youngster.id - Transformasi digital di sektor industri Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan akan konektivitas yang lebih cepat, stabil, dan mampu mendukung teknologi seperti artificial intelligence (AI) serta Internet of Things (IoT). Bagi berbagai sektor, mulai dari manufaktur, pertambangan, pelabuhan hingga kawasan industri, jaringan tidak lagi sekadar menjadi sarana komunikasi, tetapi menjadi fondasi untuk menjalankan otomatisasi, pemantauan real-time, hingga pengambilan keputusan berbasis data.
Melihat kebutuhan tersebut, Telkomsel menjalin kerja sama strategis dengan China Telecom Global Limited (CTG) melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dalam ajang Mobile World Congress (MWC) Shanghai 2026. Kolaborasi ini akan menjajaki pengembangan solusi digital terintegrasi bagi pelanggan enterprise dan berbagai industri vertikal di Indonesia melalui pemanfaatan AI, IoT, layanan berbasis Information and Communication Technology (ICT), serta jaringan 5G di Indonesia.
VP Enterprise Product Management and Development Telkomsel Kwok Wai Kiat mengatakan, transformasi digital bukan sekadar menghadirkan teknologi terbaru, tetapi juga menciptakan dampak nyata bagi dunia usaha.
“Bagi Telkomsel, transformasi digital adalah tentang menghadirkan teknologi dan menciptakan dampak yang bermakna bagi dunia usaha dan berbagai sektor industri di Indonesia,” ucapnya dikutip Selasa (28/7/2026).
Menurut dia, MoU dengan CTG ini menjadi langkah penting bagi Telkomsel dalam mendorong pengembangan solusi berbasis 5G, AI, IoT, dan ICT yang disesuaikan dengan kebutuhan berbagai sektor industri di Indonesia.
“Langkah ini sekaligus menghadirkan inovasi yang membuka peluang pertumbuhan baru serta membantu membentuk fase berikutnya dari transformasi digital dan industri Indonesia,” ujar Kwok Wai Kiat.
Melalui kerja sama ini, China Telecom Global akan menghadirkan kapabilitas teknologi di bidang AI, IoT, serta layanan berbasis ICT yang akan dipadukan dengan jaringan, kanal penjualan, dan pemahaman Telkomsel terhadap kebutuhan pelanggan di Indonesia. Kedua perusahaan juga akan mengeksplorasi pengembangan solusi berbasis kartu SIM untuk perangkat AI dan IoT, termasuk pemanfaatan konektivitas 5G maupun LTE bagi berbagai sektor industri.
Kwok Wai Kiat menambahkan, sebagai mitra transformasi digital, Telkomsel akan terus membantu pelanggan enterprise mengadopsi berbagai inovasi yang mampu menjawab kebutuhan strategis maupun operasional perusahaan.
Kolaborasi tersebut juga dibangun di atas pengalaman Telkomsel dalam mengembangkan berbagai implementasi 5G untuk sektor industri. Salah satu contohnya adalah penerapan 5G underground smart mining bersama Freeport Indonesia yang menjadi implementasi pertama di Asia Tenggara. Solusi ini dimanfaatkan untuk mendukung pemantauan dan operasi jarak jauh, meningkatkan produktivitas, efisiensi energi, sekaligus memperkuat keselamatan pekerja di area pertambangan.
Selain itu, Telkomsel juga telah mengembangkan berbagai solusi private 5G untuk smart industrial park di Halmahera, smart manufacturing bersama Toyota Indonesia, smart factory bersama Pegaunihan Technology Indonesia, hingga implementasi untuk smart warehousing dan smart port. Pemanfaatan teknologi tersebut memungkinkan perusahaan memantau aset secara real-time, mempercepat alur operasional, meningkatkan akurasi proses kerja, sekaligus memperkuat keamanan di lapangan.
VP Carrier Business China Telecom Global, Lu Faming, mengatakan kolaborasi ini diharapkan mampu menghadirkan solusi yang lebih relevan bagi kebutuhan industri di Indonesia.
“Dengan menggabungkan kapabilitas teknologi CTG di bidang AI, IoT, dan layanan ICT dengan pemahaman Telkomsel terhadap kebutuhan pasar, infrastruktur, dan pelanggan di Indonesia, kami berharap eksplorasi bersama ini dapat membuka ruang bagi solusi yang lebih relevan, aman, dan berdampak bagi transformasi digital di Indonesia, khususnya dalam meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan keselamatan operasional,” kata Lu Faming.
Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia memiliki tantangan konektivitas yang berbeda-beda di setiap wilayah. Operasional di kawasan pertambangan, pelabuhan, perkebunan, hingga daerah terpencil membutuhkan jaringan yang tidak hanya luas jangkauannya, tetapi juga mampu mendukung pertukaran data secara cepat dan aman.
Dalam praktiknya, teknologi IoT memungkinkan berbagai sensor dan perangkat terhubung mengumpulkan data secara langsung dari lapangan. Data tersebut kemudian diolah menggunakan AI menjadi informasi yang dapat membantu perusahaan memantau kondisi operasional, mendeteksi potensi gangguan lebih dini, meningkatkan efisiensi proses bisnis, hingga memperkuat keselamatan kerja.
STEVY WIDIA
