youngster.id - Saat ini, Asia Pasifik, khususnya Asia Tenggara, menjadi laboratorium pembayaran paling menarik di dunia. Dari warung kopi di pelosok Indonesia hingga pusat jajanan hawker di Singapura, aktivitas menarik ponsel untuk memindai kode QR telah menjadi insting kedua, menggeser peran kartu kredit dan lembaran uang kertas.
Laporan Global Payments Report 2026 memberikan konteks yang benderang. Secara global, pada tahun 2030, aplikasi pembayaran (dompet digital, BNPL, transfer antar-akun/A2A) diprediksi akan menguasai 46% dari total pengeluaran di titik penjualan (POS), dengan nilai fantastis mencapai US$15,6 triliun.
Lantas, bagaimana negara-negara di Asia Tenggara bergerak dalam peta persaingan ini? Asia Tenggara tidak lagi hanya mengikuti tren global—kawasan ini sedang menciptakan standarnya sendiri.
Di Negeri Singa, misalnya, untuk pertama kalinya, pada tahun 2025, dompet digital resmi menyalip kartu debit sebagai metode pembayaran utama di gerai fisik. Dompet digital kini menguasai 36% nilai transaksi POS dan 40% nilai e-commerce.
Meskipun pemain global seperti Apple Pay dan Google Pay semakin menjamur, juara lokal seperti GrabPay dan ShopeePay tetap dominan di ranah online. Menariknya, masyarakat Singapura masih gemar menautkan kartu kredit ke dompet digital mereka, dengan rasio penggunaan kartu kredit berbanding debit sebesar 3 banding 1.
Sementara itu, Pemerintah Malaysia memiliki misi besar dalam Financial Sector Blueprint: mengurangi penggunaan tunai untuk menekan angka penggelapan pajak. Hasilnya? Penggunaan uang tunai anjlok dari 64% di tahun 2019 menjadi hanya 22% di tahun 2025.
Infrastruktur DuitNow QR menjadi tulang punggung dengan 2,6 juta titik penerimaan. Di sini, dompet digital lokal seperti Touch ‘n Go dan Boost masih lebih dicintai konsumen dibandingkan merek global.
Filipina adalah pasar yang unik. Di satu sisi, dompet digital seperti GCash menggila dengan menghubungkan 94 juta pengguna ke 6 juta merchant. Namun di sisi lain, Filipina mencatatkan rekor penggunaan tunai tertinggi di dunia (42% transaksi di toko). Hal ini masuk akal mengingat data Bank Dunia menunjukkan 50% populasi Filipina masih belum memiliki rekening bank (unbanked), sehingga sistem Cash on Delivery (COD) tetap menjadi pilar utama e-commerce.
Indonesia mencatatkan penurunan penggunaan tunai tercepat di kawasan. Porsi transaksi tunai menyusut drastis dari 77% (2019) menjadi 36% (2025). Dua aktor utamanya: QRIS (standar QR nasional) dan BI-FAST.
Hingga Agustus 2025, QRIS telah menghubungkan 57 juta pengguna ke 40 juta merchant. Nama-nama seperti GoPay, DANA, dan OVO bukan lagi sekadar aplikasi, melainkan gaya hidup yang menyatukan ekonomi mikro hingga retail besar.
Di Thailand, sistem PromptPay membuat metode Account-to-Account (A2A) menjadi raja, mencakup 43% nilai transaksi di toko. Sementara di Vietnam, pertumbuhan kode QR melesat hingga 151% dalam setahun berkat VietQR. Vietnam juga menjadi pasar paling kompetitif dengan 49 operator dompet digital berlisensi, di mana MoMo dan ZaloPay bersaing ketat dengan raksasa global.
Phil Pomford, General Manager Global eCommerce APAC di Global Payments, melihat tren ini sebagai langkah menuju integrasi regional.
“Standar QR yang saling terhubung (interoperabel) sedang menjahit kawasan ini menjadi koridor pembayaran real-time yang terpadu dan berbiaya rendah,” jelas Phil, seperti dilansir Fintech News Singapore, Kamis (9/4/2026).
Bagi para pelaku bisnis, memahami kurva adopsi di tiap negara adalah kunci. Tidak ada metode tunggal yang mendominasi seluruh Asia Tenggara. Keberhasilan ekonomi digital di kawasan ini didorong oleh ramuan unik: insentif dari pedagang, mandat regulasi pemerintah, dan infrastruktur publik-swasta yang solid. (*AMBS)
















Discussion about this post