youngster.id - Memasuki tahun kelima operasionalnya, Lembaga Pengelola Investasi atau Indonesia Investment Authority (INA) mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang signifikan. Sepanjang tahun 2025, INA berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp7,4 triliun, meningkat 37,3% dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan laba ini didorong oleh total pendapatan sebesar Rp8,5 triliun yang bersumber dari dividen, pendapatan bunga, serta keuntungan yang belum direalisasikan (unrealized gain) dari investasi. Pencapaian ini mencerminkan kedewasaan institusi dalam mengelola portofolio di tengah dinamika pasar global dan domestik.
Sejak didirikan, INA bersama para mitra investor (co-investors) telah menyalurkan investasi kumulatif sekitar Rp74,5 triliun (sekitar US$4,7 miliar). Dari jumlah tersebut, porsi investasi langsung dari INA mencapai Rp33,3 triliun (sekitar US$2,1 miliar).
INA juga berperan strategis dalam menarik modal asing ke tanah air. Nilai Investasi Langsung Asing (Foreign Direct Investment/FDI) kumulatif yang berhasil ditarik oleh INA mencapai Rp41,2 triliun (sekitar US$2,6 miliar).
Khusus pada tahun 2025, total investasi yang disalurkan bersama mitra mencapai Rp15,7 triliun (sekitar US$982 juta), dengan porsi mandiri INA sebesar Rp10,5 triliun (sekitar US$654 juta).
INA mengalokasikan modalnya secara terukur pada sektor-sektor yang selaras dengan prioritas pembangunan nasional, antara lain: Infrastruktur, Transportasi, dan Logistik; Energi Hijau dan Transisi Energi; Digitalisasi dan Infrastruktur Digital; Layanan Kesehatan dan Advanced Materials.
Pertumbuhan portofolio yang stabil ini berdampak pada ekspansi aset yang dikelola atau Assets Under Management (AUM) INA, yang tercatat mencapai Rp146,2 triliun pada akhir 2025.
Ketangguhan institusi INA juga diakui oleh lembaga pemeringkat internasional. INA berhasil mempertahankan peringkat layak investasi (investment grade) dari Fitch Ratings, yakni ‘BBB’ pada skala internasional (setara dengan peringkat sovereign Indonesia) dan ‘AAA(idn)’ pada skala nasional.
“Keuangan INA tetap stabil sebagaimana tercermin dalam peringkat kreditnya. Kinerja ini mencerminkan disiplin berkelanjutan dalam pengelolaan portofolio serta penguatan fondasi operasional dari waktu ke waktu,” tulis INA dalam keterangan resminya, dikutip Jum’at (15/5/2026).
Dengan menerapkan hybrid capital solutions, INA terus berkomitmen menjadi mitra investasi pilihan yang mengedepankan tata kelola yang baik (good corporate governance) demi pembangunan jangka panjang Indonesia. (*AMBS)
