youngster.id - Isu keberlanjutan (sustainability) kian menjadi arus utama di sektor keuangan nasional. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai kredit dan pembiayaan bank umum untuk Kegiatan Usaha Berwawasan Lingkungan (KUBL) telah menembus angka Rp2.000 triliun. Tren positif ini mencerminkan tingginya kebutuhan industri akan pembiayaan hijau dan tata kelola risiko yang adaptif.
Merespons perkembangan tersebut, Bank DBS Indonesia menegaskan bahwa prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) bukan sekadar program tanggung jawab sosial, melainkan motor penggerak bisnis. Melalui Laporan Keberlanjutan 2025, Bank DBS Indonesia mengumumkan bahwa portofolio Kategori Keuangan Usaha Berkelanjutan (KKUB) perusahaan telah mencapai Rp15,6 triliun, naik signifikan dibandingkan Rp14,1 triliun pada tahun sebelumnya.
Presiden Direktur PT Bank DBS Indonesia, Lim Chu Chong, menyatakan bahwa keberlanjutan tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan bisnis yang berkualitas.
“Kami mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam seluruh lini operasional, mulai dari membiayai bisnis, melayani nasabah, mengelola risiko, hingga membangun operasional perusahaan. Bagi Bank DBS Indonesia, menjadi bank yang relevan di masa depan artinya harus berkontribusi penuh dalam menciptakan prospek yang lebih tangguh dan inklusif,” ujar Lim Chu Chong, dikutip Kamis (21/5/2026).
Komitmen ESG Bank DBS Indonesia diterjemahkan ke dalam tindakan nyata melalui tiga pilar utama. Pilar pertama adalah Perbankan Bertanggung Jawab (Mendorong Keuangan Inklusif), di mana selain memacu pembiayaan hijau, Bank DBS Indonesia memperluas inklusi keuangan di tanah air sepanjang tahun 2025. Hal ini dibuktikan melalui penyaluran Pinjaman ESG Segmen UMKM secara kumulatif yang mencapai lebih dari Rp3,8 triliun kepada individu berpenghasilan rendah melalui mitra ekosistem, serta kucuran modal kerja sebesar Rp70 miliar untuk UMKM yang mendorong Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) menyentuh angka 6,97%.
Di samping itu, partisipasi pasar modal juga diperkuat dengan transaksi obligasi hijau (green bonds) yang tumbuh kokoh melampaui Rp1 triliun di tengah fluktuasi pasar, disusul oleh langkah advokasi energi melalui kolaborasi bersama Kementerian ESDM, PT PLN, dan International Energy Agency (IEA) untuk merancang jalur kebijakan penerapan 10 GW Sistem Penyimpanan Energi Baterai (BESS) di Indonesia.
Pilar kedua berfokus pada Praktik Bisnis Bertanggung Jawab (Integrasi Operasional), dengan komitmen Bank DBS Indonesia untuk secara konsisten meminimalkan dampak lingkungan dari aktivitas operasionalnya sendiri. Pada aspek efisiensi energi, perusahaan berhasil menurunkan konsumsi energi operasional sebesar 15% menjadi 8.397 MWh dan memangkas total emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 17% menjadi 11.528 tCO2e secara tahunan, dibantu oleh pembelian 8.500 MWh Sertifikat Energi Terbarukan (REC).
Dari sisi tata kelola internal, aspek perlindungan data dan edukasi diperkuat melalui tim Anti-Fraud khusus serta peluncuran kampanye literasi digital seperti ‘Behind the Scam’. Bersamaan dengan itu, kesiapan talenta AI juga menjadi prioritas lewat pemberian pelatihan ulang (reskilling) mendalam kepada 826 karyawan agar adaptif terhadap transformasi kecerdasan buatan.
Pilar ketiga adalah Dampak Melampaui Perbankan (Pemberdayaan Masyarakat) yang digerakkan melalui DBS Foundation untuk aktif memicu kemajuan sosial dan menangani berbagai isu krusial. Dalam hal dana hibah sosial, dikucurkan bantuan senilai total SGD850.000 untuk mendukung lima wirausaha sosial lokal, yaitu DoctorTool, Nazava Water Filters, Parongpong RAW Lab, Sosial Business Indonesia, dan KONEKIN.
Pada sektor ketahanan pangan, DBS Foundation menjalankan program FEAST! di Flores, NTT untuk mengedukasi pertanian cerdas iklim, serta program Food Rescue Warrior yang sukses menyelamatkan limbah makanan sekaligus menyalurkan 744.500 porsi makanan bagi warga yang membutuhkan.
Terakhir, kepedulian sosial ini dilengkapi dengan aksi tanggap bencana melalui penyaluran bantuan lebih dari Rp6 miliar untuk pemulihan banjir di Aceh dan Sumatera Barat, yang berjalan beriringan dengan peningkatan jam kerelawanan karyawan sebesar 12% menjadi 54.800 jam, termasuk dalam memberikan pelatihan soft skill di ajang DBS Foundation Coding Camp bersama Dicoding.
Bagi Bank DBS Indonesia, seluruh capaian ESG ini membuktikan bahwa keberlanjutan bukanlah sebuah kompromi (trade-off) terhadap keuntungan perusahaan, melainkan pondasi mutlak untuk tumbuh tangguh bersama masyarakat Indonesia di masa depan.
STEVY WIDIA
