Atasi Kegagalan Budidaya Perikanan, Startup Akuakultur FisTx Rambah Pasar Global

FisTx teknologi akuakultur

Atasi Kegagalan Budidaya Perikanan, Startup Akuakultur Asal Sleman FisTx Rambah Pasar Global (Foto: Istimewa)

youngster.id - Industri budidaya perikanan nasional masih dihadapkan pada tantangan besar. Sekitar 65% kegagalan budidaya dipicu oleh buruknya kualitas benih dan pakan, sementara 80% pembudidaya masih mengandalkan metode konvensional yang rentan terhadap perubahan musim. Menjawab persoalan ini, FisTx, perusahaan teknologi akuakultur berbasis di Sleman, Yogyakarta, hadir menyediakan ekosistem solusi terintegrasi bagi para petambak dari hulu ke hilir.

Didirikan oleh Rico Wisnu Wibisono, FisTx mengembangkan lima pilar solusi utama yang saling terhubung untuk mendukung ekosistem budidaya. Pilar pertama mencakup teknologi treatment air melalui FisTx Disinfection System—yang memadukan Baskara UV, Cakra Elektrolisis, dan Nano Disinfektan—serta Antasena Microbubble untuk optimalisasi oksigenasi kolam. Lini Aqua Support hadir sebagai pilar kedua yang berfokus pada nutrisi dan pemantauan kualitas air.

Sementara itu, FisTx juga menyediakan perencanaan dan pembangunan infrastruktur tambak modern melalui Aquadex, didukung pendampingan lapangan berbasis data digital lewat program TAMPAN (Petambak Mapan), serta penguatan ekosistem akuakultur melalui kemitraan strategis lintas sektor.

“Petambak Indonesia tidak butuh produk tunggal, mereka butuh satu ekosistem yang saling menopang dari hulu ke hilir. Itu yang kami bangun di FisTx,” tegas Founder & CEO FisTx, Rico Wisnu Wibisono.

Tingkatkan Hasil Panen hingga 33%

Hingga kini, solusi FisTx telah menjangkau 25 provinsi di Indonesia serta merambah tiga negara di Timur Tengah dan Asia Tenggara, yaitu Kuwait, Timor Leste, dan Bahrain. Dengan lebih dari 40.000 produk terdistribusi ke 1,500 lebih petambak, adopsi teknologi ini mencatatkan peningkatan success rate (SR) budidaya hingga 83,6%, mendongkrak hasil panen sebesar 33%, serta menekan biaya produksi dan Feed Conversion Ratio (FCR) hingga 27%.

Pakar Akuakultur Senior sekaligus mantan Kadis KP Provinsi Sulawesi Tengah, Dr. Hasanuddin Atjo, mengapresiasi inovasi sterilisasi air bebas bahan kimia tersebut.

“Teknologi treatment air baku untuk budidaya harus menjadi perhatian serius. Inovasi untuk menciptakan infrastruktur sterilisasi air dalam negeri yang murah seperti teknologi UV dan Elektrolisis perlu terus didorong agar industri tidak lagi bergantung pada bahan kimia,” ujar Hasanuddin Atjo.

Manfaat ini dirasakan langsung oleh Mas Bayu, seorang petambak di Pangandaran. “Bakteri vibrio dulu jadi masalah utama di tambak kami. Sekarang bisa kami kendalikan dengan Nano Disinfektan. Kami berhasil mempertahankan SR di atas 85% selama empat siklus terakhir,” ungkapnya.

Ekspansi Pasar Internasional ke Asia Selatan

Tak berhenti di pasar domestik, FisTx melangkah lebih jauh ke kancah global melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan perusahaan pertanian dan peternakan asal Pakistan, Pak Gharo Agri & Livestock Farms (PGA & LF). Kerja sama ini bertujuan memperluas distribusi teknologi FisTx ke kawasan Pakistan, Asia Selatan, hingga Timur Tengah.

CEO Pak Gharo Agri & Livestock Farms, Arshad Aziz, menyambut positif kemitraan strategis tersebut.

“Sektor akuakultur Pakistan membutuhkan solusi biosekuriti yang teruji di lapangan. Teknologi FisTx melengkapi keahlian kami, dan kami optimistis kemitraan ini mempercepat adopsi budidaya berkelanjutan di kawasan,” kata Arshad.

Ke depan, FisTx berkomitmen memperluas kolaborasi dengan BUMDes, masyarakat lokal, serta mitra internasional guna mengakselerasi transformasi akuakultur berkelanjutan dan inklusif. (*AMBS)

 

Exit mobile version