Kamis, 9 April 2026
No Result
View All Result
youngster.id
Pratesis Ads
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development
No Result
View All Result
youngster.id
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development
No Result
View All Result
youngster.id
No Result
View All Result
Home Headline Industry

RI dan ASEAN Percepat Pasar Karbon, Potensi Pendapatan Tembus US$3 Triliun

8 April 2026
in Industry
Reading Time: 2 mins read
Pasar Karbon ASEAN

RI dan ASEAN Percepat Pasar Karbon, Potensi Pendapatan Tembus US$3 Triliun (Foto: Ilustrasi)

0
SHARES
0
VIEWS

youngster.id - Negara-negara di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, kini tengah mempercepat pengembangan pasar karbon regional guna menghadapi risiko perubahan iklim yang kian ekstrem. Laporan terbaru dari RHB Investment Bank mengungkapkan bahwa langkah strategis ini berpotensi memberikan keuntungan ekonomi raksasa bagi kawasan.

Melalui inisiatif ASEAN Common Carbon Framework (ACCF), kawasan ini diproyeksikan mampu menghasilkan pendapatan kumulatif hingga US$3 triliun (sekitar Rp47.000 triliun) pada tahun 2050. Selain pendapatan, integrasi pasar karbon ini diharapkan mampu menciptakan 13,7 juta lapangan kerja hijau (green jobs) baru di Asia Tenggara.

“Negara-negara ASEAN harus berkolaborasi untuk membangun ekosistem perdagangan karbon yang aktif guna memitigasi dampak risiko iklim dan pajak karbon eksternal,” tulis laporan tersebut, seperti dilansir TN Global, Rabu (8/4/2026).

Baca juga :   10 Universitas Terbaik Indonesia Versi THE University WUR 2026

Indonesia memegang posisi krusial dalam ekosistem ini berkat kekayaan sumber daya alamnya. Dengan lahan gambut dan mangrove yang luas, Indonesia kini memperkuat pasar karbon melalui regulasi baru dan memiliki pipeline lebih dari 32 juta ton kredit karbon.

Langkah Indonesia ini sejalan dengan tren regional di mana proyek berbasis alam (nature-based projects) mendominasi hingga 74% dari total penerbitan kredit karbon di ASEAN.

Selain Indonesia, negara tetangga juga mulai melakukan langkah konkret. Malaysia bersiap memperkenalkan pajak karbon yang menargetkan sektor baja dan energi guna mendorong aktivitas di Bursa Carbon Exchange. Sementara itu, Singapura memposisikan diri sebagai hub layanan karbon global dengan menaikkan pajak karbon menjadi S$45 per ton dan menjalin kerja sama kredit karbon internasional dengan negara-negara seperti Peru dan Ghana.

Baca juga :   Riset UI: Gojek Sumbang Rp 55 Triliun ke RI

Data RHB menunjukkan bahwa investasi hijau di enam ekonomi utama ASEAN melonjak 43% menjadi US$8 miliar pada tahun 2024. Proyek tenaga surya dan pengelolaan limbah menjadi penggerak utama investasi di kawasan ini, terutama di Singapura dan Malaysia yang menyumbang 60% dari total nilai investasi.

 

Meski menunjukkan progres positif, pasar karbon ASEAN dinilai masih terfragmentasi. RHB menekankan bahwa keberhasilan komersialisasi karbon sangat bergantung pada permintaan global dan keselarasan kebijakan antarnegara anggota. (*AMBS)

Tags: ASEANekonomi hijauinvestasi hijauKredit Karbon IndonesiaPajak Karbonpasar karbonRHB Investment Banksustainability
Previous Post

Sekarang AI Google Gemini Bisa Diakses Lewat Paket Data Indosat

Related Posts

Maybank Indonesia
Digital Business

Maybank Indonesia Akselerasi Pembiayaan Berkelanjutan hingga Rp8,24 Triliun pada 2025

2 April 2026
0
TBS Energi Utama x Bank DBS Indonesia
Digital Business

Dukung Dekarbonisasi, Bank DBS Kucurkan Investasi ke TBS Energi Utama untuk Target Net Zero 2030

1 April 2026
0
Dekarbonisasi Schneider Electric
News

Schneider Electric Lampaui Target Dekarbonisasi 2025: Berhasil Pangkas 862 Juta Ton Emisi CO2 Pelanggan

5 Maret 2026
0
Load More

Discussion about this post

Recent Updates

Pasar Karbon ASEAN

RI dan ASEAN Percepat Pasar Karbon, Potensi Pendapatan Tembus US$3 Triliun

8 April 2026
Google Gemini AI

Sekarang AI Google Gemini Bisa Diakses Lewat Paket Data Indosat

8 April 2026
Kenangan Coffee Taiwan

Kenangan Coffee Ekspansi ke Taiwan, Buka Gerai Pertama di Taipei

8 April 2026
Hyper-Localized Marketing dan AI Jadi Kunci Strategi Brand di Era Digital

Hyper-Localized Marketing dan AI Jadi Kunci Strategi Brand di Era Digital

8 April 2026
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Dera Perdana Shopian : Ajak Milenial Berdonasi Digital

Dera Perdana Shopian : Ajak Milenial Berdonasi Digital

27 Juni 2019
Sayurbox x Blitz

Sayurbox Gunakan Motor Listrik Blitz untuk Layanan Pengiriman

10 Januari 2024
Startup Hayokerja

Startup HayoKerja Hadirkan Solusi PHL bagi Perusahaan Pencari Tenaga Kerja

25 September 2023
fraud KoinP2P - KoinWorks

Gara-Gara Kasus Fraud KoinP2P, Rusak KoinWorks Sebelanga

22 November 2025
Junaidi : Bikin Bimbel Karena Cinta Jadi Guru

Junaidi : Bikin Bimbel Karena Cinta Jadi Guru

0
Brother Indonesia Rilis Aplikasi Mobile Brother iShop

Brother Indonesia Rilis Aplikasi Mobile Brother iShop

0
Bangun Bagian Dapur, IKEA Dukung Pembuatan Film “Ini Kisah Tiga Dara”

Bangun Bagian Dapur, IKEA Dukung Pembuatan Film “Ini Kisah Tiga Dara”

0
Ferdian Yosa : Menangkap Tren di Bisnis Kuliner

Ferdian Yosa : Menangkap Tren di Bisnis Kuliner

0
Pasar Karbon ASEAN

RI dan ASEAN Percepat Pasar Karbon, Potensi Pendapatan Tembus US$3 Triliun

8 April 2026
Google Gemini AI

Sekarang AI Google Gemini Bisa Diakses Lewat Paket Data Indosat

8 April 2026
Kenangan Coffee Taiwan

Kenangan Coffee Ekspansi ke Taiwan, Buka Gerai Pertama di Taipei

8 April 2026
Hyper-Localized Marketing dan AI Jadi Kunci Strategi Brand di Era Digital

Hyper-Localized Marketing dan AI Jadi Kunci Strategi Brand di Era Digital

8 April 2026
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Layanan Bisnis
Copyright © 2016 - PT Inovasi Muda Mandiri. All rights reserved
No Result
View All Result
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development

Copyright © 2016 - PT Inovasi Muda Mandiri. All rights reserved

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.
Go to mobile version