Satelit Nano Pertama dari Indonesia Meluncur ke ISS via SpaceX

Tim Surya Satellite-1

Tim Surya Satellite-1. (Foto: istimewa)

youngster.id - Satelit Nano hasil pengembangan ilmuwan muda Indonesia diluncurkan ke International Space Station (ISS) dengan menggunakan roket Falcon 9 SpaceX. Satelit bernama Surya Satellite-1 (SS-1) ini merupakan satelit pertama yang dikembangkan secara mandiri oleh anak muda Indonesia.

CEO Pasifik Satelit Nusantara, Adi Rahman Adiwoso, mengatakan bahwa momentum ini menjadi milestone penting bagi industri satelit Indonesia yang akan memicu semangat generasi muda untuk berkarya dan berinovasi mendukung kebutuhan satelit nasional.

“Satelit SS-1 ini juga merupakan bagian dari visi dan ambisi strategis PSN dalam berkontribusi kepada Indonesia sesuai dengan komitmen perusahaan, untuk menjadi perusahaan Indonesia yang berskala global. PSN akan terus berinovasi dalam rangka mempercepat konektivitas digital di Indonesia,” kata Adi dalam siaran pers, Rabu (13/11/2022).

Satelit SS-1 meluncur dalam misi CRS-26 dengan menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX dari NASA Kennedy Space Center, Florida. SS-1 meluncur menggunakan cargo Dragon SpaceX menuju ISS, dan akan menjalani proses orbit raising selama kurang lebih 11 hari hingga sampai di ISS.

Menurut Adi PSN juga akan terus mendorong pengembangan satelit dalam negeri agar industri keantariksaan Indonesia bisa tumbuh termasuk berkolaborasi dengan instansi pemerintah, pihak swasta dan para akademisi. “Kami bangga karena empat anak muda yang terlibat dalam pengembangan satelit nano ini merupakan insinyur di PSN yang mewakili visi untuk mendorong inovasi di Indonesia,” ujarnya.

Ide dan proyek pengembangan satelit nano diprakarsai Universitas Surya, didukung kolaborasi multi-pihak antara tim insinyur muda bersama PSN, ORARI, Pudak Scientific, serta didukung Kemenkominfo, Pusteksat LAPAN, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Head of Research Center of Satellite Technology BRIN Dr.Ing.Wahyudi Hasbi mendukung penuh pengembangan teknologi satelit nano. SS-1 ini menjadi titik awal yang menunjukkan bahwa Indonesia mampu menjadi pionir karya besar yang akan membuka jalan bagi generasi muda Indonesia untuk memajukan satelit bangsa.

“Pusat Riset Teknologi Satelit-BRIN akan selalu mendukung pengembangan satelit yang dikembangkan oleh universitas-universitas & startup Indonesia dengan expertise yang telah dimiliki, dalam skema dukungan riset serta fasilitas pengujian dan integrasi satelit yang disiapkan oleh BRIN,” ujarnya.

Kepala Prodi Teknik Fisika Surya University sekaligus Principal Investigator SS-1, Prof. Sunartoto Gunadi, mengatakan bahwa selain membanggakan, dirinya meyakini masa depan industri satelit di Indonesia akan semakin cerah. Menurutnya dukungan penuh dari PSN dan stakeholder lainnya selama proses pengembangan juga menjadi bukti bahwa dukungan dari pelaku industri bisa menghasilkan ilmuwan-ilmuwan muda yang bisa berkontribusi bagi Indonesia.

Tim ini terdiri dari Zulfa Dhiyaulhaq, Setra Yoman Prahyang, Hery Steven, Suhandinata, Afiq Herdika Sulistya, dan Roberto Gunawan. Sebelumnya, Februari 2018, Tim Surya Satellite-1 mengikuti sayembara program KiboCUBE yang diinisiasi United Nations Office for Outer Space Affairs (UNOOSA) dan Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA). Sayembara ini memiliki misi peningkatan kapasitas di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi antariksa, khususnya negara-negara berkembang.

Pada Agustus 2018, Tim Surya Satellite-1 diumumkan menjadi pemenang pada sayembara ini sehingga satelitnya dapat diluncurkan dari ISS secara gratis. Ketua Tim Pengembangan Satelit Nano, Setra Yoman Prahyang, menegaskan bahwa SS-1 menjadi bukti nyata bahwa satelit nano bisa menjadi sarana bagi pelaku industri maupun akademisi di bidang kedirgantaraan dan antariksa. Menurutnya SS-1 juga akan menjadi benchmark untuk pengembangan satelit nano lainnya di Indonesia dan diperlukannya kolaborasi strategis yang akan mendukung kemajuan industri satelit Indonesia dan harapannya di masa depan Indonesia memiliki sumber daya dan para ahli satelit yang handal.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version