Pendanaan Startup Asia Tenggara Melonjak Empat Kali Lipat, Indonesia Minim Pendanaan Besar

pendanaan startup Asia Tenggara

Pendanaan Startup Asia Tenggara Melonjak Empat Kali Lipat, Indonesia Minim Pendanaan Besar (Foto: Ilustrasi)

youngster.id - Total pendanaan startup di kawasan Asia Tenggara melonjak lebih dari empat kali lipat mencapai US$7,25 miliar pada semester pertama (H1) 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$1,86 miliar. Meskipun mencatatkan rekor tertinggi sejak awal 2022, pemulihan ini terkonsentrasi pada segmen infrastruktur Artificial Intelligence (AI) dan belum dirasakan secara merata oleh sebagian besar pelaku ekosistem.

Berdasarkan laporan Southeast Asia Startup Funding Report H1 2026 yang dirilis oleh Kickstart Ventures dan DealStreetAsia, peningkatan nilai investasi ini justru diiringi oleh penurunan jumlah transaksi (deal volume) sebesar 5% secara tahunan (YoY) menjadi 217 kesepakatan—angka terendah sejak 2018 dan berada 62% di bawah puncak tahun 2022.

Faktor utama di balik lonjakan angka pendanaan ini adalah transaksi tunggal raksasa senilai US$4,5 miliar oleh penyedia pusat data asal Singapura, DayOne. Pendanaan Seri C yang ditujukan untuk pembangunan infrastruktur komputasi awan dan AI ini menyumbang 62% dari total pendanaan ekuitas di seluruh kawasan.

Tanpa transaksi DayOne, total pendanaan di Asia Tenggara sebenarnya berada di angka US$2,75 miliar. Ketimpangan ini terlihat dari fakta bahwa lima putaran pendanaan terbesar menguasai 75,5% dari total modal, dan 20 transaksi teratas menyerap 89% dana. Sisa 196 transaksi lainnya hanya membagikan modal sebesar US$800 juta.

Singapura semakin memperkokoh dominasinya sebagai pusat pendanaan regional dengan menyerap US$6,7 miliar (92% dari total nilai pendanaan) lewat 145 transaksi (67% dari total volume kawasan).

Performa Negara Asia Tenggara dan Kelangkaan Modal di Indonesia

Di luar Singapura, pasar pendanaan di negara-negara tetangga sangat bergantung pada satu atau dua transaksi skala besar. Vietnam meraih posisi kedua berdasarkan nilai investasi sebesar US$340 juta dari 10 transaksi, di mana US$255 juta atau sekitar 75% di antaranya berasal dari pendanaan tunggal Vinpearl. Sementara itu, Malaysia mencatatkan variasi transaksi paling luas dengan 27 kesepakatan bernilai total US$203 juta.

Di sisi lain, Thailand mengumpulkan US$130 juta yang 77% di antaranya didominasi oleh Amity Solutions, sedangkan Filipina meraih US$80 juta dengan 75% kontribusi disumbang oleh Salmon.

Adapun Indonesia, sebagai negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, hanya mencatatkan US$104 juta dari 17 transaksi tanpa ada satupun perusahaan nasional yang masuk dalam daftar 20 pendanaan terbesar—penurunan yang dikaitkan laporan tersebut dengan kelangkaan pendanaan tahap lanjutan (growth funding).

Head of Research DealStreetAsia, Andi Haswidi, menuturkan bahwa angka pertumbuhan US$7,25 miliar tersebut belum mencerminkan kedalaman pasar secara menyeluruh karena setiap pasar di luar Singapura masih bergantung pada satu atau dua transaksi besar untuk mendongkrak total nilai investasinya.

Pendanaan Tahap Awal Menurun dan Kemunculan Pinjaman Utang

Ancaman terbesar bagi ekosistem berada pada segmen tahap awal (early-stage). Jumlah transaksi tahap awal turun 11% YoY menjadi 195 kesepakatan—turun 63% dibandingkan puncak H1 2022. Meskipun demikian, nilai pendanaan tahap awal naik 56,4% menjadi US$1,72 miliar karena investor kini memberikan dana yang lebih besar kepada segmen pilihan; rata-rata (median) pendanaan seed menyentuh rekor US$3,7 juta.

Di sisi lain, pendanaan Seri A masih menjadi hambatan utama (bottleneck). Nilai median pendanaan Seri A merosot dari US$11,6 juta pada akhir 2025 menjadi US$8 juta. Sementara pada tahap akhir (late-stage), total pendanaan mencapai US$5,88 miliar di 23 transaksi, didorong oleh pergeseran profil investor yang kini melibatkan dana sovereign, korporasi, private equity, hingga private credit.

Pembiayaan berbasis utang (debt financing) juga kian populer dengan nilai mencapai US$1,36 miliar di 23 transaksi, mencakup sekitar 15% dari total kombinasi pendanaan ekuitas dan utang.

President & Managing Partner Kickstart Ventures, Minette Navarrete, menjelaskan bahwa modal mulai kembali ke kawasan Asia Tenggara melalui infrastruktur strategis seperti pusat data dan rantai pasok cip, namun pasar beroperasi secara sangat selektif. Meskipun pertumbuhan ekonomi berkembang di Asia Tenggara diproyeksikan mencapai 4,6% pada tahun 2026, pendanaan startup tetap sangat sensitif terhadap suku bunga AS dan kondisi kepastian iklim exit bagi para investor. (*AMBS)

 

Exit mobile version