youngster.id - Lembaga Keuangan Internasional (International Finance Corporation/IFC) menyuntikkan modal investasi sebesar US$20 juta (sekitar Rp374 miliar) ke Boost Holdings, entitas bisnis teknologi finansial (fintech) milik kelompok usaha telekomunikasi regional Axiata Group. Masuknya lengan investasi sektor swasta Bank Dunia ini mendorong nilai valusi prapendanaan (post-money valuation) Boost mencapai US$340 juta.
Menurut laporan Fintech News Malaysia, melalui kesepakatan tertanggal 31 Juli, IFC mengambil alih 11,7 juta saham preferen di Boost Holdings. Suntikan modal ini menjadi stimulus penting bagi Boost dalam memperkuat fleksibilitas keuangan guna memperluas jaringan layanan finansial digital, khususnya di dua pasar utamanya: Indonesia dan Malaysia.
CEO dan Managing Director Axiata Group, Nik Rizal Kamil Nik Ibrahim Kamil, mengindikasikan bahwa perseroan masih terus membuka ruang diskusi dengan calon investor strategis lainnya.
“Penggalangan dana ini menegaskan bahwa masuknya IFC merupakan bagian dari strategi pendanaan modal yang lebih besar untuk mendorong tahap pertumbuhan berikutnya,” ujar Nik Rizal, Senin (31/8/2026).
Dorong Akses Modal UMKM dan Fintek Lending di Indonesia
Bagi pasar Indonesia, masuknya modal baru ini memiliki arti strategis dalam memperkuat penetrasi layanan keuangan inklusif. Di Tanah Air, Boost beroperasi sebagai platform pendanaan bersama berbasis teknologi (peer-to-peer/P2P lending) yang berizin serta diawasi resmi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Boost fokus menyalurkan solusi pembiayaan produktif bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) nasional melalui dua produk utamanya: Invoice Financing (pembiayaan berbasis faktur tagihan) dan Supply Chain Financing (pembiayaan rantai pasok usaha). Melalui skema ini, para pelaku usaha lokal dapat mengakses pinjaman modal hingga Rp2 miliar dengan tenor 3 bulan untuk ekspansi toko, operasional, hingga penggajian karyawan.
Kinerja operasional Boost di Indonesia mencatatkan traksi yang kuat. CEO Boost Indonesia, Stefanus Warsito, menjelaskan bahwa kehadiran layanan ini menjadi jembatan penting bagi kelompok UMKM yang selama ini sulit mengakses fasilitas perbankan konvensional (underbanked).
“Lebih dari 40% nasabah Boost di Malaysia dan Indonesia belum pernah menerima kredit dari penyedia jasa keuangan lain sebelumnya. Kami terus berupaya menjangkau lebih banyak UMKM melalui solusi fintek holistik agar mereka dapat terus tumbuh,” kata Stefanus. Kepercayaan pasar lokal juga tercermin dari tingkat pengajuan pinjaman kembali (repeat rate) pembiayaan mikro jangka pendek yang mencapai 90%.
Penguatan Ekosistem Fintek dan Bank Digital Regional
Selain memperkuat lini P2P lending bagi UMKM di Indonesia, tambahan permodalan dari IFC akan mendukun pengembangan ekosistem finansial digital Boost secara keseluruhan. Di Malaysia, konsorsium ini juga mengoperasikan Boost Bank—bank digital hasil kerja sama modal antara Boost Holdings (60%) dan RHB Bank (40%) yang telah beroperasi sejak Juni 2024.
Sebelum transaksi saham preferen dengan IFC disepakati, kepemilikan saham Boost Holdings dikuasai oleh Axiata Group sebesar 77,76%, disusul Great Eastern Digital (19,90%), dan Mitsui (2,34%).
Kehadiran IFC sebagai institusi keuangan pembangunan global tidak hanya membawa suntikan modal, tetapi juga jaringan kepakaran dalam mendorong inklusi keuangan dan kedaulatan teknologi ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara. (*AMBS)
















Discussion about this post