Yasa P. Singgih: Berani Memulai Bisnis Sejak Muda

Yasa Paramita Singgih, Presiden Mens Republic (Foto: Dok. Pribadi/Youngsters.id)

youngster.id - Forbes mengeluarkan daftar 30 anak muda di Asia yang berusia di bawah 30 tahun yang mampu memberi warna lain di bisnis e-commerce dan ritel. Menariknya, pengusaha termuda yang masuk daftar ini adalah Yasa Paramita Singgih. Anak muda Indonesia berusia 21 tahun ini merupakan pendiri clothing line Men’s Republic.

Tak ada kata terlalu muda untuk sukses. Melalui Men’s Republic anak muda ini mampu membukukan pendapatan hingga ratusan juta rupiah setiap bulannya. Jiwa entrepreneur ini telah dimulai sejak usia muda. Kuncinya adalah berani. ”Uang bukanlah modal yang utama. Banyak yang salah kaprah bahwa bisnis harus dimulai kalau sudah punya uang,” ungkap Yasa kepada Youngsters.id.

Menurut pemuda kelahiran Bekasi, 23 April 1995 keberanian untuk terjun ke dunia bisnis itu yang menjadi modal seorang entrepreneur. Termauk harus siap dengan segala resikonya, jika bisnis gagal. “Pengusaha itu bukan menghindari risiko kegagalan, tapi berusaha untuk terus-menerus menghadapi kegagalan. Di situlah karakter pengusaha itu teruji,” ujar Yasa.

Dia tak sekadar berkata kosong. Yasa telah membuktikan dengan membangun usaha ketika masih berusia 15 tahun. Jatuh bangun dia rasakan, namun dengan belajar sambil bekerja dia berhasil melewati dan terus mengembangkan diri.

Keputusan Yasa untuk mencari penghasilan sendiri terjadi secara tidak sengaja. Peristiwa jatuh sakitnya sang ayah, Marga Singgih, yang membutuhkan banyak biaya membuat jiwa wirausaha Yasa tergerak. Dia tak tega melihat sang ibu Wanty Sumarta, terbebani untuk mengurus Yasa dan kedua kakaknya Virya dan Prajna.

“Kala itu saya tergerak untuk mencari uang sendiri. Saya berpikir mungkin dengan tidak meminta uang jajan kepada mereka, dan menjadi anak yang mandiri sudah dapat membantu meringankan beban keuangan orang tua,” kenangnya.

Ketika itu, Yasa pun diam-diam memutuskan untuk mencari pekerjaan demi meringankan beban ekonomi orang tuanya. Rupanya berkat penampilannya yang luwes serta tekadnya melamar membuat Yasa langsung mendapatkan pekerjaan menjadi master of ceremony (MC) di sebuah pusat perbelanjaan. Padahal ketika itu dia masih duduk di bangku SMP.

Pemuda berpembawaan santai dan humoris itu mengaku dia tak punya modal ilmu apapun untuk tampil sebagai MC. Tapi peluang itu dia kejar. “Karena terpaksa ya jadi bisa, dan malah terbiasa,” ujarnya sambil tertawa. Alhasil dalam seminggu ia menerima Rp 350 ribu setiap tampil. Sebuah nilai yang cukup berarti bagi remaja di usia itu.

Hal itulah yang kemudian membangkitkan jiwa Yasa untuk terjun ke bisnis dagang. “Awalnya saya tidak pernah terpikir untuk menjadi pengusaha karena latar belakang keluarga bukanlah keluarga pengusaha. Latar belakang keluarga saya berasal dari keluarga menengah, tidak susah dan tidak juga kaya,” ungkapnya.

Baca juga :   Endry dan Arif : Rela Tinggalkan Pekerjaan Demi Wirausaha

Namun yang paling memotivasi Yasa adalah keinginannya untuk sukses dan membanggakan orang tua di usia muda. “Saya ingi menjadi anak muda yang berprestasi dan mampu memberikan yang terbaik selagi orang tua saya masih ada,” tegasnya.

 

Pelajaran Awal

Setelah membaca buku the Power of Kepepet karya Jaya Setiabudi, Yasa makin serius menekuni dunia bisnis. Usaha dagang pertamanya adalah berjualan lampu hias secara online. Namun usaha ini hanya berumur pendek dan akhirnya gagal. Menurut Yasa, hal itu terjadi karena pemasok tidak memberikan barang lagi kepadanya tanpa alasan. Selain itu, Yasa sedang fokus untuk menyelesaikan sekolah.

Kegagalan usaha itu menjadi pelajaran awal bagi Yasa untuk terus maju. Setelah lulus SMP, dia kembali berdagang. Dengan modal Rp 4 juta dari tabungannya hasil MC, Yasa memutuskan untuk kembali berdagang. Kali ini dia memilih berjualan kaos secara online.

Sesugguhnya modal Yasa sangatlah terbatas. Untuk mengatasi keterbatasan itu ia mencoba membangun relasi dengan para pedagang di Tanah Abang. Ternyata kemampuannya berkomunikasi dan sikapnya yang menarik membuat Yasa berhasil meraih kepercayaan dari sejumlah pedagang. Bahkan Yasa boleh meminjam barang di beberapa toko untuk dapat dijual secara online, dan jika sudah terjual barulah dia menyetorkan pembayaran.

Sikap jujur itu diakui Yasa menjadi kunci kesuksesannya berbisnis hingga kini. “Kejujuran, sopan santun dan ramah serta rendah hati adalah kunci awal sukses. Lalu punya motivasi untuk berjuang, punya tujuan hidup yang jelas serta misi yang mulia.Dan punya strategi untuk mencapai tujuan itu,” ungkap Yasa. Dengan memiliki hal itu, dia meyakini langkah untuk menjadi pengusaha sukses sudah dimulai.

Yasa awalnya menyasar teman-teman sekolahnya sebagai pembeli kaosnya. Ternyata selera pemilihan produknya tepat sasaran. Apalagi kemudian dia memasarkaan produk secara online melalui BlackBerry Messanger (BBM). Selera pemilihan produk yang menarik serta kejujuran membuat bisnis penjualan kaos itu berjalan lancar. Sistem itu ternyata berhasil. Dalam satu bulan dia bisa langsung balik modal dan bisa membayar barang dari pinjaman para pedagang.

“Saya memilih bisnis ini karena ada hasil yang jelas. Berbekal pengalaman saya menjual baju dari produk orang lain, dan ternyata respon pasar bagus. Kemudian, saya berpikir, kenapa tidak membuat produk dan brand sendiri saja? Saya pernah menjalani dan tahu hasilnya. Saya juga berpikir, bisnis fashion itu tidak ada matinya. Tinggal kita berpikir bagaimana mengembangkan agar bertahan,” papar Yasa.

Baca juga :   Prancis Hadirkan L’Academie, Sekolah Coding Gratis di Indonesia

Hanya dalam 1,5 tahun Yasa sudah berani membuat produk sendiri dengan merek Men’s Republic.

Namun Yasa mengakui tidak selalu usahnya berjalan lancar. Usia muda menjadi kendala tersendiri, terutama dalam hal perizinan. Apalagi Yasa waktu itu belum punya KTP, sehingga untuk usaha dia meminjam KTP dan nomor rekening orangtua. Begitu juga ketika dia mendaftarkan merek dan hak kekayaan intelektual dengan nama orang tua. Namun itu tidak menghadang langkahnya untuk maju.

Di sisi lain meski masih muda, Yasa berhasil menerapkan kemampuannya berkomunikasi untuk bisa menjalin rekanan dengan para pengusaha lain yang umumnya berusia lebih tua darinya. “Bahkan, banyak yang mengira saya sudah berkeluarga dan punya anak gara-gara pembawaan saya itu,” ujarnya sambil tertawa.

Tak lama setelah usaha penjualan kaos itu berhasil, Yasa bisa mengumpulkan modal yang cukup untuk membuka kedai minuman kopi bernama “Ini Teh Kopi” di tahun 2012. Bisnis kafe ini berkembang cepat, bahkan dalam enam bulan ia sudah membuka cabang baru. Tetapi ternyata tak lama kemudian Yasa malah merugi hingga ratusan juta rupiah. Akibatnya tak hanya usaha kafe yang tutup, penjualan kaos pun terseret bangkrut.

Masalah ini terbilang berat bagi anak berusia 18 tahun, kala itu. Kegagalan itu sempat membuat Yasa berhenti dan fokus menghadapi ujian akhir SMA. “Saya sadar ternyata kesalahan saya saat itu karena tidak fokus pada satu bisnis,” akunya.

Yasa P. Singgih, pendiri dan presiden Mens Republic (Foto: Dok. Pribadi)
Yasa P. Singgih, pendiri dan presiden Mens Republic (Foto: Dok. Pribadi)

Belajar Terus

Bisnis ini telah mengubah hidup Yasa. “Ketika anak muda lain sedang santai, saya berpikir bagaimana caranya saya berlari lebih dulu dari mereka. Kemudian, ketika mereka mulai berlari, mungkin saya sudah sampai di garis finis. Jadi semakin cepat juga saya mencapai kesuksesan itu,” ungkapnya.

Dia juga tak berhenti untuk terus belajar dan mencari strategi terbaik dalam pengembangan bisnis. Karena itu, lulus dari SMA Regina Pacis Jakarta, Yasa bangkit dan berbisnis lagi. Kali ini ia memutuskan untuk serius mengelola Men’s Republik dengan fokus pada satu produk yakni sepatu berbahan kulit sintetis. “Orang bilang, emangnya sepatu ini bakal laku Yas? Saya jawab. Nggak tahu, makanya saya coba,” ucapnya.

Lagi-lagi hanya bermodal kepercayaan dan relasi dengan para pedagang sepatu, Yasa bisa mendapatkan “pinjaman” 250 pasang sepatu. Yasa bercerita, waktu itu dia diberi tenggat dua bulan untuk mengembalikan hasil penjualan sepatu itu. Waktu yang terbilang singkat untuk pebisnis pemula. “Saya berani saja memulai,” ujarnya.

Baca juga :   Kyle dan Kane, Tak Takut Berbisnis Di Usia Remaja

Kepercayaan diri ditambah pengalamannya berjualan online membuat Yasa yakin usahanya akan berhasil. Ia kembali memanfaatkan media sesial untuk memasarkan produknya, Men’s Republic. Ia juga menetapkan strategi untuk memasuki segmen pasar produk khusus pria muda dengan kualitas premium.

“Nama Men’s Republic tercipta katena dari awal saya hanya menyediakan produk-produk khusus pria,” ucapnya.

Langkah dan strategi yang tepat membuahkan hasil positif. Meski tak memiliki pabrik Yasa mampu menghasilkan omzet ratusan juta rupiah dengan penjualan mencapai 500 pasang sepatu setiap bulan. Dari usaha tersebut ia mampu mendapatkan laba bersih 40% dengan omzet mencapai ratusan juta rupiah. Keberhasilan itu membuat merek yang ia kelola pun mendapat rekanan produk yang beragam, termasuk jaket, dan produk celana dalam untuk pria.

Yasa berharap Men’s Republic dapat menjadi perusahaan consumer goods paling besar di Indonesia serta dapat go public. Di masa mendatang, Yasa ingin terus mengembangkan usahanya sebagai brand fashion pria terlengkap. Ia juga tengah mengembangkan bisnis di bidang properti dan konsultasi manajemen bisnis bernama MS Consulting.

Bisnis ini telah membuat Yasa mandiri secara keuangan. Bahkan, dia dapat membiayai sendiri pendidikannya di Universitas Bina Nusantara. Selain itu, dia kini sering memberikan sharing seputar bisnis, motivasi dan pengembangan diri bagi para entrepreneur muda. Termasuk menulis buku Never Too Young (2015) untuk memotivasi generasi seusianya berwirausaha.

“Semua bisnis dapat berkembang berdasarkan kualitas pemiliknya. Bagaimana menjaga networking yang baik, ramah dengan orang lain. Kita juga butuh alasan berjuang di bisnis tersebut. Dan tentu strategi bisnis dalam pengambilan resiko,” jelasnya.

Meski telah sukses Yasa mengaku dirinya tidak pernah berhenti belajar. Bahkan, ia telah menghabiskan uang puluhan juta rupiah untuk mengikuti seminar, training dan workshop pengembangan diri dan bisnis.

“Orang yang berhenti belajar akan berhenti berkembang, otomatis akan berhenti menghasilkan,” pungkas Yasa.

 

========================================

Yasa Paramita Singgih

  • Tempat Tanggal Lahir : Bekasi, 23 April 1995
  • Pendidikan : Marketing Communication Universitas Bina Nusantara
  • Jabatan : Presiden Men’s Republic
  • Perusahaan : PT.Paramita Singgih, Brand Men’s Republic

Prestasi : Juara 1 Wirausaha Muda Mandiri

Bisnis : Penjualan mencapai 500 pasang sepatu setiap bulan. Laba bersih 40% dengan omzet mencapai ratusan juta rupiah.

==========================================

 

ANGGIE ADJIE SAPUTRA

Editor : Stevy Widia