youngster.id - Superbank mencatatkan pencapaian transformasional sepanjang tahun 2025. Bank dengan layanan digital yang didukung konsorsium Grab, Emtek, Singtel, KakaoBank, dan GXS ini sukses membukukan Laba Sebelum Pajak (PBT) sebesar Rp143,3 miliar sekaligus resmi menjadi perusahaan publik setelah melakukan Initial Public Offering (IPO) pada Desember 2025.
Keberhasilan melantai di bursa tidak hanya memperkuat permodalan, tetapi juga membawa Superbank naik kelas ke kategori Bank Umum berdasarkan Modal Inti (KBMI 2).
Kinerja solid Superbank selama 2025 didorong oleh ekspansi kredit yang tumbuh 50% secara tahunan (YoY) menjadi Rp9,6 triliun, dengan fokus pada segmen ritel dan UMKM. Hal ini berdampak pada kenaikan Pendapatan Bunga Bersih (NII) yang melonjak 160% menjadi Rp1,6 triliun.
Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan, menyatakan bahwa tahun 2025 adalah periode penting di mana perusahaan berhasil mencetak laba untuk pertama kalinya pada kuartal pertama.
“Momentum IPO memperkokoh struktur permodalan dan meningkatkan kepercayaan nasabah terhadap Superbank sebagai bank digital yang tumbuh sehat dan efisien,” ungkap Tigor, dikutip Sabtu (14/3/2026).
Efisiensi operasional perusahaan juga menunjukkan perbaikan signifikan. Cost to Income Ratio (CIR) membaik menjadi 70,52% dari sebelumnya 139,16%. Sementara itu, total aset tercatat meningkat 87% menjadi Rp21,3 triliun.
Superbank terus memperkuat penetrasi pasarnya melalui integrasi mendalam dengan ekosistem digital. Beberapa inovasi unggulan yang diluncurkan meliputi: OVO Nabung by Superbank untuk memudahkan pengguna dompet digital untuk menabung, Pinjaman Atur Sendiri (PAS), yaituintegrasi pengajuan pinjaman langsung melalui aplikasi Grab dan OVO, dan kolaborasi dengan KakaoBank dalam peluncuran Kartu Untung untuk meningkatkan pengalaman transaksi nasabah.
Sejak merilis aplikasi digital pada Juni 2024, Superbank telah melayani lebih dari 6 juta nasabah dengan aktivitas yang sangat tinggi, mencapai rata-rata lebih dari 1 juta transaksi setiap harinya.
Memasuki tahun 2026, Superbank tetap menjaga kualitas aset dengan rasio NPL Gross di level 2,60% dan struktur likuiditas yang sehat. Dengan status baru sebagai bank KBMI 2, Perseroan optimistis dapat melanjutkan tren pertumbuhan yang berkelanjutan melalui inovasi teknologi dan manajemen risiko yang ketat demi memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham. (*AMBS)
