youngster.id - Penyedia solusi pengelolaan sampah terintegrasi, Waste4Change, mulai memperluas pengaruh strategisnya di kawasan Asia Tenggara. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya tekanan biaya energi dan gangguan rantai pasok global yang memaksa negara-negara berkembang untuk mencari alternatif bahan baku melalui ekonomi sirkular.
Di kawasan di mana biaya virgin materials terus melonjak akibat ketegangan geopolitik, Waste4Change memposisikan model bisnisnya sebagai solusi ketahanan ekonomi. Dengan mengintegrasikan sistem pengumpulan, pemilahan, hingga pemrosesan skala besar, perusahaan berupaya menjawab tantangan fragmentasi sistem pengelolaan sampah yang selama ini menjadi hambatan utama di pasar regional.
Berbeda dengan layanan pengelolaan sampah tradisional, Waste4Change mengintegrasikan sektor rumah tangga, aliran sampah komersial, hingga sektor informal ke dalam sistem pengolahan hilir. Model integrasi penuh ini menjadi krusial di pasar Asia Tenggara yang masih memiliki celah infrastruktur signifikan.
Sejak 2014, Waste4Change telah menunjukkan kapasitas skalabilitasnya dengan mengumpulkan hampir 65 juta kilogram sampah di 19 lokasi di Indonesia. Pada tahun 2024, perusahaan berhasil memproses 8,1 juta kilogram material daur ulang, membuktikan bahwa solusi sirkular dapat memberikan dampak ekonomi yang terukur dan kompetitif.
“Pertumbuhan kami adalah bukti bahwa solusi sirkular dapat memberikan dampak nyata. Kami tidak hanya mengurangi beban landfill, tetapi mentransformasi sampah menjadi sumber daya yang memperkuat ekonomi,” ujar Mohamad Bijaksana Junerosano, Founder & CEO Waste4Change, dikutip Senin (11/5/2026).
Ekspansi Waste4Change mencerminkan pergeseran paradigma di Asia Tenggara, di mana sektor pengelolaan sampah kini dipandang sebagai bagian dari infrastruktur pendukung kinerja ekonomi jangka panjang.
Helen Wong, Managing Partner ACV Capital, menyatakan bahwa peluang iklim di kawasan ini tidak lagi hanya soal emisi, tetapi soal resiliensi.
“Di pasar dengan ketergantungan eksternal yang tinggi terhadap sumber daya, sistem pemulihan material menjadi sentral dalam penilaian risiko dan penciptaan nilai jangka panjang bagi investor,” ungkap Helen.
Rencana ekspansi ini juga didukung oleh momentum regulasi di Asia Tenggara, seperti kerangka kerja Extended Producer Responsibility (EPR) dan target pengurangan sampah nasional yang mulai diperketat. Hal ini membuka jalan bagi masuknya modal swasta untuk mendukung platform yang mampu beroperasi secara efisien dalam skala regional.
Melalui efisiensi sumber daya dan pengurangan ketergantungan pada bahan baku impor, Waste4Change optimis dapat terus memperluas jangkauan layanannya guna menciptakan ekosistem industri yang lebih stabil dan berkelanjutan di Asia Tenggara.
STEVY WIDIA
