youngster.id - Sebanyak 37 perusahaan finansial berbasis teknologi (fintech) asal Asia Tenggara berhasil masuk dalam daftar tahunan World’s Top Fintech Companies 2026 yang dirilis oleh media ekonomi global CNBC.
Daftar bergengsi skala global ini disusun melalui kerja sama dengan lembaga riset pasar dunia, Statista. Penilaian dilakukan terhadap ribuan entitas bisnis di seluruh dunia dengan mengevaluasi berbagai metrik utama, seperti pertumbuhan pendapatan (revenue growth) hingga inovasi teknologi, hingga akhirnya terpilih 500 perusahaan paling menonjol secara global.
Dalam pemeringkatan tahun 2026 ini, kawasan Asia Tenggara diwakili oleh 21 perusahaan yang kembali mempertahankan posisinya (returning winners), serta 16 perusahaan baru (first-time additions).
“Komposisi ini mencerminkan ekspansi layanan keuangan digital yang kian masif di seluruh kawasan regional,” katanya, dikutip Jum’at (24/7/2026).
Singapura masih mengukuhkan posisinya sebagai hub fintech utama di Asia Tenggara dengan menyumbang 27 perusahaan. Sementara itu, 10 posisi tersisa diisi oleh para pemain utama (domestic champions) dari Indonesia, Malaysia, Vietnam, Thailand, Filipina, dan Myanmar.
Dominasi Singapura dan Kiprah Wakil Indonesia
Dominasi Singapura diwakili oleh kombinasi kuat antara pemain lama dan pendatang baru di berbagai sektor, seperti pembayaran, aset digital, insurtech, hingga pengelolaan kekayaan (wealth management). Beberapa nama besar di antaranya adalah Airwallex, platform pembayaran lintas negara yang bermarkas ganda di San Francisco dan Singapura, serta Amber Group, perusahaan manajemen aset digital yang menandai debutnya tahun ini.
Indonesia turut mempertahankan eksistensinya di panggung global melalui dua nama besar, yaitu GoTo—konglomerasi teknologi dengan ekosistem layanan keuangan terintegrasi—serta Qoala, perusahaan insurtech yang kini melayani berbagai pasar di Asia Tenggara.
Negara tetangga lainnya juga menunjukkan taji. Malaysia meloloskan tiga perusahaan, termasuk platform pembiayaan rantai pasok berbasis AI CapBay dan platform pembayaran digital Boost milik Axiata. Sementara itu, Vietnam diwakili oleh dua operator dompet digital ternama yang baru pertama kali masuk daftar global, yakni VNPay dan Zalopay.
Untuk wilayah lainnya, Thailand diwakili oleh Ascend Money (operator TrueMoney) yang berhasil mempertahankan posisinya, Filipina meloloskan Mynt (operator GCash) untuk pertama kalinya, dan Myanmar diwakili oleh penyedia layanan keuangan seluler Wave Money.
“Peningkatan keterwakilan dari berbagai negara ini menegaskan lanskap inovasi fintech Asia Tenggara yang semakin dinamis. Keragaman sektor yang masuk dalam daftar—mulai dari dompet digital, pembayaran lintas batas, insurtech, hingga pembiayaan alternatif—mencerminkan evolusi kebutuhan konsumen dan tingginya adopsi digital Masyarakat,” pungkasnya.
Seiring mengakselerasinya ekonomi digital di Asia Tenggara, jajaran perusahaan fintech terdepan ini diproyeksikan bakal memegang peran kunci dalam membentuk masa depan industri keuangan, baik di tingkat regional maupun panggung global. (*AMBS)
