youngster.id - Pada pertengahan 2010-an, ketika gelombang startup mulai membentuk lanskap baru ekonomi digital Indonesia, satu persoalan klasik terus muncul: mahalnya kantor. Bagi banyak founder, menyewa ruang kerja bukan hanya soal tempat, tetapi soal bertahan hidup—karena kontrak panjang dan biaya di muka bisa menguras kas sejak hari pertama.
Di tengah kondisi itu, CoHive lahir pada 2015 dengan nama EV Hive, sebagai proyek internal East Ventures. Tujuannya sederhana: menyediakan ruang kerja bagi startup portofolio mereka.
Tidak ada ambisi menjadi raksasa. Tidak ada narasi besar tentang disrupsi. Hanya solusi praktis untuk masalah nyata.
Namun ketika dibuka ke publik, respons pasar mengubah segalanya.
Titik Balik: Ketika Coworking Menjadi Solusi Sistemik
Tahun 2017 menjadi momen transformasi. Di bawah kepemimpinan Jason Lee, bersama Ethan Choi dan Carlson Lau, EV Hive berevolusi menjadi CoHive.

Mereka melihat masalah yang lebih besar dari sekadar ruang kerja: rigiditas pasar properti Indonesia. Sewa kantor yang mengharuskan komitmen panjang tidak cocok dengan karakter startup yang serba dinamis.
CoHive menjawab dengan pendekatan yang saat itu terasa revolusioner:
- Ruang kerja fleksibel tanpa kontrak panjang
- Pembayaran bulanan yang lebih ringan
- Lokasi strategis di pusat bisnis
- Komunitas yang mempertemukan founder, investor, dan kreator
Namun kekuatan utama CoHive bukan pada produknya, melainkan pada narasi yang mereka bangun: bekerja tidak harus kaku, dan kantor bisa menjadi ekosistem.
Masa Keemasan: Ketika Modal dan Momentum Bertemu
Dalam kurun 2017 hingga 2019, CoHive tumbuh dengan kecepatan yang jarang terlihat di industri properti. Mereka menunggangi dua gelombang besar sekaligus: ledakan startup dan derasnya investasi modal ventura.
Pertumbuhan CoHive berjalan seiring derasnya modal ventura masuk: pada Mei 2017 CoHive memperoleh pendanaan Pre-Series A US$800 ribu, dan September 2017 memperoleh pendanaan Series A US$3,5 juta. Lalu, pada Juni 2018, mengantongi dana Series A lanjutan US$20 juta dipimpin SoftBank Ventures Korea. Dan, pada Juni 2019 memperoleh pendanaan Series B tahap awal US$13,5 juta dipimpin Stonebridge Ventures.
Meraih total dana lebih dari US$37 juta dari investor elit seperti SoftBank Ventures Korea, H&CK Partners, dan Insignia Venture Partners, memungkinkan ekspansi agresif ke berbagai kota.
Pada puncaknya di 2019, CoHive telah menjelma menjadi pemimpin pasar coworking di Indonesia, dengan skala yang impresif:
- Sekitar 30 lokasi di berbagai kota
- Lebih dari 60.000 meter persegi ruang kerja
- Lebih dari 9.000 anggota dari 800+ perusahaan
- Hadir di Jakarta, Medan, Yogyakarta, Bali, dan Surabaya
- Menguasai sekitar 29% pasar coworking di CBD Jakarta
- Mengelola gedung ikonik CoHive 101 setinggi 18 lantai di Mega Kuningan
Mereka bahkan meluncurkan lini baru:
- CoLiving (hunian bersama)
- CoRetail (pop-up retail)
- CoHive Event Space
Di ekosistem startup Indonesia, CoHive ada di mana-mana. Logo mereka terpampang di pusat bisnis Jakarta. Acara komunitas digelar hampir setiap minggu. Media menyebut mereka sebagai simbol gaya kerja modern. Di titik ini, CoHive tidak lagi sekadar perusahaan. Mereka adalah representasi dari cara kerja masa depan.
Masalah yang Tak Terlihat: Ilusi dalam Model Bisnis
Di balik pertumbuhan yang mengesankan, terdapat satu kenyataan yang sering luput dari perhatian: coworking pada dasarnya adalah bisnis properti.
Artinya, ada karakteristik yang tidak bisa dihindari:
- Biaya tetap tinggi (sewa gedung jangka panjang)
- Ketergantungan pada tingkat okupansi
- Sensitif terhadap perubahan permintaan
Selama permintaan tinggi, model ini tampak solid. Namun sebenarnya, fondasinya rapuh terhadap guncangan.
Dalam kondisi normal, risiko ini tersembunyi. Dalam kondisi krisis, ia menjadi fatal.
Pandemi: Ketika Fondasi Diuji Sekaligus Dihancurkan
Awal 2020 menjadi titik yang mengubah segalanya. Pandemi COVID-19 memaksa dunia kerja bertransformasi secara instan.
Kantor ditutup. Mobilitas dibatasi. Work From Home menjadi norma.
Bagi CoHive, ini bukan sekadar penurunan bisnis—ini adalah disrupsi langsung terhadap model inti mereka. Permintaan coworking space turun drastis, sementara biaya tetap tidak bisa ikut turun.
Situasi ini menciptakan tekanan berlapis:
- Pendapatan turun drastis
- Kewajiban sewa dan utang tetap berjalan
- Strategi harga dianggap tidak efektif
- Masalah manajemen internal mencuat
Paruh kedua 2022, CoHive terpaksa menutup 80% lokasi.
Dalam waktu singkat, skala yang sebelumnya menjadi keunggulan berubah menjadi beban.
Upaya Bertahan: Terlambat di Tengah Perubahan Cepat
Pergantian kepemimpinan terjadi ketika Jason Lee mundur dan digantikan oleh Chris Angkasa. Harapannya, restrukturisasi bisa menyelamatkan perusahaan.
Namun tantangan yang dihadapi bukan sekadar internal. Pasar telah berubah.
Periode 2021–2022 menjadi fase bertahan hidup. CoHive mulai menutup lokasi secara bertahap, mencoba menyesuaikan biaya dengan realitas baru. Namun tekanan finansial terlalu besar untuk ditahan.
Hingga akhirnya:
- September 2022: entitas hukum PT Evi Asia Tenggara masuk status PKPU
- Oktober 2022: penutupan besar-besaran
- 18 Januari 2023: resmi dinyatakan pailit
Sebuah akhir yang kontras dengan kejayaannya hanya beberapa tahun sebelumnya.
Kronologi CoHive: Dari Lahir hingga Pailit
|
Tahun |
Fase |
Peristiwa Kunci |
Dampak Bisnis |
Catatan Analisis |
|
2015 |
Awal |
CoHive lahir sebagai EV Hive (proyek East Ventures) |
Internal use untuk startup portofolio |
Model awal masih lean & low-risk |
|
2016 |
Validasi pasar |
Dibuka untuk publik |
Demand tinggi, product-market fit awal |
Momentum pasar mulai terbentuk |
|
2017 |
Transformasi |
Rebranding jadi CoHive, dipimpin Jason Lee dkk |
Mulai ekspansi agresif |
Shift dari proyek → startup growth |
|
2017–2018 |
Scaling awal |
Pendanaan Series A & lanjutan |
Ekspansi cepat lokasi |
Mulai masuk fase burn tinggi |
|
2018 |
Boom industri |
Coworking tumbuh ~60% |
Demand meningkat signifikan |
Tailwind menutupi risiko |
|
2019 |
Puncak |
~30 lokasi, 60.000 m², market leader |
Dominasi pasar coworking |
Over-expansion mulai terbentuk |
|
2019 |
Diversifikasi |
CoLiving, CoRetail, Event Space |
Perluasan model bisnis |
Kompleksitas & cost meningkat |
|
Awal 2020 |
Shock |
COVID-19 muncul |
Demand turun drastis |
Black swan event |
|
2020 |
Krisis awal |
WFH massal, okupansi anjlok |
Revenue drop >50% |
Fixed cost tetap tinggi |
|
Des 2020 |
Restrukturisasi |
CEO berganti ke Chris Angkasa |
Upaya turnaround |
Terlambat |
|
2021 |
Survival |
Penyesuaian operasional |
Cash flow tertekan |
Burn rate tinggi |
|
2022 (Sep) |
Krisis akut |
Masuk PKPU |
Gagal bayar kewajiban |
Likuiditas kritis |
|
2022 (Okt) |
Shutdown |
Penutupan besar lokasi |
Operasi menyusut drastis |
Scaling reversal |
|
18 Jan 2023 |
Akhir |
Pailit |
Operasi berhenti |
Collapse total
|
Bedah Kegagalan: Di Mana Letak Kesalahannya?
Jika ditarik ke akar, kejatuhan CoHive bukan sekadar akibat pandemi. Krisis hanya mempercepat sesuatu yang sudah rapuh.
Ada dua faktor utama yang menjadi titik lemah:
1. Ekspansi tanpa validasi unit economics yang matang
CoHive tumbuh cepat, tetapi tidak semua lokasi terbukti menguntungkan. Dalam bisnis dengan biaya tetap tinggi, kesalahan kecil dalam perhitungan bisa berlipat ganda saat skala membesar.
2. Ketergantungan penuh pada aset fisik
Tidak adanya diversifikasi ke model digital atau hybrid membuat CoHive tidak memiliki bantalan saat dunia berubah. Mereka terkunci dalam model yang tidak lagi relevan.
Unit Economics (Per Lokasi / Per Kursi – Simplifikasi Model)
|
Komponen |
Kondisi Ideal (Sebelum Pandemi) |
Kondisi Saat Krisis |
Dampak |
|
Revenue per seat |
Stabil (okupansi tinggi) |
Turun drastis |
Pendapatan tidak menutup biaya |
|
Occupancy rate |
70–90% |
<40% bahkan <20% |
Titik impas hilang |
|
Fixed cost (sewa) |
Tinggi tapi tertutup |
Tetap tinggi |
Jadi beban utama |
|
Variable cost |
Relatif kecil |
Sedikit turun |
Tidak signifikan |
|
Margin per lokasi |
Positif / tipis |
Negatif |
Kerugian berlipat |
Insight: Masalah utama bukan pada revenue semata, tapi pada ketidakmampuan menurunkan fixed cost saat demand jatuh.
Burn Rate Dynamics
|
Fase |
Karakter Burn Rate |
Penjelasan |
|
2017–2018 |
Tinggi (Growth burn) |
Ekspansi agresif didukung pendanaan |
|
2019 |
Sangat tinggi |
Peak expansion + diversifikasi |
|
2020 |
Ekstrem |
Revenue drop, cost tetap |
|
2021 |
Tidak terkendali |
Cash out > cash in |
|
2022 |
Kritis |
Menuju insolvency |
Insight: Burn rate CoHive berubah dari strategic burn (untuk growth) menjadi survival burn (untuk bertahan hidup)—ini fase paling berbahaya dalam lifecycle startup.
Dari dua tabel di atas, terlihat jelas bahwa kejatuhan CoHive bukan sekadar karena pandemi, tetapi karena kombinasi:
- High fixed cost + aggressive scaling
- Unit economics yang belum sepenuhnya matang
- Tidak adanya shock absorber (diversifikasi revenue)
Pandemi hanya bertindak sebagai pemicu (trigger), bukan akar masalah.
Pelajaran untuk Startup: Antara Ambisi dan Ketahanan
Kisah CoHive menyisakan pelajaran yang relevan, tidak hanya untuk industri coworking, tetapi untuk seluruh startup:
- Pertumbuhan harus diiringi dengan kesehatan unit economics
- Fleksibilitas bukan fitur tambahan, melainkan strategi inti
- Diversifikasi pendapatan adalah perlindungan, bukan pilihan
Startup bisa bertahan bukan karena tumbuh cepat, tetapi karena mampu beradaptasi saat arah angin berubah.
Meski telah runtuh, pengaruh CoHive tidak benar-benar hilang. Mereka berperan dalam mengubah cara pandang terhadap kerja:
- Kantor tidak lagi harus permanen
- Kolaborasi menjadi nilai utama
- Komunitas menjadi bagian dari produktivitas
Hari ini, konsep kerja fleksibel semakin umum—sebuah warisan yang pernah diperjuangkan CoHive.
Penutup: Ketika Masa Depan Datang Terlalu Cepat
CoHive membangun visinya di atas keyakinan bahwa masa depan kerja akan fleksibel dan terdesentralisasi.
Mereka tidak salah.
Namun pandemi mempercepat masa depan itu dalam bentuk yang tidak mereka antisipasi.
Dan ketika perubahan datang terlalu cepat, bahkan perusahaan yang paling siap pun bisa tertinggal—terutama jika fondasinya belum cukup kuat.
CoHive tumbuh seperti raksasa dalam waktu singkat.
Namun pada akhirnya, ia runtuh oleh kombinasi yang paling sulit dilawan: skala yang terlalu cepat dan dunia yang berubah terlalu drastis. (*AMBS)