Saat AI Bertumbuh Pesat, Industri Mulai Mencari Cara Agar Tetap Ramah Lingkungan

AI dan efisiensi energi

ki-ka Young Liu, Chairman of Foxconn dan Olivier Blum, CEO Schneider Electric usai penandatanganan kolaborasi strategis kedua perusahaan. (Foto: istimewa/se)

youngster.id - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dalam beberapa tahun terakhir membawa perubahan besar di berbagai sektor industri. Mulai dari layanan digital, manufaktur, hingga bisnis berbasis data, AI semakin banyak digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan menciptakan inovasi baru. Namun, di balik perkembangan teknologi tersebut, muncul tantangan baru yang semakin penting untuk diperhatikan, yaitu kebutuhan energi.

Semakin besar kemampuan komputasi yang dibutuhkan AI, semakin besar pula infrastruktur yang diperlukan untuk menjalankannya. Kondisi ini membuat industri mulai mencari cara agar pertumbuhan AI tetap berjalan seiring dengan upaya efisiensi energi dan keberlanjutan lingkungan.

Salah satu langkah yang dilakukan datang dari kolaborasi strategis antara Schneider Electric dan Hon Hai Technology Group (Foxconn). Kedua perusahaan tersebut bekerja sama untuk mengembangkan infrastruktur data center AI generasi berikutnya yang lebih efisien dan siap mendukung kebutuhan komputasi masa depan.

Business VP Data Center Schneider Electric Indonesia, Ellya Cen, mengatakan perkembangan AI membutuhkan dukungan infrastruktur energi yang lebih cerdas.

“Permintaan terhadap AI terus meningkat, dan seiring dengan berkembangnya skala komputasi, energi di baliknya menjadi faktor pendukung yang sangat fundamental. Jika kita ingin meningkatkan skala AI secara bertanggung jawab, sistem-sistem ini harus saling terhubung,” ujarnya dikutip Senin (22/6/2026).

Kolaborasi ini menggabungkan kemampuan Foxconn dalam sistem komputasi canggih, integrasi rak AI, dan manufaktur global dengan keahlian Schneider Electric dalam sistem energi, kelistrikan, pendinginan, serta manajemen infrastruktur digital.

Melalui kerja sama ini, Schneider Electric dan Foxconn akan mengembangkan arsitektur referensi untuk data center AI yang dapat digunakan secara lebih luas. Solusi tersebut mencakup optimalisasi energi, sistem modular untuk kelistrikan dan pendinginan, hingga desain infrastruktur yang lebih mudah diterapkan.

Pendekatan ini diharapkan dapat membantu perusahaan membangun fasilitas AI yang memiliki performa tinggi sekaligus lebih efisien dalam penggunaan energi.

“Di Schneider Electric, kami terus mengembangkan teknologi energi untuk membangun AI factory yang paling efisien dan berkelanjutan, dengan menghadirkan kemampuan kelistrikan, daya, pendinginan, dan digital yang terintegrasi ke dalam data center AI,” kata Ellya.

Sementara Chairman Foxconn Young Liu menambahkan, dengan laju perkembangan AI yang sangat cepat, industri membutuhkan model baru dalam merancang, membangun, dan menyediakan infrastruktur.

“Dengan menggabungkan keunggulan Foxconn dalam sistem AI dan manufaktur global dengan keahlian mendalam Schneider Electric di bidang energi dan kelistrikan, kami membuka jalan bagi pelanggan untuk menerapkan kapasitas AI dalam skala besar secara lebih cepat, cerdas, dan berkelanjutan,” ucapnya.

Bersama-sama, kedua perusahaan bertujuan menghadirkan solusi terintegrasi yang siap diterapkan, sehingga pelanggan dapat membangun dan mengoperasikan infrastruktur AI dengan lebih cepat, efisien, dan terprediksi di berbagai wilayah. Produksi ditargetkan akan dimulai pada akhir tahun ini.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version