youngster.id - Ekosistem Native AI (kecerdasan buatan murni) di Asia Tenggara berhasil mengumpulkan akumulasi pendanaan ekuitas mencapai US$9,3 miliar (sekitar Rp148 triliun) melalui 261 putaran pendanaan hingga Juli 2026. Berdasarkan laporan terbaru dari platform intelijen pasar Tracxn, capaian ini mencerminkan akselerasi pesat dalam adopsi dan penyaluran modal untuk teknologi AI di kawasan regional.
Dalam distribusi geografisnya, Singapura masih menjadi pusat (hub) penggalangan dana terbesar di kawasan dengan raihan US$9,3 miliar dari 227 putaran transaksi. Sementara itu, negara-negara lain di Asia Tenggara seperti Vietnam mengantongi US$19 juta, Malaysia US$8 juta, Indonesia US$6 juta, dan Thailand US$4 juta.
Tracxn mencatat bahwa perbedaan nilai pendanaan antarnegara tersebut lebih mencerminkan tingkat kematangan ekosistem investasi, ketersediaan modal tahap lanjut (growth-stage), dan kehadiran modal ventura global di masing-masing negara, bukan semata-mata tingkat inovasi AI-nya. Banyak entitas startup AI memilih mendirikan kantor pusat atau badan penggalangan dana di Singapura untuk mengakses jaringan investor internasional, sembari tetap mengembangkan produk dan melayani pasar regional di seluruh kawasan ASEAN.
Pergeseran Tren ke Putaran Pendanaan Skala Besar
Laporan Tracxn juga mengungkapkan lonjakan tajam dalam penyaluran modal selama dua tahun terakhir. Sekitar 67% dari total akumulasi pendanaan ekuitas ekosistem AI Asia Tenggara berhasil dihimpun sejak tahun 2025.
Nilai pendanaan meningkat signifikan dari US$869 juta (35 putaran) pada 2024 menjadi US$2 miliar (41 putaran) pada 2025. Per Juli 2026 saja, total pendanaan telah menyentuh US$4,1 miliar hanya dari 23 putaran—melampaui perolehan sepanjang tahun 2025.
Pergeseran fokus investor terlihat jelas dari fase pendanaan. Jika hingga 2024 transaksi didominasi oleh pendanaan tahap awal (seed & early-stage), mulai 2025 alokasi modal bergeser ke transaksi tahap lanjut (late-stage) dengan nilai jumbo. Pendanaan late-stage melonjak dari US$1,3 miliar pada 2025 menjadi US$3,5 miliar hingga pertengahan 2026.
Pendorong utama lonjakan pada 2026 adalah putaran Seri D senilai US$2,8 miliar dari Kling AI untuk memperkuat Generative AI foundation models serta platform pembuatan video berbasis AI. Transaksi tunggal ini menyumbang sekitar 68% dari total pendanaan AI di kawasan Asia Tenggara sepanjang tahun berjalan 2026.
Sektor Infrastruktur AI Jadi Primadona Investasi
Secara sektoral, Infrastruktur AI menjadi segmen yang paling banyak menerima kucuran dana, yakni mencapai US$4,3 miliar melalui 56 putaran, yang dipimpin oleh pemain utama seperti Kling AI (US$2,8 miliar) dan MiniMax (US$1,2 miliar).
Di posisi berikutnya, sektor Infrastruktur Data Center meraup US$2,2 miliar melalui 4 putaran pendanaan—seluruhnya diraih oleh Princeton Digital Group. Jika digabungkan, segmen infrastruktur AI dan data center menguasai lebih dari 65% total pendanaan ekuitas AI di Asia Tenggara.
Sektor lain yang turut melengkapi posisi lima besar penerima pendanaan teratas meliputi: Logistics Tech: US$940 juta (19 putaran), Autonomous Vehicles: US$900 juta (9 putaran), dan RegTech (Regulatory Technology): US$562 juta (23 putaran).
Tracxn menyimpulkan bahwa tren investasi kini mulai meluas dari teknologi dasar AI (foundational AI) menuju solusi spesifik industri. Seiring mematangnya ekosistem AI di negara-negara ASEAN, aktivitas investasi diperkirakan akan secara bertahap menyebar lebih luas ke berbagai negara di Asia Tenggara. (*AMBS)
