youngster.id - Investasi Private Equity (PE) di Asia Tenggara mencatatkan awal tahun yang impresif pada kuartal pertama (Q1) 2026. Berdasarkan laporan EY-Parthenon Southeast Asia Private Equity Pulse, nilai transaksi melonjak hingga 2,5 kali lipat secara tahunan (year-on-year) dengan total nilai mencapai US$9,2 miliar dari 19 investasi yang didukung PE.
Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun lalu (Q1 2025), hanya tercatat 14 kesepakatan dengan nilai US$2 miliar. Hal ini menunjukkan kenaikan volume transaksi sebesar 36% dan lonjakan nilai yang sangat signifikan di kawasan ini.
Singapura masih mengukuhkan posisinya sebagai hub utama aktivitas PE di Asia Tenggara, dengan kontribusi sebesar 94% dari nilai transaksi dan 68% dari total volume kesepakatan di wilayah tersebut.
Sektor infrastruktur mendominasi aliran modal dengan porsi sebesar 77%, disusul oleh sektor konsumen (14%) dan teknologi (7%). Dominasi infrastruktur ini didorong oleh dua transaksi raksasa (megadeals) di segmen pusat data (data center). Minat investor terhadap infrastruktur digital terus menguat seiring dengan ekspansi hyperscaler, meningkatnya permintaan komputasi berbasis AI, serta mandat lokalisasi data di berbagai negara Asia Tenggara.
Laporan tersebut mencatat adanya enam aksi exit yang menghasilkan dana segar sebesar US$1,7 miliar. Nilai exit agregat ini meningkat 75% dibandingkan tahun lalu, meski secara volume tidak berubah.
Luke Pais, EY-Parthenon Asean Private Equity Leader, menyatakan bahwa Asia Tenggara telah kembali ke mode transaksi yang kuat.
“Meskipun ada hambatan makroekonomi, momentum investasi tetap kokoh. Yang krusial, aksi exit mulai mendapatkan traksi, yang membantu memulihkan kepercayaan dan likuiditas ke dalam sistem,” ujar Luke, dikutip Rabu (13/5/2026).
Meski investasi tumbuh, penggalangan dana (fundraising) di kawasan ini masih cenderung lesu. Ketidakpastian pasar global dan dampak situasi di Timur Tengah membuat para investor (limited partners) mengambil pendekatan yang lebih terukur.
Survei EY Global Private Equity Pulse menunjukkan bahwa 56% manajer investasi (general partners) menganggap volatilitas geopolitik dan makroekonomi sebagai risiko terbesar bagi portofolio mereka dalam 12 hingga 24 bulan ke depan.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, EY-Parthenon menyarankan tiga strategi utama bagi pengelola dana. Pertama Menilai Kembali Strategi Exit, dengan menyesuaikan jadwal penjualan dengan risiko geopolitik dan selera pembeli.
Kedua, Memperkuat Resiliensi Portofolio, dengan mengelola dampak biaya energi, inflasi, dan pembiayaan yang ketat. Ketiga, Penyaluran Modal secara Selektif, yatu tetap waspada terhadap peluang dari situasi khusus atau pasar sekunder.
Luke menyimpulkan bahwa sponsor yang efektif dalam mengelola tekanan biaya dan membangun ketahanan operasional akan berada dalam posisi terbaik untuk menghasilkan imbal hasil saat kondisi pasar kembali normal. (*AMBS)


















Discussion about this post