Serangan Siber Meningkat, Kolaborasi Tingkat Sektoral Jadi Hal Penting

serangan siber

ki-ka: Presiden Direktur ITSEC Asia Patrick Dannacher, Deputi IV BSSN Slamet Aji Pamungkas, Ketua Umum ADIGSI Firlie Ganinduto dan Eko Prasudi Widianto Direktur ITSEC Asia. (Foto: stevywidia/youngster.id)

youngster.id - Ekonomi digital menjadi salah satu pemacu pertumbuhan ekonomi nasional. Namun di sisi lain, adanya pihak-pihak yang justru memanfaatkan ekonomi digital dari sisi negatif. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat sekitar 3,64 miliar serangan siber selama periode Januari hingga Juli 2025 atau rata-rata terjadi sembilan serangan setiap detiknya.

Kondisi ini mendorong PT ITSEC Asia Tbk, perusahaan keamanan siber terkemuka di Indonesia, menggandeng Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia (ADIGSI) meluncurkan Gerakan Nasional Ketahanan Siber.

Presiden Direktur ITSEC Asia Patrick Dannacher mengatakan, inisiatif ini merupakan program nasional yang bertujuan memperkuat ketahanan siber Indonesia melalui pengembangan sumber daya manusia (SDM), kepemimpinan, dan kolaborasi ekosistem.

“Melalui program ini, kami membangun jalur nasional terstruktur yang menghubungkan kesiapan operasional sehari-hari dengan pengambilan keputusan di tingkat eksekutif, sehingga keamanan siber menjadi bagian tak terpisahkan dari kepemimpinan organisasi,” katanya pada media gathering Rabu (14/1/2026) di Jakarta.

Menurut Patrick pesatnya kemajuan teknologi, termasuk kehadiran artificial intelligence (AI) tidak akan bisa dihindari. Tetapi semua pihak baik industri, pemerintah dan masyarakat, harus mempersiapkan diri untuk bisa melakukan tindakan pencegahan terhadap serangan siber.

“Ketahanan siber saat ini bukan lagi sekadar tantangan teknologi, melainkan masalah kepemimpinan dan tata kelola,” ujar Patrick.

Sementara itu, Ketua Umum ADIGSI Firlie Ganinduto menambahkan, berdasarkan data Indeks Keamanan Siber Nasional (NCSI) terakhir, Indonesia menempati peringkat ke-49 di dunia dengan skor indeks sekitar 63,64 dari 100.

“Kita tentu berharap agar kesadaran penguatan kesiapan keamanan siber tidak hanya di tingkat teknis, tetapi juga di tingkat pimpinan. Ini demi mendukung ekosistem digital yang lebih tangguh dan berkelanjutan di Indonesia,” ucapnya.

Pentingnya sinergi lintas sektor juga ditekankan oleh Slamet Aji Pamungkas, Deputi IV Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) sekaligus Ketua Dewan Pengawas ADIGSI.

“Memperkuat ketahanan siber nasional menuntut kolaborasi lintas sektor yang kuat serta komitmen pimpinan,” katanya.

Menurut Slamet, untuk bisa berhasil didalam mengimplementasikan pengembangan ekonomi digital, maka perlu mencermati empat paradigma keamanan siber. Pertama, keamanan siber sebagai investasi. Kedua, keamanan siber by design. Ketiga, paradigma keamanan siber sebagai kolaborasi semua pihak. Serta keempat, paradigma keamanan siber berdasarkan kebijakan top down.

“Paradigma pertama, kita harus menempatkan keamanan siber itu sebagai sebuah investasi. Sebab saat ini masih banyak pihak yang menganggap bahwa keamanan siber sebagai cost center.  Padahal apabila terjadi insiden, kerugiannya akan lebih masif, ketimbang biaya-biaya yang dikeluarkan untuk pencegahan didalam  program keamanan siber,” tegasnya.

Program ini akan dilaksanakan melalui peluncuran nasional dalam dua fase selama enam bulan pada tahun 2026, dengan menargetkan lebih dari 1.000 peserta di seluruh Indonesia. Peserta mencakup perwakilan pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan sektor swasta, mulai dari praktisi tingkat operasional hingga jajaran kepemimpinan senior.

Gerakan Nasional Ketahanan Siber juga merupakan bagian dari Road to ITSEC Cybersecurity & AI Summit 2026, yang memadukan kesiapan operasional dan tata kelola kepemimpinan dalam satu kerangka implementasi.

Tingkat dasar adalah program Pejuang Cyber Indonesia yang berfokus pada pembangunan kesadaran dan kesiapan keamanan siber praktis dalam organisasi melalui lokakarya luring (offline) dan hibrida, diskusi berbasis kasus, serta latihan simulasi. Program ini menyasar manajer IT dan keamanan siber, tim risiko dan kepatuhan (risk and compliance), pemimpin operasional, serta organisasi dengan eksposur digital yang tinggi.

Selanjutnya tingkat Cyber Champion Leadership Program. Program ini untuk memperkuat kesadaran para eksekutif atas risiko dan tata kelola siber. Puncaknya akan dilaksanakan pada ajang ITSEC Cybersecurity & AI Summit 2026 sebagai titik konsolidasi nasional inisiatif tersebut.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version