youngster.id - Total pendanaan startup teknologi di kawasan Asia Tenggara melonjak signifikan hingga 176% secara tahunan (year-on-year) menjadi US$13,5 miliar (sekitar Rp210 triliun) sepanjang sembilan bulan pertama (9M) tahun 2026. Lonjakan tajam ini didorong oleh hadirnya sejumlah putaran pendanaan bernilai fantastis (mega deals), meskipun jumlah transaksi secara keseluruhan justru mengalami penurunan.
Berdasarkan laporan SEA Tech – 9M 2026 dari firma riset data Tracxn, nilai investasi melonjak pesat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar US$4,9 miliar. Sebaliknya, volume kesepakatan (deal count) justru terkoreksi 28% menjadi 189 putaran pendanaan.
Data tersebut mengindikasikan bahwa pergerakan pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh pemusatan modal pada segmen pendanaan tahap akhir (late-stage), ketimbang pertumbuhan yang merata di seluruh tingkatan startup.
Mega Deals Tahap Akhir Kuasai Pasar
Laporan Tracxn mencatat hanya tiga transaksi besar yang menyumbang lebih dari separuh total pendanaan di kawasan ini, yakni mencapai US$7,3 miliar (54% dari total pendanaan 9M 2026 atau setara 85% dari total kenaikan tahunan).
Tiga transaksi raksasa tersebut berasal dari dua perusahaan teknologi berbasis di Singapura. Operator data center DayOne memimpin perolehan modal setelah membukukan pendanaan Seri C senilai US$2,5 miliar pada Juni 2026, menyusul putaran pendanaan awal sebesar US$2 miliar yang telah diraihnya pada Januari 2026. Sementara itu, pengembang generative video Kling AI sukses menjaring pendanaan Seri D fantastis sebesar US$2,8 miliar pada Juli 2026.
Secara keseluruhan, empat putaran pendanaan bernilai US$1 miliar atau lebih mencakup 63% dari total nilai investasi di kawasan ini. Pendanaan tahap akhir (Series C+, private equity, dan pre-IPO) melonjak lebih dari tiga kali lipat menjadi US$10,2 miliar dari sebelumnya US$3,1 miliar.
Sementara itu, pendanaan tahap awal (early-stage) cenderung melambat. Pendanaan Seri A dan B hanya mengantongi US$3 miliar dari 80 transaksi, sedangkan putaran awal (seed dan angel) mencatatkan total US$270 juta dari 90 kesepakatan.
Sektor Infrastruktur Data Center dan AI Jadi Prima Dona
Dari sisi sektoral, infrastruktur data center memimpin perolehan modal dengan total investasi US$4,7 miliar (35% dari total pendanaan regional). Sektor alat pembuat video (video-creation tools) berada di posisi kedua dengan US$2,8 miliar berkat transaksi besar Kling AI.
Posisi lima besar sektor teratas secara berturut-turut dilengkapi oleh industri sistem pembayaran (payments), robotik layanan profesional (professional-service robots), serta robotik industri (industrial robotics).
Singapura Mendominasi, Jakarta Barat Peringkat Kedua
Dari kacamata geografis, Singapura kian mempertegas dominasinya sebagai pusat keuangan startup regional. Perusahaan-perusahaan yang berbasis di Singapura berhasil menggalang US$12,4 miliar atau menguasai 94% dari total pendanaan Asia Tenggara, naik dari porsi 90% pada periode yang sama tahun lalu.
Di bawah Singapura, Jakarta Barat (Indonesia) menempati posisi kedua di tingkat regional dengan berhasil mengamankan pendanaan sebesar US$270 juta. Nilai tersebut mengungguli hub utama negara tetangga lainnya seperti Bangkok (Thailand), Kuala Lumpur (Malaysia), dan Taguig (Filipina) yang masing-masing mencatatkan pendanaan di bawah US$130 juta.
Kelahiran Unicorn Melambat, Aktivitas Exit Tetap Bergeliat
Meskipun nilai pendanaan meroket, pencetakan unicorn baru (startup dengan valuasi US$1 miliar atau lebih) justru melambat. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, Asia Tenggara hanya menghasilkan satu unicorn baru, yakni ShopBack, turun dibandingkan tiga unicorn baru pada periode 9M 2025.
Di sisi lain, aktivitas merger dan akuisisi (exit strategy) turut bergeliat dengan mencatatkan sejumlah transaksi bernilai fantastis. Langkah ini diwarnai oleh akuisisi raksasa ST Telemedia Global Data Centres oleh KKR dan Singtel senilai US$5,2 miliar, serta pengambilalihan platform Buy Now Pay Later (BNPL) Atome oleh Grab dengan nilai transaksi mencapai US$1,5 miliar. Selain aksi akuisisi tersebut, ekosistem startup regional juga mencatatkan sebanyak 10 perusahaan yang resmi melantai di bursa saham melalui aksi penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO). (*AMBS)
















Discussion about this post