Adi Reza Nugroho : Ide Liarnya Lahirkan Produk Bahan Bangunan Dari Jamur

Adi Reza Nugroho, Co-founder & CEO Mycotech (Foto: Fahrul Anwar/Youngster.id)

YOUNGSTER.id - Belakangan ini kreatifitas dari anak muda semakin tak terbatas. Berkat tangan dingin mereka, berbagai produk hadir untuk mempermudah kehidupan. Bahkan, sejumlah anak muda mampu membuat produk inovasi dari benda-benda yang tidak terpakai. Beberapa dimulai dari ketidaksengajaan.

Jika Anda pernah melihat budidaya tanaman jamur tiram, pasti kerap melihat sekam padi, serabut kelapa dan kulit kacang tanah. Ketika jamur dipanen, media tanam itu berakhir menjadi limbah. Namun di tangan sejumlah anak muda alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Padjajaran (Unpad) limbah organik ini diolah menjadi produk materi bahan bangunan, furnitur dan interior. Kini, produk itu dipasarkan dengan merek dagang Mycotech.

Produk ini lahir dari tangan anak-anak muda yang punya ide liar untuk membuat produk yang ramah lingkungan.

“Jadi pengembangan material ini dimulai pada akhir tahun 2013, dimana kami melihat banyaknya limbah pertanian dari media tanam jamur tiram yang menumpuk dan tidak termanfaatkan. Walaupun limbah pertanian ini cenderung tidak berbahaya untuk lingkungan karena berasal dari sumber organik, namun kami merasa limbah ini memiliki potensi yang belum dimanfaatkan sepenuhnya. Ide baru dan liar bermunculan untuk memanfaatkan limbah pertanian yang menumpuk, dari pembuatan produk hasil fermentasi ethanol sampai ide untuk membuat material bangunan dari limbah pertanian dengan bantuan jamur. Ide terakhir tersebut akhirnya dipilih walau terdengar tidak masuk akal dan banyak dari anggota tim yang pesimis pada awalnya,” ungkap Adi Reza Nugroho, co-Founder dan CEO Mycotech kepada Youngster.id belum lama ini.

Ide itu adalah membuat produk bahan bagunan berbahan limbah organik dan jamur. Ternyata mereka berhasil membuat prototype material bagunan, kuat, memiliki bobot ringan, tahan api dan tentu ramah lingkungan. Produk ini bisa disesuaikan dengan panel dan genteng elegan untuk perabotan, cabinetry dan interior lainnya.

“Kami namakan produk ini ‘Mycotech’ yang berarti teknologi yang terinspirasi oleh jamur. Saat ini telah memiliki 1 paten yang terdaftar di Indonesia,” lanjut dia.

Tak berhenti sampai di sana, Mycotech ini akhirnya diseriusi menjadi bisnis jangka panjang. Menurut Adi, sejak September tahun 2015, di bahwa payung PT Miko Batera Nusantara, Mycotech menjadi start-up yang berfokus pada pengembangan desain interior dengan menciptakan bahan desain ramah lingkungan dari jamur.

Adi yakin Mycotech bisa diterima di pasaran Indonesia. ”Kami sudah mengenalkan Mycotech sejak 2014. Awal mula diperkenalkan melalui video di sosial media, tak disangka saat itu video kami viral hingga mencapai jutaan penonton di seluruh Dunia. Itu membuat kami menjadi semangat untuk membuat produk kami agar lebih cepat dapat diterima masyarakat dunia,” kata Adi.

Tak hanya itu, atas inovasi dalam mengatasi 120 juta ton limbah pertanian yang diproduksi di Indonesia, DBS Foundation memberikan dana usaha kepada Mycotech pada tahun 2016.

Baca juga :   Facebook Tawarkan Solusi Konektivitas di Indonesia

“Produk Mycotech dapat memberikan kemungkinan baru dalam membuat rumah yang semakin berkelanjutan, dan aman bagi kesehatan. Dulu untuk produk komposit untuk bangunan dan furnitur sangat beracun karena adanya perekat kimia yang karsinogenik. Adapun solusi lain untuk tidak menggunakan perekat kimia masih sangat mahal. Teknologi Mycotech membuat kemungkinan baru yang lebih murah dan dapat diaplikasikan secara cepat,” ungkap Adi.

 

Tim Mycotech sedang melakukan fermentasi jamur (Foto: Fahrul Anwar/Youngster.id)

 

Lima Sekawan

Adi mengungkapkan, awalnya produk Mycotech terjadi tidak sengaja. Inovasi ini bermula di tahun 2013, ketika Adi beserta Annisa Wibi, Robbi Zidna Ilman, Arekha Bentang dan Ronaldiaz Hartantyo menemukan fenomena jamur yang dapat memperkuat media tanamnya (baglog). Namun, karena temuan tersebut bukan tujuan utama riset mereka, maka hal itu tidak mereka publikasikan.

Sarjana Arsitektur ITB ini mengaku selepas kuliah memutuskan untuk membuka berbagai usaha. “Saya beberapa kali mencoba usaha lain, hingga empat jenis usaha pernah dilalui. Dari jadi tukang foto dan video keliling hingga jualan sayur setiap akhir pekan pernah dilakukan,” kisah Adi sambil tersenyum.

Keputusan itu sempat kurang disetujui orang tua. “Maklum di keluarga kami tidak ada budaya menjadikan pengusaha sebagai karir utama. Namun setelah beberapa tahun menunjukan saya bisa bertahan dan memberikan prestasi dengan berbisnis, akhirnya orang tua mengizinkan,” ujar Adi.

Sampai akhirnya Adi dan teman-temannya memutuskan untuk mencoba usaha budidaya jamur. “Inspirasi mendirikan usaha ini awalnya karena salah satu orang tua dari teman kami memiliki pertanian jamur yang terbengkalai. Dari sana kami melihat ada peluang untuk memulai usaha jamur. Namun tak disangka, kini pertanian jamur yang terbengkalai tersebut menjadi salah satu pusat pengembangan teknologi jamur sebagai material bangunan yang mutakhir di dunia,” papar Adi bangga.

Menurut pria kelahiran Malang, 17 Maret 1989 ini proses pengembangan teknologi jamur itu terinspirasi dari fermentasi tempe yakni mengendapkan campuran limbah organik dan dibiarkan berkembang begitu saja dalam media. Dari proses fermentasi tersebut akan muncul serat-serat yang saling mengikat sehingga membuat material menyatu.

Selama enam bulan riset yang dilakukan dengan dana yang terbatas dan tidak menggunakan dana hibah ini mereka awali dengan proses mengisolasi bibit jamur. Proses ini ternyata sangat sulit, kegagalan sering mereka temui untuk bisa mendapatkan produk yang diharapkan.

“Sudah kita uji coba, satu bata jamur bisa menahan tekanan setara sepuluh mobil, namun 300 kali lebih fleksibel dari baja,” kata Adi dengan yakin. Semenjak itu, mereka memutuskan untuk serius mengembangkan Mycotech.

Adi mengaku, usaha ini butuh modal yang tidak sedikit. Awalnya ia dan dan kawan-kawan hanya bermodal bootstrapping. “Ketika itu modal usahanya sebesar Rp 50 juta, yang diperoleh patungan dari uang para co-founder. Namun dana yang telah digunakan untuk membuat teknologi ini mencapai TRL 6 (sudah ada prototipe yang diberhasil diaplikasikan), yaitu sebesar US$ 160.000,” bebernya.

Baca juga :   Pengiriman Stiker Line Capai 12,7 Miliar

Di awal tahun 2014, riset mereka menarik perhatian Dr. Hardaning Pranamuda, dari Laboraturium Bio Industri Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Alhasil mereka mendapat Rp 1,3 miliar dari dana Riset Produktif LPDP kategori Advance Material agar riset Mycotech bisa naik kelas ke komersialisasi.

Selain itu, Mycotech ikut dalam kompetisi wirausaha seperti program Wirausaha Muda Mandiri. Termasuk berkesempatan menjadi salah satu peserta pelatihan untuk wirausaha sosial Indonesia dalam kegiatan DBS Social Entrepreneurship (SE) Boot Camp. Mereka pun mendapat dana dari keikutsertaan itu.

 

Salah satu produk bahan bangun berbahan limbah dan jamur yang dikembangkan Mycotech (Foto: Fahrul Anwar/Youngster.id)

 

Balik Modal

Saat ini, kata Adi, produksi Mycotech masih skala rumahan dan dipasarkan melalui sistem pre-order.

“Kesulitan besar kami yaitu dalam pengembangan produk. Ekosistem untuk menciptakan inovasi dari riset ke skala komersial sangat tidak mendukung di Indonesia. Dari fasilitas yang terbatas, dana pengembangan yang rendah, minimnya investor di bidang material maju hingga pemahaman dan proteksi Intelectual Property yang rendah sangat menghambat kecepatan kami untuk membuat teknologi ini siap dipasarkan. Untuk mengatasi hal tersebut, kami bekerja sama dengan beberapa institusi, organisasi, dan individu dari luar Indonesia untuk melakukan percepatan inovasi,” ungkapnya.

Menurut Adi, dalam sebulan mereka baru memproduksi 20 meter persegi. Padahal, target awal produksi 3.000 meter persegi sebulan dengan harga Rp 500.000 per meter persegi.

Menurut Adi, agar bisa meningkatkan produksi, pihaknya mesti memutar otak kembali. Antara lain dengan melakukan promosi produk agar dapat lebih dikenal masyarakat.

“Saat ini kami memiliki produk panel komposit dengan perekat miselia jamur bernama BIOBO. Kami berkerja sama dengan Future Cities Laboratory (FCL) Singapura, dan ETH Zurich untuk mengembangkan panel bio-komposit ramah lingkungan untuk menggantikan particle board yang beracun akibat penggunaan bahan kimia resin sebagai perekat. Kolaborasi dengan FCL membuahkan prototipe untuk memasang material ini sebagai aplikasi panel akustik di Rumah Tambah di Batam. Adapun hasil kolaborasi dengan ETH, yaitu membuat building block dari bio komposit ini sebagai struktur bangunan rendah (satu lantai) di Pameran Seoul Biennale 2018,” ungkap Adi.

Diakui Adi, bukan perkara mudah dalam mengembangkan bisnis Mycotech ini. Butuh perjuangan dan kerja keras. Tetapi, ia sangat bersyukur bisa menemukan mitra usaha yang sangat solid. “Meski jatuh bangun selama enam tahun terakhir, kami masih semangat untuk menjalankan bisnis ini. Saya selalu berpegang pada filosofi yang membuat saya tetap semangat, yakni persistence never lie,” ucap Adi. “Modal baru balik di tahun 2017, dan sekarang omset kami kurang lebih Rp 100 juta per bulan, “ tambahnya bangga.

Baca juga :   Kegiatan Belanja Online Terpopuler 2017

Pria pengemar fotografi ini mengatakan, sebagai pengusaha ia tak selalu mengejar keuntungan dalam bentuk material semata. Akan tetapi, terus meningkatkan hasil produk terbaik dan memberi banyak manfaat bagi lingkungan sekitar.

“Awalnya yang membuat saya terinspirasi adalah untuk menjadi kaya raya. Ternyata hal itu tidaklah mudah. Yang menjadi bahan bakar utama kami menjalani usaha, meski ketika susah, adalah kepuasan bahwa produk kami dipakai oleh orang, dan selama proses  bisnisnya banyak dampak sosial dan lingkungan yang dihasilkan, “ ungkapnya.

Dijelaskan Adi, dalam satu meter persegi, Mycotech membutuhkan 16,5 kilogram limbah pertanian. Limbah tersebut dibeli dari petani. Ini berarti Mycotech juga turut memberikan tambahan penghasilan hingga 50% bagi petani. Apalagi setiap tahun, Indonesia memproduksi 120 ribu ton limbah pertanian.

Bahkan, produksi Mycotech dapat dilakukan di berbagai pulau. Bahan tergantung limbah pertanian. “Misal di Papua, sulit bahan bangunan, mereka bisa produksi sendiri. Nanti bisa develop material.  Jadi, memotong biaya dan karbon Indonesia dibandingkan harus mengirim bahan bangunan dari jauh. Dibanding membangun infrastrukrur, kita mesti menambang dan merusak pengelolaan air,” ungkapnya.

Dengan semakin dikenalnya produk Mycotech oleh khalayak, Adi berencana untuk memasarkan produknya itu ke mancanegara sebagai pengembangan usaha yang akan dilakukan ke depannya.

“Saat ini kami mencoba untuk fokus di penjualan ekspor, mengingat banyaknya permintaan dari luar Indonesia. Saat ini kami sudah memiliki subsidiary company di UK untuk perluasan bisnis di UK dan Uni Eropa. Kami melihat permintaan yang banyak dari daerah sana dan regulasi penggunaan material ramah lingkungan yang membuat produk kita dapat diterima di sana,” pungkasnya.

 

======================================

Adi Reza Nugroho

  • Tempat Tanggal Lahir : Malang, 17 Maret 1989
  • Pendidikan Terakhir    : S1 Arsitektur ITB
  • Mulai Usaha               : 2014
  • Nama Perusahaan      : PT Miko Bahtera Nusantara
  • Nama Brand              : Mycotech
  • Modal Awal                : Rp 50 juta
  • Omset perbulan         : Rp 100 juta

Prestasi :

  • DBS Foundation Social Enterprise Grant Award 2016
  • 1st runner up Shell Top Ten World Innovations 2016
  • Let’s Go Trade Award Shell LiveWire 2015
  • 2nd Winning Mandiri Young Technopreneur 2014
  • 3rd Winning GIST Global Innovation Through Science and Technology
  • Top 50 Young Entrepreneur BNI Mitra Kampus BNI Bank & ITB 2013

=======================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia