Kreator Muda Manfaatkan TikTok untuk Jaga Lingkungan, Budaya, hingga UMKM

kreator TikTok

ki-ka: Kreator konten TikTok Jerhemy Owen, Elsa Novia, dan Hendri Alejandro. (Foto: stevywidia/youngster)

youngster.id - Bagi sebagian kreator, TikTok bukan lagi sekadar ruang untuk membuat konten dan membangun jumlah pengikut. Platform digital juga dapat menjadi pintu masuk untuk mengajak masyarakat terlibat dalam aksi nyata, mulai dari menjaga lingkungan, mengenalkan sejarah dan budaya, hingga membuka akses pasar bagi UMKM lokal.

Hal tersebut terlihat dari kiprah tiga kreator TikTok, yakni Jerhemy Owen (24), Elsa Novia (24), dan Hendri Alejandro (28). Ketiganya memiliki fokus berbeda, tetapi sama-sama memanfaatkan konten digital untuk membawa isu yang mereka angkat ke kehidupan nyata.

Jerhemy Owen menggunakan konten TikTok untuk meningkatkan kepedulian terhadap isu lingkungan sekaligus mengajak komunitas terlibat dalam aksi pelestarian alam.

“Di zaman sekarang hampir semua orang melihat sosial media dan sebagai konten creator kita juga punya tanggung jawab yang besar dalam membawa dampak yang panjang ke masyarakat,” ungkapnya pada media di acara #Serunya17an – Karya Positif untuk Indonesia: Cara Kreator Muda Manfaatkan TikTok untuk Menggerakkan Perubahan Nyata, Selasa (18/8/2026) di Jakarta.

Sejak mulai berkarya di TikTok pada 2020, Owen konsisten mengangkat isu keberlanjutan. Latar belakangnya sebagai lulusan Ilmu Lingkungan Avans University of Applied Sciences di Belanda turut membentuk fokus tersebut.

Owen memanfaatkan TikTok untuk membangun percakapan dengan komunitas sekaligus menggerakkan masyarakat melakukan aksi bagi lingkungan. Kreator dengan lebih dari 5 juta pengikut ini mengajak follower membagikan video mengenai penanaman pohon. Setiap 15 kali video dibagikan, kontribusi tersebut dikonversikan menjadi satu pohon.

Antusiasme komunitas menghasilkan lebih dari 10.000 bibit pohon yang ditanam di Kampung Cibulao, kawasan hulu Sungai Ciliwung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Aksi tersebut turut mendukung pemulihan lebih dari 24 hektare kawasan hutan.

Pengalaman Owen mengangkat isu lingkungan melalui TikTok juga membawanya ke forum global. Pada 2024, ia menjadi salah satu kreator asal Indonesia yang diundang TikTok untuk menghadiri COP29 di Azerbaijan dan berbagi perspektif mengenai peran generasi muda dalam mendorong aksi lingkungan.

Pada 2026, Owen melanjutkan aksinya melalui gerakan Wenanam lewat kampanye #PohonUntukAceh. Hingga Juli 2026, kampanye tersebut telah mengumpulkan 250.000 bibit pohon yang mulai ditanam di kawasan Hutan Lindung Tenggulun, Aceh Tamiang.

“Sebagai kreator konten, saya merasakan dengan adanya sosial media, ketertarikan orang dengan cepat berubah. Jadi, kita harus bisa menyesuaikan perubahan tersebut dan juga beradaptasi dengan cepat,” kata Owen.

Jika Owen membawa isu lingkungan dari layar ke aksi penghijauan, Elsa Novia menggunakan TikTok untuk menghidupkan kembali sejarah dan budaya Tionghoa-Indonesia, khususnya Peranakan Tionghoa dan Cina Benteng.

Elsa mulai membuat konten TikTok pada 2022 dengan berbagai topik sebelum akhirnya fokus pada sejarah dan budaya. Perubahan tersebut terjadi setelah salah satu videonya mengenai tradisi peringatan satu tahun wafat sang nenek mendapat respons luas.

“Budaya Cina Benteng itu mungkin yang belum tahu ya. Orang Tionghoa di Tangerang disebutnya Cina Benteng dan Cina Benteng sendiri budayanya sudah bercampur antara budaya Tionghoa sama lokal,” kata Elsa.

Untuk menjaga akurasi kontennya, Elsa melakukan riset melalui buku dan jurnal serta berdiskusi dengan sejumlah budayawan Peranakan. Salah satu kontennya mengenai makam Kapitan Tionghoa di Tangerang bahkan mendapat perhatian Pemerintah Kota Tangerang yang kemudian mengusulkan lokasi tersebut sebagai situs cagar budaya.

Konten tersebut kemudian berkembang menjadi pengalaman offline melalui Benteng Walking Tour yang ia kelola bersama sang ayah.

“Gara-gara saya buat konten di TikTok, saya membuat tur budaya Tionghoa namanya Benteng Walking Tour yang memperkenalkan secara langsung budaya Tionghoa Cina Benteng di daerah saya,” ujarnya.

Setiap akhir pekan, Elsa mengajak peserta menjelajahi situs bersejarah di Kota Lama Tangerang dan kawasan Pecinan Glodok, Jakarta Barat. Selama sekitar tiga tahun, kegiatan tersebut telah diikuti ribuan peserta, dengan sebagian besar mengetahui informasi mengenai tur melalui TikTok.

Kini, Elsa memiliki lebih dari 154 ribu pengikut dan 8,6 juta likes di TikTok. Kontennya berkembang menjadi ruang pertemuan antara masyarakat, pegiat budaya, destinasi sejarah, serta pelaku kuliner dan UMKM lokal.

Sementara itu, Hendri Alejandro memanfaatkan TikTok untuk membantu UMKM di Desa Ibun, Kabupaten Bandung, memperluas akses pasar. Kreator affiliate TikTok Shop by Tokopedia sekaligus pendiri Ibun Mall tersebut melihat banyak warga desa menjalankan industri rumahan, tetapi menghadapi keterbatasan dalam menjangkau konsumen yang lebih luas.

Ia kemudian membantu memasarkan produk mereka melalui berbagai kanal digital, termasuk TikTok Shop by Tokopedia.

“Tidak berhenti pada pemasaran produk, kami juga melatih warga setempat menjadi host LIVE. Langkah tersebut membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengembangkan keterampilan digital sekaligus mendapatkan peluang penghasilan,” ungkapnya.

Kini, ekosistem Ibun Mall telah mendukung lebih dari 30 UMKM lokal dan bekerja sama dengan lebih dari 100 host LIVE. Akun tersebut juga telah memiliki 1,7 juta pengikut dan 2,9 juta likes di TikTok.

Inisiatif tersebut berkembang melalui Komunitas Host 1 Miliar yang kini beranggotakan lebih dari 300 kreator dari berbagai daerah di Indonesia. Para anggota komunitas dapat saling berbagi pengalaman dan mengembangkan keterampilan dalam ekosistem LIVE Shopping.

Ketiga kreator tersebut menunjukkan bagaimana aktivitas kreator dapat berkembang melampaui produksi konten dan memberi dampak nyata di masyarakat. Platform seperti TikTok tidak hanya menjadi ruang untuk membangun percakapan dengan audiens, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk menuju aksi penghijauan, pelestarian budaya, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version