Lawan ‘Winter’ Startup, Ajaib Raih Putaran Pendanaan Fintech Terbesar Sejak 2022

Pendanaan Ajaib

Founder Ajaib Group Yada Piyajomkwan dan Anderson Sumarli. (Foto: istimewa/Ajaib)

youngster.id - Ketika lanskap startup Asia Tenggara masih diselimuti iklim pendinginan modal (tech winter), kabar mengejutkan datang dari panggung teknologi finansial Indonesia. Ajaib, platform investasi yang populer di kalangan generasi muda, baru saja menyuntikkan kehangatan baru ke ekosistem lokal melalui putaran pendanaan Seri C senilai US$270 juta (sekitar Rp4,3 triliun).

Di tengah lesunya pendanaan tahap lanjut (late-stage) sejak puncaknya beberapa tahun lalu, transaksi yang dipimpin oleh raksasa keuangan asal Jepang, SBI Holdings, ini mencatatkan rekor tersendiri: menjadi aksi permodalan fintech terbesar di Indonesia sejak tahun 2022. Bahkan, di tengah tren penyusutan valuasi (downround) yang membayangi banyak entitas teknologi, nilai valuasi Ajaib justru dilaporkan merangkak naik melebihi status unicorn yang diraihnya pada 2021.

Suntikan dana segar ini membulatkan total modal yang dihimpun Ajaib menjadi lebih dari US$500 juta, menyandingkan SBI Holdings dengan barisan investor awal mereka seperti DST Global dan Ribbit Capital—sokongan di balik raksasa global seperti Robinhood, Coinbase, hingga Revolut.

Meredam Badai, Mengubah Arah Angin

Bagi industri startup lokal, momen ini menjadi pembuktian bahwa modal strategis tidak sepenuhnya hilang dari pasar, melainkan makin selektif. Sejak era bunga rendah berakhir, para investor global menuntut lebih dari sekadar pertumbuhan angka pengguna—mereka berburu kualitas pendapatan, kepatuhan regulasi, dan jalur profitabilitas yang realistis.

Di sinilah Ajaib mencuri panggung. SBI Holdings tidak hadir sebagai investor finansial pasif yang sekadar menaruh modal, melainkan mitra strategis dengan rekam jejak panjang di industri perantara pedagang efek (brokerage), perbankan digital, hingga infrastruktur aset terdesentralisasi.

Founder, Chairman, dan President SBI Holdings, Yoshitaka Kitao, melihat melesatnya Ajaib sebagai jembatan penting menuju era keuangan baru.

“Dalam era tokenisasi ini, keberadaan infrastruktur global untuk aset digital menjadi jauh lebih krusial. Sebagai platform yang memadukan produk keuangan tradisional dengan aset digital, Ajaib Group merupakan mitra yang sangat cocok dengan visi SBI Group,” tutur Kitao, dikutip Senin (31/8/2026).

Menumbuhkan Generasi Investor Baru

Didirikan pada 2019 oleh dua lulusan Stanford MBA, Anderson Sumarli dan Yada Piyajomkwan, perjalanan Ajaib bermula dari sebuah taruhan sederhana: anak muda Indonesia akan berinvestasi jika cara membuka akun broker semudah mengunduh aplikasi di ponsel pintar.

Taruhan itu terbukti manis. Bermula dari platform transaksi saham tanpa deposit minimum bagi mahasiswa, Ajaib perlahan berevolusi mengikuti kedewasaan finansial para penggunanya. Kini, aplikasi yang berbasis di Jakarta tersebut bertransformasi menjadi ekosistem finansial serba ada (multi-asset platform), merangkul saham lokal, saham AS, kripto, layanan pembayaran, tabungan, hingga penyediaan infrastruktur stablecoin.

“Nasabah pertama kami adalah mahasiswa yang membeli saham satu per satu,” kenang Co-Founder dan CEO Ajaib, Anderson Sumarli. “Kini, nasabah yang sama memegang saham global, kripto, dan stablecoin di platform kami. Kami tumbuh mengikuti arah perkembangan nasabah muda kami yang bergerak jauh lebih cepat dari industrinya.”

Bagi Anderson, sekat antara instrumen investasi konvensional dan aset digital akan makin samar seiring berjalannya waktu. Ke depan, batas-batas tersebut disatukan oleh efisiensi teknologi blockchain dan tokenisasi.

Menatap Peta Persaingan Asia Tenggara

Memegang posisi unik sebagai entitas yang menaungi broker saham terdaftar sekaligus bursa aset digital resmi di bawah satu payung merek, Ajaib siap melangkah ke babak berikutnya. Tambahan modal raksasa ini akan digunakan untuk memperkuat penetrasi produk, merekrut talenta-talenta terbaik, dan mengepakkan sayap ekspansi ke kawasan regional.

Di pasar domestik, Ajaib memang terus bersaing ketat dengan nama-nama besar seperti Stockbit, Bibit, Pluang, Pintu, hingga Indodax. Namun, keberhasilan menembus ‘kemarau’ pendanaan dengan angka fantastis ini menegaskan satu hal: bagi startup yang memiliki skala bisnis solid, kepatuhan regulasi, serta visi jangka panjang yang jelas, fajar baru di ekosistem digital Indonesia selalu punya ruang untuk terbit. (*AMBS)

 

Exit mobile version