleh ribut soal uang, karena apapun buat kebaikan kita bersama,” ungkap Stefanie.

Kuncinya, kata dia, yakni sepakat dengan komitmen yang dibuat saat memulai bisnisnya. “Sebetulnya kalau mau berhasil, semua orang yang terlibat harus komitmen membuat bisnis dengan menyepakati hal-hal yang sudah disepakati bersama,” ujar Stefanie.

Oleh karena itu, mereka menyepakati bisnis dengan modal awal sebesar Rp 150 juta ini dalam bentuk kemitraan. Menurut Setefanie, bisnis model yang ia terapkan juga bukanlah hal yang baru dalam dunia bisnis. Dengan sistem kemitraan atau waralaba akan memudahkan bisnis ini berkembang.

Dengan dana investasi Rp 2,5 – 5 miliar, mitra waralaba Warunk Upnormal dapat balik modal dalam dua hingga tiga tahun. Dari total gerai yang beroperasi saat ini, sekitar 70% merupakan milik mitra usaha, sedangkan sisanya milik CRP Group.

 

Stefanie Kurniadi ingin agar produknya menjadi brand kebanggaan Indonesia (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

 

Terus Belajar

Kepiawaian CRP Group menyukseskan merek-merek restonya merupakan salah satu alasan mengapa Kemenpar menggandengnya sebagai mitra di program co-branding “Wonderful Indonesia”. Melalui sinergi keduanya, diharapkan CRP Group dapat mengampanyekan “Wonderful Indonesia”, antara lain lewat jejaring resto yang dimiliki CRP Group.

Meski demikian, Stefanie mengaku dia dan kawan-kawan terus belajar dalam memperluas dan mengembangkan bisnis kuliner ini.

“Sebenarnya kalau background S1 aku sebagai arsitek nggak nyambung dengan bisnis ini. Untung terimplementasi juga karena besar desain yang kami punya nggak menggunakan agency dari luar. Aku mencoba menyajikan desain yang memang mengakomodir kebutuhan anak-anak zaman milenial. Jadi sedikit terpakai ilmu desainnya. Lalu S2 aku mengambil strategic management di Universitas Parahyangan Bandung, dan itu banyak terpakainya,” ucap Stefanie sambil tertawa.

Baca juga :   Rahasia Sukses Berbisnis di Usia Muda dari Stefanie Kurniadi

Stefanie menyadari bahwa bisnis kuliner memiliki persaingan yang sangat ketat. Oleh karena itu, dia menegaskan bahwa pihaknya mesti terus melakukan pembaruan atau inovasi. “Kadang persaingan merupakan tekanan tersendiri. Tapi kami mencoba untuk terus fokus dengan tujuan kami sendiri. Misalnya tahun lalu pencapaiannya apa. Jadi tahun ini lebih baik lagi dan tahun depan juga demikian. Nah salah satunya kami juga harus memberikan apa yang konsumen inginkan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, menurut Stefanie, pihaknya punya tim marketing yang bertugas untuk memantau keinginan konsumen dan apa yang sedang tren di anak-anak milenial. “Karena anak-anak milenial ini early doctor-nya kami. Jadi kami berusaha untuk pantau terus perubahannya, dan kami terus untuk mengakomodir itu,” lanjut dia.

Menurut Stefanie, untuk rencana selanjtnya CRP Group berencana akan membuka satu brand baru, yakni Pie Pull Cheeze yang akan dibuka di Bandung dan Jakarta. Mereka juga berencana untuk melakukan ekspansi ke luar negeri. Pasalnya, diakui Stefanie, salah satu yang menjadi tujuan dia berbisnis adalah agar produknya menjadi brand kebanggaan Indonesia.

“Saya ingin melihat ketika orang datang ke New York, Amerika Serikat, brand kita ada di sana, dan banyak orang bisa melihatnya. Saya ingin membawa CRP Grup bisa sampai ke sana dan brand-brand yang saya bawa ini bisa bertahan dalam jangka waktu lama,” pungkasnya.

 

====================================

Stefanie Kurniadi

  • Tempat Tanggal Lahir : Bandung, 11 Juni 1985
  • Pendidikan Terakhir    : S2 Fakultas Ekonomi, Strategic Menejemen UNPAR Bandung
  • Mulai Usaha               : 2013
  • Nama Usaha              : PT Citarasa Prima Indonesia Berjaya (CRP Group), yang menaungi bisnis resto Nasi Goreng Rempah Mafia, Warunk Upnormal, Bakso Boedjangan, Sambal Khas Karmila, dan Pie Pull Cheeze
  • Modal Awal                : sekitar Rp 150 juta
  • Jumlah Karyawan       : 1.800  (di warunk upnormal)

Prestasi :

  • Accelarating Entreprenur – Ernest & Young 2016,
  • Top Ten Internasional Young Creative – British Consul 2017

=======================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia