youngster.id - Pasar aset kripto di Indonesia menunjukkan daya tahan (resilience) yang luar biasa sekaligus membuktikan potensi pertumbuhan yang masif di sepanjang tahun 2026. Di saat kapitalisasi pasar kripto global sedang mengalami tren kontraksi, ekosistem digital dalam negeri justru terus berekspansi yang ditopang oleh lonjakan jumlah investor secara agresif dan nilai transaksi yang tetap kokoh.
Berdasarkan data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), akumulasi nilai transaksi aset kripto di pasar spot Indonesia telah menembus angka Rp122,02 triliun secara year-to-date (ytd) hingga Mei 2026. Untuk periode Mei 2026 sendiri, volume transaksi domestik tercatat mencapai Rp23,01 triliun, atau mengalami pertumbuhan tipis sebesar 0,11% jika dibandingkan dengan bulan April 2026 yang berada di angka Rp22,98 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, menegaskan bahwa performa ini mencerminkan tingginya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap tata kelola dan masa depan aset digital nasional.
“Di tengah fluktuasi nilai transaksi yang terjadi, kepercayaan konsumen terhadap ekosistem aset keuangan digital termasuk aset kripto Indonesia masih terjaga dengan baik,” ungkap Adi Budiarso dalam Asesmen Sektor Jasa Keuangan OJK, dikutip Senin (13/7/2026).
Jumlah Investor Tembus 22,4 Juta Akun
Selain dari sisi nilai transaksi, potensi pasar kripto Indonesia yang sangat besar juga terlihat jelas dari pertumbuhan basis penggunanya. OJK mencatat jumlah akun konsumen aset kripto yang terdaftar di Indonesia telah menyentuh angka 22,4 juta akun per Mei 2026. Angka fantastis ini tumbuh sebesar 3,17% secara month-to-date (mtd) dari bulan sebelumnya.
Uniknya, ketangguhan pasar domestik ini terjadi justru ketika industri kripto di tingkat global sedang mengalami tekanan yang cukup berat. Berdasarkan laporan dari CoinGecko pada kuartal I-2026, kapitalisasi pasar kripto global tercatat menyusut sebesar 20,4% secara kuartalan menjadi US$2,4 triliun.
Di samping itu, volume perdagangan spot di 10 bursa kripto terpusat (CEX) terbesar di dunia juga merosot tajam hingga 39,1% menjadi US$2,7 triliun. Kendati demikian, likuiditas pasar global dinilai masih terjaga karena kapitalisasi stablecoin mampu bertahan di kisaran US$309,9 miar. Kondisi kontradiktif ini kian menegaskan bahwa pasar Indonesia memiliki daya tarik tersendiri dengan ruang ekspansi yang masih sangat longgar.
Daya Tarik Pasar Pikat Pemain Global
Melihat potensi pasar dan pertumbuhan jumlah investor yang sangat masif di Indonesia tersebut, para pelaku industri global kian gencar menancapkan kukunya di Tanah Air. Salah satu langkah strategis terbaru ditunjukkan oleh kehadiran BTSE Indonesia, sebuah platform perdagangan aset digital yang baru saja resmi meluncur melalui skema joint venture dengan PT Aset Kripto Internasional (hasil rebranding dari NVX).
Chief Strategy Officer BTSE Indonesia, Stephanie Kusnadi, menilai besarnya pasar domestik harus diimbangi dengan layanan yang aman dan kompetitif.
“Dengan keahlian lokal yang mendalam serta dukungan dari salah satu exchange global terkemuka, BTSE Indonesia berada pada posisi yang unik untuk menghadirkan platform perdagangan yang aman, kompetitif, dan sepenuhnya mematuhi regulasi lokal,” pungkas Stephanie.
Melalui integrasi infrastruktur global, penyediaan lebih dari 200 aset kripto dengan pairings Rupiah (IDR) dan USDT, serta kolaborasi edukasi bersama regulator, masuknya para pemain baru ini diharapkan dapat semakin mempercepat kematangan dan memperluas likuiditas pasar kripto nasional di masa depan. (*AMBS)















Discussion about this post