youngster.id - Sebanyak delapan perusahaan rintisan (startup) asal Indonesia berhasil masuk ke dalam daftar bergengsi Forbes Asia “100 to Watch 2026”. Ajang penghargaan ini menyoroti perusahaan skala kecil dan rintisan yang memiliki potensi pertumbuhan serta dampak signifikan di kawasan Asia-Pasifik.
Dengan raihan tersebut, Indonesia menempati posisi kelima sebagai negara dengan wakil terbanyak dalam daftar tahun ini, sejajar dengan Australia. Posisi ini berada di bawah India (19 perusahaan), Singapura (15 perusahaan), China (10 perusahaan), serta Jepang dan Korea Selatan yang masing-masing menyumbangkan sembilan perusahaan.
Forbes Asia mencatat bahwa teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) menjadi tema dominan pada edisi 2026, di mana hampir seperempat dari total perusahaan yang terpilih bergerak di bidang enterprise technology berbasis AI. Secara regional, 100 perusahaan dalam daftar ini telah berhasil mengumpulkan total pendanaan mencapai US$2,4 miliar (sekitar Rp42,5 triliun), dengan nyaris US$1 miliar di antaranya dihimpun sepanjang tahun 2026.
“Forbes menyusun daftar ini melalui nominasi dari akselerator, universitas, hingga modal ventura dengan menilai dampak industri, market fit, model bisnis, inovasi, serta pertumbuhan pendapatan secara konsisten,” tulis laporan resmi Forbes Asia.
Kedelapan wakil Indonesia mencerminkan lanskap inovasi digital nasional yang semakin matang dan beragam:
- Cekat.AI (Enterprise Technology)
Didirikan pada 2023 dan dipimpin oleh CEO Bryan Wilianto (serta Matthew Sebastian), Cekat.AI mengembangkan platform AI agent untuk customer service dan sales. Perusahaan yang juga menjadi Meta Business Partner resmi ini mengintegrasikan CRM omnichannel dan otomatisasi pemasaran untuk membantu bisnis mengelola percakapan pelanggan.
- Durianpay (Finance)
Berdiri sejak 2020 di bawah kepemimpinan Natasha Ardiani, Durianpay menyediakan infrastruktur pembayaran full-stack B2B yang terhubung dengan lebih dari 20 metode pembayaran lokal. Berizin resmi dari Bank Indonesia, Durianpay sukses memproses transaksi lebih dari US$5,5 miliar pada 2025 dan berhasil membukukan laba pertama.
- Grouu (E-commerce & Retail)
Dipimpin oleh CEO Jessica Marthin, Grouu mengawali bisnisnya pada 2020 sebagai penyedia katering MPASI dan makanan anak. Saat ini, Grouu telah berekspansi ke produk makanan siap santap dan bahan memasak yang tersedia di lebih dari 3.000 titik ritel serta didukung jaringan 190 mompreneurs di 50 kota.
- Loluna (E-commerce & Retail)
Didirikan pada 2022 oleh Bianca Belnadia Lie, Loluna merupakan merek perawatan kulit (skincare) dan perawatan bayi lokal. Mengusung nilai “Safe Premium Affordable”, Loluna berhasil menjadi alternatif produk lokal tepercaya di pasar yang sebelumnya didominasi oleh merek-merek global.
- Satu Dental (Biotechnology & Healthcare)
Dipimpin oleh Satria Situmorang, klinik kesehatan gigi ini beroperasi sejak 2021 dan telah menghimpun pendanaan lebih dari US$20 juta. Hingga pertengahan 2026, Satu Dental telah mengoperasikan lebih dari 57 lokasi di wilayah Jabodetabek, Semarang, dan Surabaya, serta menargetkan memiliki lebih dari 60 klinik di akhir tahun.
- Sirka (Biotechnology & Healthcare)
Berdiri pada 2021 di bawah kepemimpinan Rifanditto Adhikara, Sirka bertransformasi dari aplikasi wellness menjadi penyedia layanan kesehatan personal yang berfokus pada obesitas dan penyakit metabolik. Sirka telah mengoperasikan klinik mandiri sejak 2024 untuk pengelolaan diabetes, kolesterol, hingga PCOS.
- Soul Parking (Consumer Technology)
Dipimpin oleh Kenneth Darmansjah sejak 2020, Soul Parking menghadirkan teknologi manajemen parkir pintar untuk mengoptimalkan pemanfaatan ruang di berbagai properti komersial maupun publik. Hingga 2026, sistem parkir berbasis QR code dan integrasi e-wallet milik Soul Parking telah mengelola 150 lokasi.
- Waste4Change (Energy & Green Tech)
Satu-satunya wakil Indonesia di kategori teknologi hijau ini didirikan pada 2014 oleh Mohamad Bijaksana Junerosano. Waste4Change mencatat pencapaian mengelola lebih dari 90.000 ton sampah sejak berdiri—termasuk 38.000 ton pada tahun 2025—melalui program daur ulang material dan pengomposan organik bagi 400 pelanggan korporasi.
STEVY WIDIA
