youngster.id - Industri teknologi finansial (fintech) di Asia terus mengalami pergeseran kepemimpinan yang signifikan. Memperingati Hari Perempuan Internasional 2026, sosok Tessa Wijaya, Co-Founder dan COO Xendit, dinobatkan sebagai salah satu dari 12 pemimpin perempuan paling berpengaruh yang membentuk masa depan keuangan di kawasan Asia.
Di tengah industri yang secara historis didominasi laki-laki, Tessa Wijaya berhasil membawa Xendit menjadi tulang punggung infrastruktur pembayaran digital di Asia Tenggara. Perusahaan yang sering dijuluki sebagai “Stripe dari Asia Tenggara” ini telah memproses miliaran dolar transaksi tahunan dan mengumpulkan pendanaan lebih dari US$500 juta.
Di bawah kepemimpinan Tessa, Xendit tidak hanya fokus pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga pada kesetaraan gender di lingkungan kerja. Saat ini, Xendit berhasil mencapai angka 40% tenaga kerja perempuan, sebuah pencapaian langka di sektor teknologi dan pembayaran.
Rekam jejak Tessa juga telah diakui secara global melalui berbagai penghargaan, termasuk masuk dalam daftar Forbes Asia’s Power Businesswomen dan J.P. Morgan’s Top 100 Asia-Pacific Women-Powered Businesses.
“Kepemimpinan perempuan di sektor fintech memastikan inovasi menjadi lebih tajam dan inklusi keuangan lebih terarah karena memahami realitas kebutuhan nasabah yang beragam,” kutip laporan mengenai profil para pemimpin tersebut, Selasa (10/3/2026).
Selain Tessa Wijaya dari Indonesia, daftar pemimpin perempuan terbaik 2026 ini juga mencakup nama-nama besar lainnya yang mengelola perbankan digital hingga infrastruktur aset kripto, di antaranya:
- Martha Sazon (GCash, Filipina): Membawa jutaan warga Filipina masuk ke ekosistem keuangan digital.
- Adeline Kim (Visa, Singapura & Brunei): Memimpin peta jalan inovasi dan strategi Visa di pasar regional.
- Caecilia Chu (YouTrip, Singapura): Pionir dompet digital multi-valuta di Asia Tenggara.
- Hooi Ling Tan (Co-Founder Grab): Sosok di balik transformasi Grab menjadi superapp kawasan.
Kehadiran tokoh seperti Tessa Wijaya membuktikan bahwa pertanyaan mengenai apakah perempuan layak berada di posisi puncak keuangan sudah tidak lagi relevan. Fokus industri kini beralih pada seberapa cepat ekosistem dapat berkembang ketika kepemimpinannya mencerminkan keragaman pasar yang mereka layani.
Dengan penguasaan di bidang pembayaran, perbankan digital, hingga regtech, para pemimpin perempuan ini tengah membangun arsitektur masa depan keuangan Asia yang lebih tangguh dan inklusif bagi semua kalangan.
STEVY WIDIA
