youngster.id - Negara-negara di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, kini tengah mempercepat pengembangan pasar karbon regional guna menghadapi risiko perubahan iklim yang kian ekstrem. Laporan terbaru dari RHB Investment Bank mengungkapkan bahwa langkah strategis ini berpotensi memberikan keuntungan ekonomi raksasa bagi kawasan.
Melalui inisiatif ASEAN Common Carbon Framework (ACCF), kawasan ini diproyeksikan mampu menghasilkan pendapatan kumulatif hingga US$3 triliun (sekitar Rp47.000 triliun) pada tahun 2050. Selain pendapatan, integrasi pasar karbon ini diharapkan mampu menciptakan 13,7 juta lapangan kerja hijau (green jobs) baru di Asia Tenggara.
“Negara-negara ASEAN harus berkolaborasi untuk membangun ekosistem perdagangan karbon yang aktif guna memitigasi dampak risiko iklim dan pajak karbon eksternal,” tulis laporan tersebut, seperti dilansir TN Global, Rabu (8/4/2026).
Indonesia memegang posisi krusial dalam ekosistem ini berkat kekayaan sumber daya alamnya. Dengan lahan gambut dan mangrove yang luas, Indonesia kini memperkuat pasar karbon melalui regulasi baru dan memiliki pipeline lebih dari 32 juta ton kredit karbon.
Langkah Indonesia ini sejalan dengan tren regional di mana proyek berbasis alam (nature-based projects) mendominasi hingga 74% dari total penerbitan kredit karbon di ASEAN.
Selain Indonesia, negara tetangga juga mulai melakukan langkah konkret. Malaysia bersiap memperkenalkan pajak karbon yang menargetkan sektor baja dan energi guna mendorong aktivitas di Bursa Carbon Exchange. Sementara itu, Singapura memposisikan diri sebagai hub layanan karbon global dengan menaikkan pajak karbon menjadi S$45 per ton dan menjalin kerja sama kredit karbon internasional dengan negara-negara seperti Peru dan Ghana.
Data RHB menunjukkan bahwa investasi hijau di enam ekonomi utama ASEAN melonjak 43% menjadi US$8 miliar pada tahun 2024. Proyek tenaga surya dan pengelolaan limbah menjadi penggerak utama investasi di kawasan ini, terutama di Singapura dan Malaysia yang menyumbang 60% dari total nilai investasi.
Meski menunjukkan progres positif, pasar karbon ASEAN dinilai masih terfragmentasi. RHB menekankan bahwa keberhasilan komersialisasi karbon sangat bergantung pada permintaan global dan keselarasan kebijakan antarnegara anggota. (*AMBS)
