youngster.id - Perusahaan teknologi medis (medtech) di kawasan Asia-Pasifik kini mulai beralih dari sekadar pusat manufaktur menjadi sumber inovasi produk baru yang kompetitif di pasar global. Menurut laporan terbaru dari Bain & Company, pangsa pasar untuk permintaan alat kesehatan di Asia-Pasifik diproyeksikan mencapai US$132 miliar pada tahun 2030, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 6,9% atau lebih cepat dibandingkan pasar global.
Laporan bertajuk “Building Global Champions: The Asia-Pacific Region’s Next Medtech Wave” ini disusun melalui kolaborasi dengan sejumlah lembaga di Singapura, termasuk A*STAR, Enterprise Singapore (EnterpriseSG), J.P. Morgan, SG Growth Capital, dan Singapore Economic Development Board (EDB). Laporan ini menyoroti bahwa fase pertumbuhan medtech di Asia-Pasifik ke depan tidak lagi hanya bergantung pada inovasi produk, melainkan pada kemampuan komersialisasi dan akses pasar internasional.
Kevin Chang, Head of Healthcare & Life Sciences Practice Bain & Company wilayah Greater China, menjelaskan bahwa peran Asia-Pasifik dalam industri ini telah memasuki fase baru.
“Kawasan ini bukan lagi sekadar pasar untuk inovasi, melainkan semakin menjadi sumber inovasi itu sendiri. Dekade berikutnya akan ditentukan oleh seberapa efektif perusahaan mengubah inovasi tersebut menjadi bisnis global yang berkelanjutan,” ujar Chang, Selasa (7/7/2026).
Lima Tantangan Utama dalam Menembus Pasar Global
Meskipun memiliki keunggulan kompetitif, laporan tersebut mengidentifikasi lima area struktural yang masih menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perusahaan medtech regional untuk mencapai skala global. Tantangan pertama terletak pada kesenjangan pendanaan, di mana alokasi modal di sebagian besar negara Asia-Pasifik masih terkonsentrasi pada tahap awal (Seed dan Series A) atau tahap akhir (buyout besar).
Mengacu pada data modal ventura tahun 2025, pendanaan tahap awal hanya tercatat sebesar US$2,2 miliar dari 124 pendanaan, sehingga memicu hambatan finansial ketika perusahaan bersiap memasuki skala komersial. Selain masalah modal, ekspansi ini juga kerap terhambat oleh terbatasnya talenta profesional yang berpengalaman dalam menavigasi jalur regulasi global serta mengelola uji klinis internasional.
Hambatan selanjutnya mencakup aspek perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), di mana keterlambatan strategi pendaftaran paten global sering kali membatasi peluang lisensi dan ekspansi kemitraan lintas negara. Di sisi operasional, perusahaan medtech juga harus menghadapi minimnya infrastruktur pasar, seperti terbatasnya saluran pemasaran dan jaringan opini pemimpin kunci (key opinion leader) saat beroperasi di luar pasar domestik.
Terakhir, terkait dengan sistem jaminan pembiayaan (reimbursement), perusahaan dituntut untuk mampu menyajikan bukti klinis dan ekonomi kesehatan yang jauh lebih kuat guna mendukung adopsi produk serta mengamankan skema penjaminan biaya kesehatan di pasar global. (*AMBS)
















Discussion about this post