youngster.id - Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuka peluang bagi perusahaan rintisan untuk mengembangkan solusi digital di berbagai sektor. Namun, inovasi teknologi perlu diimbangi dengan model bisnis yang kuat dan pemahaman terhadap kebutuhan pengguna agar solusi yang dikembangkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Melihat peluang tersebut, Telkomsel kembali membuka NextDev ke-12, program impact incubator bagi technopreneur Indonesia yang mengembangkan solusi digital untuk menjawab isu sosial dan lingkungan. Tahun ini, NextDev mengusung tema “AI-Powered Innovations” dengan memprioritaskan pelaku usaha teknologi yang telah memanfaatkan atau mengeksplorasi AI dalam pengembangan inovasinya.
Program ini tidak hanya berfokus pada pengembangan teknologi, tetapi juga mendorong peserta memperkuat fundamental bisnis, memvalidasi kebutuhan pasar, serta menciptakan solusi yang memberikan dampak berkelanjutan.
VP Corporate Communications & Social Responsibility Telkomsel, Abdullah Fahmi, mengatakan NextDev menjadi wadah bagi para technopreneur untuk mengembangkan teknologi yang relevan dengan persoalan nyata di masyarakat.
“NextDev menjadi wadah bagi para technopreneur untuk membuktikan bagaimana teknologi, termasuk AI, dapat menjawab persoalan nyata,” ujarnya dikutip Jumat (9/10/2026).
Menurut Fahmi, Sebagai impact incubator, NextDev akan mendampingi mereka memperkuat teknologi, bisnis, dan dampak, sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan ekosistem Telkomsel. Akan ada tiga tahap, yaitu Scouting, Academy, dan Summit.
Pada tahap Scouting, proses kurasi akan memprioritaskan solusi yang telah memanfaatkan atau mengeksplorasi AI. Penilaian mencakup performa bisnis, dampak yang dihasilkan, keunikan inovasi, serta kualitas dan kesiapan para technopreneur.
Sebanyak 20 technopreneur terpilih akan mengikuti proses validasi dan pitching sebelum diseleksi menjadi 10 peserta NextDev Academy. Para peserta terpilih akan mendapatkan pendampingan dari mentor di bidang teknologi dan AI, keuangan, pemasaran, serta produktivitas.
“Melalui pendampingan tersebut, peserta diharapkan dapat memvalidasi kebutuhan pengguna, memperkuat model bisnis, meningkatkan operasional, dan mengoptimalkan pemanfaatan AI untuk menciptakan nilai tambah. Dengan demikian, inovasi yang dikembangkan tidak hanya berfokus pada kemampuan teknologi, tetapi juga pada relevansi solusi dan kesiapan bisnis,” ungkapnya.
Pengalaman mengikuti program ini dirasakan oleh Syekh A. Ageng, Founder & Director Luarkampus.id sekaligus Best Technopreneur NextDev ke-10. Ia menilai NextDev memberikan ruang bagi pelaku startup untuk menguji solusi, memperkuat fundamental bisnis, dan belajar langsung dari mentor serta pelaku industri.
“Bagi kami, NextDev adalah ruang yang baik untuk menguji solusi, memperkuat fundamental bisnis, dan belajar langsung dari para mentor serta pelaku industri. Berangkat dari Pontianak, kami merasakan bagaimana NextDev membuka koneksi, wawasan tentang AI, dan peluang untuk bertumbuh lebih jauh,” ujar Ageng.
Ia juga mengajak para technopreneur dari berbagai daerah untuk berpartisipasi dan membawa solusi yang telah dikembangkan. Menurutnya, proses inkubasi dapat menjadi kesempatan untuk menyempurnakan inovasi sekaligus memperluas koneksi bisnis, tanpa harus menunggu produk benar-benar sempurna sebelum mulai mengikuti program.
Untuk menjangkau lebih banyak inovator, NextDev tahun ini juga menghadirkan roadshow di Jakarta, Makassar, Batam, Denpasar, Bandung, dan Yogyakarta. Kegiatan tersebut dilengkapi Pitching Battle, yang memberikan kesempatan kepada technopreneur lokal yang lolos kurasi awal untuk mempresentasikan solusi di hadapan panel juri.
Dalam 11 penyelenggaraan sebelumnya, NextDev telah menginkubasi 162 perusahaan digital dari total 6.798 pendaftar dengan dukungan 2.316 ahli dan mentor. Para alumninya terus berkembang melalui akselerasi dan kolaborasi dalam ekosistem Telkomsel, termasuk di bidang pertanian, pendidikan, investasi, mobilitas listrik, efisiensi energi, dan gim digital.
STEVY WIDIA
