AI Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Nilai Ekonomi UKM Berpotensi Capai Rp910 Triliun

Peluncuran AI Economic Opportunity Report 2026 oleh Google Kamis (23//7/2026) di Jakarta. (Foto: istimewa/google)

youngster.id - Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru Indonesia. Jika adopsinya meluas, khususnya di kalangan usaha kecil dan menengah (UKM), teknologi ini berpotensi menyumbang nilai ekonomi hingga Rp910 triliun atau setara 3,8% PDB nasional.

Vice President of Government Affairs & Public Policy, Centers of Excellence Google Markham Erickson mengatakan, Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi salah satu negara yang paling diuntungkan dari perkembangan AI.

“Sejak awal, kami meyakini bahwa peran kami adalah menjadi mitra tepercaya dalam perjalanan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bersama-sama, kami telah menghabiskan bertahun-tahun membangun fondasi digital yang kokoh. Kini, di tengah perubahan lanskap, kami tetap melanjutkan kemitraan tersebut dengan keyakinan bahwa AI memiliki potensi untuk memberikan manfaat bagi seluruh ekosistem,” ungkapnya dalam peluncuran AI Economic Opportunity Report 2026 oleh Google Kamis (23//7/2026) di Jakarta.

Menurut Markham, peluang tersebut didukung oleh pesatnya perkembangan ekonomi digital Indonesia. Nilai bruto perdagangan digital (Gross Merchandise Value atau GMV) Indonesia diproyeksikan mencapai US$340 miliar pada 2030.

Tetapi, meski potensinya besar, tingkat pemanfaatan AI di sektor UKM masih tergolong rendah. Google mencatat baru 14% UKM yang telah memanfaatkan AI, sedangkan tingkat adopsi di perusahaan skala besar sudah mencapai 62,5%.

Padahal, jika penggunaan AI di UKM mampu menyamai perusahaan besar, Indonesia diperkirakan dapat memperoleh tambahan nilai ekonomi hingga Rp910 triliun. Pemerataan adopsi AI juga diproyeksikan mampu menciptakan sekitar 510 ribu lapangan kerja baru melalui lahirnya produk, layanan, hingga model bisnis baru.

“AI tidak hanya akan meningkatkan kapabilitas dalam pekerjaan yang sudah ada, tetapi juga mendorong lahirnya produk, layanan, dan bahkan industri baru. Dan ini bukan lagi sekadar potensi di masa depan. Transformasi tersebut sudah mulai kita lihat hari ini,” katanya.

Sementara itu, Country Director Google Indonesia Veronica Utami mengatakan, potensi ekonomi AI hanya dapat diwujudkan apabila didukung pengembangan talenta digital serta ekosistem yang terbuka, inklusif, dan aman.

“Saat kita memasuki era Kecerdasan Buatan atau AI, sinergi antara teknologi dan kreativitas manusia menjadi jauh lebih penting dari sebelumnya. Untuk mewujudkan potensi secara maksimal, kita harus bekerja sama secara kolaboratif guna memastikan ekosistem digital kita tetap terbuka, inklusif, dan aman bagi semua orang. Google berkomitmen untuk terus menjadi mitra yang terpercaya dalam membangun ekonomi digital Indonesia yang berdaya AI,” ucapnya.

Selain menghadirkan berbagai teknologi AI, Google juga menjalankan program peningkatan keterampilan digital Bangkit Bersama AI, yang hingga kini telah melatih lebih dari 380.000 masyarakat Indonesia.

Pada kesempatan itu, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Irene Umar menilai Indonesia memiliki peluang untuk menjadi pelaku utama dalam perkembangan AI, bukan sekadar pengguna teknologi.

“Saya ingin melihat orang Indonesia tidak hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai faktor penentu, sebagai aktor aktif untuk mempromosikan dan menentukan akan seperti apa ruang ini nantinya. Kita perlu menemukan solusi secara kolektif agar Indonesia dapat menentukan arena permainan yang baru,” ucapnya di kesempatan yang sama.

Dengan semakin mudahnya akses ke berbagai layanan AI, peluang tidak hanya terbuka bagi perusahaan besar, tetapi juga bagi pelaku UMKM, startup, mahasiswa, hingga kreator muda untuk membangun produk, bisnis, dan inovasi yang mampu bersaing di pasar global.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version