Investasi Climate Tech Asia Tenggara Tembus US$1,4 Miliar, Indonesia Jadi Motor Utama EV

Startup Climate Tech

Investasi Climate Tech Asia Tenggara Tembus US$1,4 Miliar, Indonesia Jadi Motor Utama EV (Foto: Ilustrasi)

youngster.id - Platform intelijen pasar, Tracxn, merilis laporan Southeast Asia Climate Tech Report 2026. Riset komprehensif ini mencatat bahwa ekosistem teknologi iklim (Climate Tech) di Asia Tenggara berhasil meraup pendanaan ekuitas yang terungkap sebesar US$1,4 miliar (sekitar Rp22,5 triliun) di 269 putaran pendanaan sejak 2020 hingga Mei 2026.

Laporan tersebut menyoroti adanya pergeseran tren investasi yang kini mulai berevolusi ke arah pertumbuhan yang dipimpin oleh pembangunan infrastruktur fisik skala besar dan manufaktur (deployment-led growth). Aliran modal global terpantau makin terkonsentrasi pada sektor elektrifikasi, energi terbarukan, modernisasi jaringan listrik, infrastruktur baterai, serta dekarbonisasi industri.

Singapura masih menjadi jangkar utama ekosistem Climate Tech di kawasan regional dengan menarik dana hampir US$1,1 miliar dari total pendanaan sejak tahun 2020. Dominasi ini didukung oleh lingkungan modal ventura yang matang, ekosistem keuangan berkelanjutan (sustainable finance), dan infrastruktur pasar karbon yang kuat.

Di tingkat korporasi, modal wilayah ini semakin terkonsolidasi pada perusahaan-perusahaan yang berada di tahap penyebaran teknologi dan peningkatan skala operasional (scale-up). Tiga perusahaan raksasa, yakni RWDC Industries, Beam, dan Amperesand, secara kumulatif menyumbang hampir US$500 juta dari total pendanaan regional.

Berdasarkan sektor yang paling banyak menarik perhatian investor, teknologi pengelolaan limbah padat (Solid Waste Management Tech) memimpin dengan perolehan US$105 juta di 34 putaran pendanaan. Sektor infrastruktur lain yang membuntuti di belakangnya meliputi: Smart Grid (Jaringan Listrik Pintar): US$97 juta, Energy Efficiency Tech (Teknologi Efisiensi Energi): US$77 juta, Air Pollution Management Tech (Manajemen Polusi Udara): US$71 juta, dan Renewable Energy Tech (Teknologi Energi Terbarukan): US$62 juta.

Indonesia dan Vietnam muncul sebagai pasar Climate Tech terkuat yang digerakkan oleh sektor manufaktur dan mobilitas ramah lingkungan. Indonesia sukses mencatatkan basis pendanaan sebesar US$162 juta (sekitar Rp2,6 triliun) yang dipacu secara agresif oleh manufaktur kendaraan listrik (EV manufacturing), perluasan jaringan infrastruktur pengisian daya (charging station), serta rantai pasok baterai.

“Akselerasi masif di Indonesia ini didukung penuh oleh melimpahnya cadangan nikel nasional serta berbagai inisiatif transisi energi dari pemerintah,” kata Tracxn, dikutip Jum’at (29/5/2026).

Sementara itu, aktivitas teknologi iklim di Vietnam bergerak cepat di sekitar adopsi kendaraan listrik roda dua, penyebaran energi terbarukan, dan perluasan infrastruktur energi yang dipelopori oleh perusahaan lokal seperti Dat Bike.

Secara garis besar, transisi industri di Asia Tenggara kini telah bergeser. Fokus investasi Climate Tech yang awalnya didominasi oleh solusi keberlanjutan berbasis perangkat lunak (software-led), kini berpindah ke pembangunan infrastruktur fisik, kapasitas manufaktur pabrik, hingga daur ulang baterai jangka panjang. (*AMBS)

 

Exit mobile version