youngster.id - Dua raksasa manufaktur, PT Muliaglass dan PT Muliakeramik Indahraya, memulai babak baru dalam efisiensi energi dengan mengoperasikan instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap terbesar di Indonesia. Proyek ambisius berkapasitas 22,5 MW ini terwujud berkat kolaborasi strategis dengan startup energi terbarukan, Xurya (PT Xurya Daya Indonesia).
Instalasi yang berlokasi di Komplek Mulia Industri, Cikarang ini, mencakup 36.862 panel surya yang terpasang di atas lahan seluas 122.783 m². Langkah ini menjadi tonggak sejarah bagi sektor industri manufaktur dalam mendukung transisi energi nasional melalui pemanfaatan energi bersih skala masif.
Sebagai mitra pengembang, Xurya menghadirkan solusi zero upfront cost atau skema sewa tanpa biaya awal. Inovasi model bisnis ini memungkinkan Mulia Group untuk mengintegrasikan energi terbarukan ke dalam fasilitas produksi mereka tanpa harus mengeluarkan belanja modal (Capex) yang besar di awal.
Managing Director Xurya, Eka Himawan, menjelaskan bahwa proyek ini menjadi bukti nyata kapabilitas startup lokal dalam menangani proyek infrastruktur energi dengan kompleksitas tinggi.
“Kami memastikan proses instalasi berjalan selaras dengan aktivitas pabrik yang beroperasi 24 jam penuh, sehingga transisi energi tidak mengganggu ritme produksi klien,” ungkap Eka.
Pemanfaatan PLTS Atap rancangan Xurya ini diproyeksikan mampu memberikan dampak lingkungan yang signifikan setiap tahunnya melalui berbagai pencapaian hijau yang terukur. Kehadiran instalasi ini diperkirakan dapat menekan emisi hingga 26,8 juta kilogram CO₂, sebuah angka yang setara dengan daya serap karbon oleh 198.258 pohon.
Selain mereduksi emisi, sistem energi surya ini juga berperan langsung dalam efisiensi sumber daya fosil dengan memangkas penggunaan batu bara hingga 20.000 kilogram. Dari sisi produktivitas, infrastruktur energi terbarukan ini mampu menghasilkan rata-rata 68.500 kWh listrik setiap harinya, yang didistribusikan secara optimal untuk mendukung stabilitas dan kebutuhan energi operasional pabrik secara berkelanjutan.
Ekman Tjandranegara, Direktur PT Mulia Industrindo Tbk mengatakan bahwa PLTS Atap ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat operasional berkelanjutan sekaligus menjaga kualitas dan kontinuitas produksi.
“Kami menggandeng Xurya sebagai mitra berpengalaman agar instalasi berjalan selaras dengan operasional. Selain itu, kami juga meyakini pemanfaatan energi surya merupakan bagian dari peran industri dalam mendukung keberlanjutan dan transisi energi nasional, sekaligus memperkuat komitmen jangka panjang kami untuk meningkatkan efisiensi dan kinerja perusahaan,” jelas Ekman.
Untuk memastikan keamanan aset industri yang bernilai tinggi, Xurya menggandeng lembaga inspeksi asal Jerman, TÜV Rheinland Indonesia. Seluruh instalasi telah dinyatakan memenuhi standar mutu SNI IEC 62446-1:2016, memberikan jaminan keamanan jangka panjang bagi operasional Mulia Glass dan Mulia Keramik.
Pemerintah melalui Kementerian ESDM dan Kementerian Perindustrian memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif ini. Hingga tahun 2026, kapasitas PLTS Atap nasional telah mencapai 861,14 MWp, di mana 81% kontribusinya berasal dari sektor industri.
Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri, Emmy Suryandari, menyatakan bahwa langkah PT Muliaglass dan PT Muliakeramik Indahraya sejalan dengan target Net Zero Emission (NZE) sektor industri pada tahun 2050. Hal ini juga memperkuat daya saing industri pengolahan nasional yang pertumbuhannya kini melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
Langkah kolaboratif antara perusahaan manufaktur besar dan startup teknologi energi ini diharapkan dapat menjadi katalisator bagi sektor industri lainnya untuk segera mengadopsi energi surya sebagai strategi bisnis yang berkelanjutan.
STEVY WIDIA

















Discussion about this post