youngster.id - Startup rantai pasok (supply chain) asal Indonesia, Baskit, mengumumkan keberhasilan meraih pendanaan Seri A putaran pertama senilai US$4,4 juta. Pendanaan ini dipimpin oleh Cento Ventures dengan partisipasi dari Kaya Founders, Analog Ventures, dan Orvel Ventures.
Selain ekuitas, Baskit juga mengamankan fasilitas kredit bergulir sebesar US$3 juta dari HSBC Innovation Banking. Dengan tambahan modal ini, total pendanaan yang dikumpulkan Baskit sejak awal 2023 mencapai US$9,9 juta. Dana tersebut akan dialokasikan untuk memperkuat penetrasi di pasar domestik serta mendanai ekspansi regional perdana ke Filipina.
CEO dan Co-founder Baskit, Yann Schuermans, menekankan bahwa kunci menaklukkan pasar Indonesia adalah disiplin dan pemahaman mendalam terhadap lapangan. Menurutnya, lebih dari 90% perdagangan di Asia Tenggara masih bergerak melalui jalur luring.
“Jangan mencoba mengubah perilaku secara menyeluruh atau memaksakan teknologi dari atas ke bawah. Temukan titik masalah yang nyata, ciptakan solusi yang saling menguntungkan (win-win), dan kembangkan dari sana,” ujar Schuermans, Rabu (15/4/2026).
Schuermans menambahkan bahwa terlalu banyak modal di awal justru sering kali menjadi penyebab kegagalan banyak startup.
Baskit mengoperasikan platform berbasis AI yang membantu merek konsumen merancang dan mengeksekusi strategi go-to-market melalui saluran perdagangan luring (offline) Indonesia yang terfragmentasi. Platform ini mengintegrasikan perangkat lunak, koordinasi logistik, sistem pembayaran, hingga kredit tersemat (embedded credit) dalam satu sistem terpadu.
Saat ini, Baskit telah menghubungkan lebih dari 60 merek dengan jaringan distributor, grosir, dan peritel besar seperti Alfamart, Circle K, dan Boots. Menariknya, Baskit tercatat telah mencetak profit selama 18 bulan terakhir—sebuah pencapaian yang dinilai jarang terjadi bagi perusahaan teknologi tahap awal di Asia Tenggara.
Setelah sukses membangun fondasi di Indonesia selama tiga tahun, Baskit kini membidik Filipina. Schuermans menilai Filipina memiliki kesamaan struktural yang besar dengan Indonesia, mulai dari topografi, PDB per kapita, hingga tingkat fragmentasi rantai pasok.
“Filipina memiliki DNA yang mirip dengan Indonesia. Ini berarti sebagian besar dari apa yang telah kami bangun dan pelajari di Indonesia dapat langsung diterapkan di sana,” jelasnya.
Baskit berencana mereplikasi metodologi go-to-market mereka dengan memanfaatkan playbook operasional dan dukungan dari investor seperti Kaya Founders yang berbasis di Filipina.
Neil Falconer, Head of Innovation Banking HSBC Singapore, menyatakan dukungannya terhadap bisnis dengan pertumbuhan tinggi seperti Baskit melalui pool pendanaan US$1,5 miliar milik bank tersebut untuk perusahaan inovatif.
“Kami bangga dapat mendukung bisnis dengan pertumbuhan tinggi seperti Baskit melalui solusi pembiayaan yang disesuaikan yang diambil dari dana kelolaan bank sebesar US$1,5 miliar khusus untuk perusahaan-perusahaan inovatif,” kata Falconer.
Dengan dukungan ini, Baskit optimistis dapat menjadikan model bisnisnya sebagai cetak biru yang dapat diulang di setiap pasar baru di ASEAN.
STEVY WIDIA


















Discussion about this post