youngster.id - Perusahaan insurtech, Igloo, mencatatkan lonjakan pendapatan sebesar 46% secara tahunan (year-on-year) menjadi US$63 juta (sekitar S$80,9 juta). Kinerja positif ini didorong oleh peningkatan volume kemitraan asuransi terintegrasi (embedded insurance) serta pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Asia Tenggara.
Berdasarkan laporan keuangan yang diaudit, Igloo berhasil memangkas rugi bersih sebesar 60,4% menjadi US$6.7 juta, dari US$17 juta pada tahun 2024. Perbaikan kinerja finansial ini dicapai seiring dengan efisiensi operasional, di mana beban operasional (OPEX) relatif stabil meski volume bisnis mengalami pertumbuhan signifikan.
Co-Founder dan Chief Executive Officer Igloo, Raunak Mehta, mengungkapkan bahwa utilisasi teknologi AI berhasil memangkas waktu digitalisasi produk asuransi dari dua minggu menjadi hanya 45 menit.
“Pendapatan kami tumbuh 46% sementara OPEX tetap stabil. Sistem operasional yang kami rancang membuat biaya untuk melayani mitra baru dan jutaan polis berikutnya terus menurun. Kami membidik puncaknya untuk mencapai adjusted EBITDA breakeven pada akhir 2026,” ujar Raunak, seperti dilansir FintechNews, Selasa (29/9/2026).
Efisiensi Operasional dan Akuisisi Strategis
Pemanfaatan AI oleh Igloo mencakup lini pengembangan produk, penilaian risiko, hingga otomatisasi klaim. Langkah ini mampu meningkatkan produktivitas tim teknis tanpa perlu menambah jumlah karyawan secara proporsional.
Sepanjang tahun, Igloo aktif memperluas jangkauan operasionalnya di Asia Tenggara melalui serangkaian aksi korporasi dan kemitraan strategis. Pada Juni 2026, Igloo mengakuisisi Eazy Digital, perusahaan insurtech asal Singapura, untuk memperkuat penetrasi dan posisi pasarnya di Thailand. Langkah akuisisi ini memboyong ekosistem Eazy Digital yang mendukung lebih dari 20.000 agen serta mengelola jutaan polis setiap bulannya ke dalam jaringan Igloo.
Selain itu, Igloo juga melakukan ekspansi ke sektor asuransi jiwa dengan menggandeng Chubb Life di Indonesia dan Vietnam. Melalui kemitraan ini, infrastruktur teknologi dan jaringan distribusi digital Igloo dimanfaatkan untuk menyalurkan berbagai produk asuransi kesehatan, asuransi jiwa, hingga perlindungan penyakit kritis secara lebih luas kepada konsumen di kedua negara tersebut.
Jangkauan Regional dan Pendanaan
Hingga saat ini, Igloo beroperasi di lima negara utama Asia Tenggara—Indonesia, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Malaysia—dengan pusat teknologi di Tiongkok dan India. Platform Igloo telah memfasilitasi lebih dari 2,2 miliar polis secara kumulatif dan memproses lebih dari 100 juta polis per bulan.
Igloo kini bekerja sama dengan lebih dari 100 mitra komersial dan perusahaan asuransi regional, termasuk platform platform besar seperti Shopee, Lazada, Tokopedia, GCash, dan Telkomsel.
Secara kumulatif, perusahaan telah mengumpulkan pendanaan lebih dari US$100 juta dari jajaran investor global seperti Eurazeo, Openspace Ventures, Cathay Innovation, dan BlueOrchard guna memperkuat ekspansi ekosistem asuransi digital di kawasan regional. (*AMBS)
















Discussion about this post