youngster.id - Mengubah komoditas pangan lokal menjadi produk bernilai tambah tinggi merupakan misi utama KhumKhum, startup pangan olahan berbasis di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di bawah naungan CV Khaira Buana Mas, KhumKhum bertransformasi dari sekadar produsen camilan lokal menjadi entitas bisnis utuh yang menggabungkan pengolahan pangan fungsional, ekonomi sirkular, pemberdayaan masyarakat, dan integrasi rantai pasok dari hulu ke hilir.
Berawal dari Krisis Petani Jamur
Kisah KhumKhum bermula dari persoalan riil yang dihadapi petani jamur tiram lokal di Kulon Progo pada masa pandemi tahun 2020. Saat itu, produksi jamur melimpah namun tidak terserap optimal oleh pasar akibat umur simpannya yang sangat pendek. Kondisi tersebut memicu potensi kerugian besar bagi para petani.
Di sisi lain, proses pengolahan jamur tiram konvensional menyisakan persoalan limbah. Bagian tudung jamur umumnya menjadi bahan utama yang dimanfaatkan, sementara bagian tangkai tersisa sebagai limbah yang belum memiliki nilai ekonomi.
Melihat situasi tersebut, Hanum Wahyu Wibisono bersama Endang Susylowati mulai merintis solusi sejak April 2020. Endang menginisiasi riset mandiri untuk mengolah jamur tiram menjadi produk yang memiliki masa simpan lebih panjang sekaligus meningkatkan nilai ekonominya. Dari riset tersebut, terciptalah Jamur Crispy KhumKhum—produk olahan renyah dengan formulasi bumbu khusus dan pengujian daya simpan yang matang.
Saat ini, Jamur Crispy KhumKhum hadir dalam lima varian rasa: original, balado, pedas manis, barbeque, dan super pedas, dengan varian original dan barbeque sebagai produk paling diminati pasar.
Mengusung Ekonomi Sirkular dan Pangan Fungsional
Hal yang membedakan KhumKhum dari produsen camilan pada umumnya terletak pada penerapan prinsip ekonomi sirkular yang terintegrasi di sepanjang rantai produksinya. Alih-alih memandang jamur tiram sebatas bahan baku tunggal untuk satu jenis produk, KhumKhum mengoptimalkan seluruh bagian komoditas hingga limbahnya secara maksimal guna meminimalkan jejak buangan sekaligus menciptakan nilai tambah berkelanjutan.
Pendekatan ini dimulai dari pemanfaatan bagian tudung jamur—yang porsinya mencapai sekitar 80% dari total hasil panen—sebagai bahan baku utama pembuatan Jamur Crispy KhumKhum. Sementara itu, bagian tangkai jamur porsi 20% yang biasanya dibuang begitu saja dalam pengolahan konvensional, diolah kembali melalui riset dan pengembangan (R&D) menjadi tepung jamur fungsional. Tepung inovatif ini kemudian dimanfaatkan sebagai formulasi dasar untuk melahirkan produk pangan sehat, seperti Mie Kremes “ZatZet” dan mie instan “Vitagamee” yang difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pasar akan produk bebas gluten (gluten-free).
Siklus pemanfaatan ini bahkan terus berlanjut hingga ke tahap akhir media tanamnya. Sisa baglog jamur yang sudah afkir atau tidak produktif dialirkan kepada mitra petani cacing lokal untuk dijadikan media budidaya cacing tanah, yang nantinya dipanen dan diserap oleh industri farmasi. Melalui model pengolahan dari tudung hingga limbah baglog ini, KhumKhum tidak hanya menekan potensi limbah produksi hingga titik terendah, tetapi juga berhasil menggerakkan rantai nilai ekonomi baru yang berdampak positif bagi lingkungan serta masyarakat sekitar.
Melalui rantai nilai ini, KhumKhum berhasil menciptakan multiple revenue streams sekaligus meminimalkan emisi limbah operasional (zero waste approach).
Pemberdayaan Komunitas Lokal dan Dampak Sosial
Model bisnis KhumKhum terikat erat dengan inklusivitas masyarakat di sekitar lokasi operasionalnya di Kulon Progo. Perusahaan menjalin kemitraan strategis dengan 13 mitra petani jamur tiram lokal. Kemitraan ini mencakup kepastian penyerahan hasil panen (offtaker) hingga dukungan akses permodalan. Bagi petani, skema ini menjadi jaminan penyerap hasil produksi saat panen raya; sedangkan bagi KhumKhum, kemitraan menjamin kontinuitas pasokan bahan baku lokal.
Di tingkat pemrosesan dan rumah produksi, KhumKhum menerapkan prinsip ketenagakerjaan yang inklusif. Sekitar 70% tim pendukung produksi merupakan perempuan lokal, sementara sisanya melibatkan komunitas pekerja lepas di lingkungan sekitar. Pertumbuhan bisnis KhumKhum dengan demikian menciptakan dampak ekonomi yang terdistribusi langsung kepada masyarakat.
Kolaborasi Multidisiplin dan Pendampingan UGM
Akselerasi KhumKhum tidak lepas dari struktur tim multidisiplin serta dukungan ekosistem inkubasi perguruan tinggi. KhumKhum dipimpin oleh kombinasi kepemimpinan strategis. Selain Hanum sebagai Founder dan CEO, tim KhumKhum diperkuat oleh Endang sebagai Co-founder dan Chief Technology Officer (CTO), Najihatul Mujahidah sebagai Chief Marketing Officer (CMO), serta Fatma Nurul Hida sebagai Chief Product Officer (CPO)
Mereka memiliki latar belakang keilmuan yang saling melengkapi—meliputi sistem informasi dan komputer, teknologi industri pertanian, hingga pengembangan produk agroindustri. Sinergi ini memungkinkan perusahaan menguatkan aspek teknis produk, keamanan pangan, hingga strategi pemasaran secara terintegrasi.
Perkembangan KhumKhum diperkuat melalui inkubasi Innovative Academy UGM dan program Startup Grant melalui proyek PRIME STeP di UGM Science Techno Park. Program ini memberikan pendampingan intensif terkait validasi pasar, tata kelola usaha, branding, penyusunan model bisnis, hingga persiapan standar sertifikasi keamanan pangan.
Head of Program Innovative Academy UGM, Denny Wijayanto, mengapresiasi KhumKhum sebagai contoh nyata bagaimana proses inkubasi kampus mampu mentransformasi potensi komoditas daerah menjadi bisnis komersial yang mandiri dan berdampak sosial secara berkelanjutan.
Ekspansi Pasar dan Strategi Komersialisasi
Dukungan ekosistem tersebut berhasil mendorong kapasitas produksi dan jangkauan pemasaran KhumKhum secara signifikan. Saat ini, KhumKhum mencatatkan volume penjualan rata-rata sekitar 4.000 bungkus Jamur Crispy per bulan.
Kanal penjualan offline masih menjadi tulang punggung dengan kontribusi sekitar 80% dari total penjualan. Untuk memperluas jangkauan pasar ritel, KhumKhum melakukan pembaruan kemasan produk dari standing pouch sederhana menjadi kemasan aluminium foil full printing dengan injeksi nitrogen. Inovasi kemasan ini mampu menjaga kerenyahan sekaligus memperpanjang umur simpan produk hingga 12 bulan. Jamur Crispy KhumKhum dipasarkan dengan harga sekitar Rp17.000 per kemasan.
Jaringan distribusi KhumKhum kini telah menjangkau lebih dari 1.500 titik pemasaran yang tersebar di delapan provinsi. Produk KhumKhum dapat ditemukan di berbagai ritel modern dan toko oleh-oleh terkemuka, seperti Indomaret, Alfamidi, Transmart, Hypermart, HERO, Sarinah, Sibakul Jogja, Pasar Kotagede YIA, hingga Bakpia Kukus Tugu Jogja.
Di tingkat internasional, KhumKhum telah memulai pengiriman skala kecil (trial export) ke Australia berkolaborasi dengan konsorsium UMKM lain. Penjajakan pasar juga mulai berdatangan dari Korea Selatan dan Vietnam.
“Bagi kami, pencapaian ini bukan sekadar tentang produk KhumKhum. Di baliknya ada perjalanan para petani jamur, tim produksi, mitra, dan berbagai pihak yang selama ini memberikan kepercayaan serta pendampingan kepada KhumKhum,” ujar Hanum, seperti dilansir di laman UGM.
Inisiasi Kemitraan Strategis dan Program Binaan
Perjalanan ekspansi KhumKhum dalam menembus pasar yang lebih luas turut ditopang oleh sinergi lintas sektor yang solid, melibatkan jajaran kementerian, lembaga riset, hingga entitas BUMN.
Kemitraan strategis ini tefleksikan dari keterpilihan KhumKhum dalam program Product Placement Pilihan Busan (PPPB) yang digagas oleh Kementerian Perdagangan. Melalui program ini, produk-produk KhumKhum mendapatkan ruang promosi eksklusif untuk diperkenalkan secara langsung kepada para tamu negara, pejabat publik, hingga pelaku industri internasional.
Dukungan signifikan juga datang dari sektor BUMN. Sejak Agustus 2024, KhumKhum resmi menjadi mitra binaan Pertamina melalui program PF Trainer dan UMK Academy. Pembinaan ini memberikan pendampingan secara komprehensif, mulai dari kurasi kualitas produk, optimalisasi pemasaran digital, penguatan branding, hingga memfasilitasi keikutsertaan KhumKhum dalam ajang pameran berskala besar seperti Pertamina SMEXPO 2025.
Selain itu, akselerasi bisnis KhumKhum terus diperkuat oleh ekosistem kemitraan yang luas. Perusahaan mencatatkan dukungan pengembangan dari berbagai lembaga bereputasi, antara lain Kementerian PPN/Bappenas, Asian Development Bank (ADB), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bank Indonesia, Yayasan Dharma Bhakti Astra, serta Kementerian Koperasi dan UKM. Kolaborasi multi-pihak ini menjadi pijakan kuat bagi KhumKhum untuk terus tumbuh secara berkelanjutan dari ranah daerah menuju panggung nasional dan global.
Rencana Pengembangan Produk dan Roadmap 2026
Memasuki fase pertumbuhan berikutnya, agenda utama KhumKhum berfokus pada hilirisasi riset produk baru berbahan dasar limbah tangkai jamur, yakni mie instan sehat Vitagamee.
Melalui roadmap yang disusun bersama Innovative Academy UGM, KhumKhum tengah menyelesaikan serangkaian proses standardisasi untuk Vitagamee, yang meliputi pengujian kandungan nutrisi, uji umur simpan, validasi klaim bebas gluten (gluten-free), pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) merek, pengurusan sertifikasi halal, serta izin edar BPOM.
Pada tahun 2026, KhumKhum menargetkan peluncuran komersial Vitagamee secara luas dengan menggaet sedikitnya 10 mitra distributor awal. Paralel dengan peluncuran produk baru tersebut, perusahaan bakal memperkuat infrastruktur pengolahan tangkai jamur, digitalisasi rantai pasok, serta penataan manajemen pengelolaan baglog afkir secara terintegrasi.
Melalui penguatan kapasitas produksi, pemenuhan sertifikasi internasional (seperti HACCP), dan perluasan jaringan kemitraan, KhumKhum siap melangkah dari ekosistem lokal Yogyakarta menuju panggung industri pangan berkelanjutan di tingkat global.
STEVY WIDIA
