youngster.id - Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA) kian agresif membidik sektor kecerdasan buatan (AI). Sovereign wealth fund pertama Indonesia ini memutuskan untuk mengalokasikan hingga 30% dari total alokasi dana tahunannya khusus untuk sektor infrastruktur digital.
Hingga saat ini, INA bersama para mitra investornya telah menyalurkan total dana mencapai sekitar Rp74,5 triliun (setara Sing$5,4 miliar). Dari total dana tersebut, sekitar 30% di antaranya telah mengalir langsung untuk membangun dan memperkuat ekosistem digital nasional.
“Banyak dari perkembangan AI ini memang datang dari luar Indonesia, tetapi itu bukan berarti tren tersebut akan kami lewati begitu saja,” ungkap Chief Investment Officer INA, Christopher Ganis, dilansir Business Times, Kamis (28/5/2026).
Langkah INA yang berfokus pada infrastruktur AI ini sejalan dengan lonjakan investasi global pada sektor pusat data (data centre) akibat revolusi teknologi machine learning. Menurut proyeksi dari Moody’s Ratings, setidaknya US$3 triliun dana global akan mengalir ke investasi terkait pusat data dalam lima tahun ke depan.
INA yang kini mengelola total aset lebih dari US$8 miliar telah merampungkan sejumlah kesepakatan besar. Salah satunya adalah berpartisipasi dalam putaran pendanaan untuk DayOne Data Centres, sebuah perusahaan spin-off dari raksasa teknologi asal China, GDS Holdings.
Berdasarkan data resmi di situs perusahaan, portofolio investasi digital INA saat ini mencakup sejumlah pusat data dengan target rencana kapasitas mencapai 74 Megawatt (MW). Seluruh kapasitas komputasi tersebut diklaim telah mengantongi komitmen tingkat hunian (occupancy rate) sebesar 100%.
INA optimistis lonjakan adopsi AI akan sangat menguntungkan Indonesia. Terlebih, banyak perusahaan teknologi dunia mulai melirik Indonesia untuk mendirikan pusat pelatihan dan riset karena didukung oleh profil demografi struktur populasi usia muda terbesar di Asia.
Di tengah memanasnya persaingan teknologi AI antara Amerika Serikat dan China, Christopher menegaskan bahwa INA akan mengambil pendekatan “non-blok”. Strategi ini memungkinkan lembaga untuk tetap fleksibel bekerja sama dengan berbagai mitra strategis dari belahan dunia mana pun.
Menurutnya, AI kini berada dalam dunia yang bersifat multipolar, di mana setiap negara akan saling mendorong lahirnya jawara lokal atau regional. Namun, INA optimistis pelaku usaha global akan tetap melihat Indonesia sebagai pasar strategis yang potensial untuk menggenjot produktivitas dan ekspansi pasar mereka.
Terkait tantangan geopolitik eksternal seperti konflik di Timur Tengah yang menekan negara importir minyak bersih seperti Indonesia, INA memastikan operasional industri digitalnya tetap aman. Seluruh pusat data yang terafiliasi dengan INA beroperasi di dalam kawasan industri khusus dengan pasokan daya listrik yang sangat terjamin (secure power supplies).
Lembaga yang didirikan sejak Desember 2020 ini awalnya berfokus pada investasi ekuitas swasta dengan struktur kepemilikan minoritas. Kini, INA telah memperluas jangkauan portofolionya ke sektor kredit swasta (private credit) dan real estat demi mengoptimalkan pendapatan investasi jangka panjang. (*AMBS)
















Discussion about this post