youngster.id - White Paper yang diluncurkan Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) bersama Mandala Consulting mengungkap masih besarnya kesenjangan akses kredit formal di Indonesia. Studi tersebut menemukan sekitar 30% penduduk dewasa Indonesia masih financially excluded dan 48% tergolong underbanked.
Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto, mengatakan stagnasi akses kredit terjadi di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan masyarakat.
“White paper ini menegaskan bahwa perluasan akses kredit di Indonesia tidak dapat bergantung pada satu kanal pembiayaan saja. Kolaborasi yang bertanggung jawab antara perbankan dan pindar menjadi kunci penting untuk menjangkau segmen masyarakat yang selama ini belum terlayani secara optimal,” kata Firlie dalam peluncuran White Paper di Jakarta, dikutip Jum’at (13/2/2026).
Studi tersebut juga mencatat rasio kredit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih berada di kisaran 36,4% pada periode 2024–2025, jauh di bawah rata-rata negara berpendapatan menengah atas yang mencapai 74,46% maupun negara berpendapatan menengah bawah sebesar 62,72%, berdasarkan data World Bank.
CEO Mandala Consulting, Manggala Putra Santosa, menyebut rendahnya rasio kredit dipengaruhi ketatnya persyaratan kredit formal serta masih luasnya segmen masyarakat produktif yang belum terjangkau lembaga keuangan konvensional.
“Ini bukan semata persoalan kemampuan ekonomi, tetapi keterbatasan sistem penilaian risiko konvensional yang belum sepenuhnya dirancang untuk membaca profil masyarakat produktif di sektor nonformal,” ujar Manggala.
Pindar Tumbuh 34% per Tahun
Hasil studi menunjukkan terjadi pergeseran kanal pembiayaan. Meski perbankan masih menjadi penyedia kredit terbesar, platform pinjaman daring (pindar) menjadi sektor dengan pertumbuhan tercepat, yakni sekitar 34% per tahun sepanjang 2019–2024.
Menurut Manggala, pertumbuhan tersebut didorong oleh kemampuan pindar dalam memanfaatkan teknologi digital dan data alternatif untuk credit scoring.
“Indonesia memiliki potensi ekonomi yang besar, tetapi pembiayaan formal belum sepenuhnya mengalir. Tantangan utamanya ada pada kepercayaan, data, dan dokumentasi. Di sinilah pindar memiliki fleksibilitas dan kecepatan untuk merangkul segmen yang belum terlayani,” katanya.
Studi juga menemukan peran perbankan sebagai penyedia likuiditas utama industri pindar terus meningkat. Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan pendanaan bank ke pindar naik dari Rp4,5 triliun pada 2021 menjadi Rp46,1 triliun pada 2024.
Kepala Departemen P2P Lending AFTECH sekaligus Direktur Utama Easycash, Nucky Poedjiardjo, mengatakan kolaborasi ini menuntut kesiapan tata kelola industri fintech.
“Platform pindar yang kredibel sudah memiliki kesiapan untuk mengimbangi standar perbankan. Beberapa bank internasional di Indonesia bahkan aktif bekerja sama dengan pindar. Ini menunjukkan industri pindar kita sudah dipercaya oleh perbankan,” ujar Nucky.
Temuan lain menunjukkan pindar berfungsi sebagai pintu masuk ke sistem keuangan formal. Studi Cambridge Centre for Alternative Finance (2022) yang dikutip dalam White Paper mencatat lebih dari 50% peminjam pindar meningkatkan penggunaan rekening tabungan, dan lebih dari 35% mengajukan pinjaman bank setelah melunasi pinjaman pindar.
Survei Mandala Consulting juga menunjukkan hampir 50% responden mengakses kredit bank setelah menyelesaikan kewajiban di platform pindar.
Nucky menilai sinergi bank dan pindar dapat menutup kesenjangan akses kredit nasional.
“Pindar bisa menjadi ruang awal membangun rekam jejak kredit sebelum masuk ke sistem perbankan. Jika tata kelola terus diperkuat, sinergi ini bisa menjadi batu loncatan menuju inklusi keuangan yang lebih merata dan ekonomi yang lebih tangguh,” tutup Nucky.
STEVY WIDIA


















Discussion about this post