youngster.id - Platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD), Bittime, memasang target agresif untuk layanan perdagangan derivatif terbarunya. Bittime menargetkan volume transaksi Bittime Futures dapat tumbuh hingga 10 kali lipat pada tahun pertama sejak resmi diluncurkan.
Target tersebut disampaikan oleh Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, dalam gelaran Bittime Alpha Gala Night di Bali. Ryan optimistis terhadap potensi pasar perdagangan berjangka (futures) kripto di Indonesia yang masih memiliki ruang ekspansi besar.
“Kami ingin volume perdagangan Futures Bittime dapat tumbuh 10 kali lipat pada tahun pertama. Kami melihat peluang pertumbuhan yang besar di pasar Indonesia, terutama seiring semakin banyak trader yang mulai memahami Futures dan potensinya,” ujar Ryan Lymn di hadapan 150 peserta yang terdiri dari pengguna VIP, trader, dan mitra institusional, dikutip Sabtu (22/8/2026).
Potensi lokal ini sejalan dengan tren global, di mana data CoinMarketCap mencatat perdagangan derivatif menyumbang sekitar 79% dari total volume transaksi aset kripto dunia. Di Indonesia sendiri, OJK mencatat nilai transaksi aset kripto mencapai Rp28,58 triliun pada Juni 2026 dengan jumlah investor menembus 22 juta orang.
Pelopor Berizin OJK Lengkap dengan Fitur Leverage 25x
Bittime meluncurkan layanan perdagangan derivatif ini pada 15 Juli 2026 setelah mengantongi izin dari PT Central Finansial X (CFX). Langkah ini menjadikan Bittime sebagai pedagang aset keuangan digital pertama yang memperoleh izin penuh langsung di bawah era pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Dengan hadirnya Futures, Bittime kini melengkapi ekosistem produk 3-in-1 yang mencakup Spot, Staking, dan Futures. Fitur Bittime Futures menyediakan 49 pasangan perdagangan, opsi posisi Long dan Short, leverage hingga 25x, serta pilihan Cross Margin maupun Isolated Margin. Pasangan koin BTCUSDT-PERP dan PUMPUSDT-PERP tercatat menjadi yang paling aktif ditransaksikan pengguna.
Kendati mengejar pertumbuhan volume yang tinggi, Bittime menegaskan komitmennya untuk mengimbangi ekspansi bisnis dengan literasi manajemen risiko bagi para pengguna.
“Kami tidak hanya ingin mengejar pertumbuhan volume. Pengguna juga perlu memahami cara kerja Futures, termasuk risiko leverage dan pentingnya manajemen risiko. Pertumbuhan pasar harus berjalan bersama dengan edukasi yang baik,” tutup Ryan. (*AMBS)

















Discussion about this post