Logtan, Aplikasi Digital Pertanian dari Telkom

Presiden RI Joko Widodo memperhatikan penjelasan demo aplikasi Logistik Tani (LOGTAN) dari Direktur Utama Telkom Alex J. Sinaga (kedua dari kanan) saat Peresmian Kewirausahaan Pertanian dan Digitalisasi Sistem Pertanian di Sliyeg Kabupaten Indramayu Jawa Barat. (Foto: istimewa/youngster.id)

youngster.id - Untuk memajukan para petani, PT Telkom Indonesia memperkenalkan aplikasi digital pertanian yang disebut Logistik Tani (Logtan). Dengan aplikasi itu, para petani diklaim bisa mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR), Asuransi Usaha Tani Padi, penyerapan beras, serta pembelian sarana produksi pertanian, seperti bibit, pupuk, dan lainnya.

“Dengan Logtan, dapat dilakukan pendataan petani, lahan, dan aktivitas pertanian lainnya yang dapat digunakan dalam pemrosesan layanan pertanian,” kata David Bangun Direktur Digital & Strategic Portfolio Telkom, dalam keterangannya, Rabu (11/7/2018) di Jakarta.

Menurut David, keberadaan Logtan untuk memastikan keterpaduan, validitas, dan akurasi berbagai data pertanian dalam digitalisasi pertanian. Hal ini terjadi lantaran informasi yang ada di Logtan sudah divalidasi langsung ke lapangan dan dilengkapi dengan dokumen pendukung. Seperti foto petani, foto lahan, dokumen KTP, dan dokumen Kartu Keluarga.

Kini petugas Telkom tengah mendatangi para petani untuk mengumpulkan data tersebut. Segera setelah data di aplikasi itu lengkap, para petani tinggal melakukan pengajuan via ponsel. “Saat ini lebih banyak dibantu petugasnya. Mereka mendatangi petani untuk membantu petani yang berminat mengajukannya,” ujarnya.

Baca juga :   Telkom Hackathon 2018, Lomba Aplikasi Bisnis Digital

David juga menegaskan digitalisasi pertanian, bukan hanya ditunjang aplikasi Logtan. Keberadaan Mitra BUMDes Bersama pun cukup strategis dalam mewujudkan kesejahteraan petani. Sebab, Mitra BUMDes bertugas membangun Sentra Pengolahan Beras Terpadu (SPBT) yang memiliki mesin pengering dan penggiling gabah untuk digunakan para petani, sehingga petani dapat menjual hasil panennya dalam bentuk beras.

Bahkan digitalisasi sistem pertanian akan membuat pengelolaan bisnis yang modern dalam kewirausahaan pertanian, termasuk pemanfaatan perangkat ERP (Enterprise Resource Planning) dan POS (Point of Sales) oleh petani.

“Dengan skala penyerapan yang memadai, Mitra BUMDes dapat melakukan akses pasar dan memberikan harga yang lebih menguntungkan bagi petani. Terlebih, keuntungan penjualan langsung dirasakan petani,” ujarnya.

Layanan itu akan diuji coba di sembilan kabupaten di Jawa Barat, yaitu Indramayu, Karawang, Purwakarta, Majalengka, Sumedang, Cianjur, Garut, Ciamis, dan Tasikmalaya.

 

STEVY WIDIA