Bidik Startup Energi Bersih Indonesia, Schneider Electric dan Swiss-Asia Galang Dana SEEAA Fund II

Pendanaan Startup Energi Bersih Indonesia

Bidik Startup Energi Bersih Indonesia, Schneider Electric dan Swiss-Asia Galang Dana SEEAA Fund II (Foto: Istimewa)

youngster.id - Indonesia menempati posisi krusial dalam portofolio investasi hijau di kawasan Asia Tenggara. Menangkap potensi besar tersebut, Schneider Electric selaku pemimpin global di bidang teknologi energi, resmi bermitra dengan Swiss-Asia Financial Services untuk menggalang dana pendanaan tahap awal bernama Schneider Electric Energy Access Asia Fund II (SEEAA Fund II).

Kerja sama strategis ini dirancang menggunakan struktur blended finance (pendanaan campuran) bernilai jutaan dolar AS. Fokus utamanya adalah mengatasi kesiapan dan kesenjangan pendanaan tahap awal (early-stage) bagi perusahaan rintisan (startup) yang bergerak di sektor energi bersih serta ekonomi sirkular di Asia Selatan dan Asia Tenggara, di mana Indonesia menjadi salah satu target pasar paling prioritas.

Posisi Indonesia yang strategis bukan tanpa alasan. Negara ini telah terbukti menjadi salah satu contoh praktik regional paling kuat dari keberhasilan penyaluran dana komitmen pada periode sebelumnya (SEEAA Fund I).

Hingga akhir Desember 2025, deretan startup asal Indonesia yang disuntik modal oleh SEEAA secara kolektif telah berhasil: menjangkau lebih dari 38.000 penerima manfaat, mengurangi emisi karbon hingga lebih dari 407.000 tCO₂e, dan membuka lebih dari 280 lapangan kerja baru di kawasan Asia.

Beberapa inovator lokal Indonesia yang sukses berkembang berkat dukungan pendanaan ini di antaranya adalah Xurya dan SolarKita (pionir akses PLTS atap), Dash Electric (solusi logistik rendah karbon bagi pekerja gig economy), serta Agros (penyedia irigasi bertenaga surya untuk petani kecil).

“Transisi energi Indonesia akan sangat ditentukan oleh kekuatan inovator lokal dan kemitraan yang dapat menjanjikan potensi besar untuk berkembang. Melalui SEEAA, kami bangga dapat mendukung startup seperti Xurya, SolarKita, Dash Electric, dan Agros,” ujar Martin Setiawan, President Director Indonesia & Timor-Leste, Schneider Electric, Kamis (25/6/2026).

Secara regional, kehadiran SEEAA Fund II diproyeksikan mampu memberikan dampak sosial dan lingkungan yang masif. Dana ekuitas ini ditargetkan dapat mengurangi sekitar 3 juta ton emisi CO₂, memberi manfaat langsung bagi 3,5 juta orang, serta menciptakan hingga 5.000 lapangan kerja baru. Untuk mempercepat peluncuran dan penyerapan modal bagi startup yang kekurangan dana, Schneider Electric memanfaatkan Asia Climate Solutions Design Grant dari Convergence melalui program Blended Finance Accelerator.

CEO Swiss-Asia Financial Services, Pying-Huan Wang, menambahkan bahwa Indonesia merupakan pasar yang sangat akrab bagi mereka. “SEEAA Fund II akan menjadi dana ketiga yang kami kelola untuk investasi di pasar Indonesia,” jelas Pying-Huan.

Selain melalui program SEEAA Fund II, komitmen investasi berdampak jangka panjang Schneider Electric di Indonesia juga diwujudkan melalui kemitraan di Livelihoods Funds. Inisiatif terbaru dari dana karbon (Livelihoods Carbon Fund) ini berfokus langsung pada wilayah pedesaan Indonesia melalui praktik pertanian berkelanjutan dan agroforestri kopi.

Program ini memanfaatkan ekonomi karbon untuk membiayai pemulihan ekosistem, meningkatkan kualitas hidup masyarakat lokal, sekaligus membantu perusahaan mencapai target emisi net-zero dengan memproduksi kredit karbon berintegritas tinggi.

Senior Vice President Corporate Citizenship & Institutional Affairs Sustainability Schneider Electric, Gilles Vermot Desroches, menegaskan bahwa Indonesia telah menjadi cetak biru nyata bagaimana investasi berdampak mampu mengawinkan aksi iklim global dengan ketahanan ekonomi komunitas lokal secara berkelanjutan.

“Indonesia menunjukkan bagaimana model ini dapat menghubungkan aksi iklim dengan pertanian dan ketahanan komunitas. Hal ini memperlihatkan bahwa investasi berdampak bukan hanya menjadi pilar utama dari pendekatan kami, tetapi juga alat yang ampuh untuk mewujudkan perubahan yang terukur dan berkelanjutan,” pungkas Gilles.

 

STEVY WIDIA 

Exit mobile version