youngster.id - Rize, perusahaan agriculture technology (agritech) yang berfokus pada pertanian padi berkelanjutan, mengumumkan penutupan putaran pendanaan Seri B senilai US$31 juta (sekitar Rp560 miliar). Pendanaan baru ini terdiri dari ekuitas sebesar US$20 juta dan pembiayaan utang sebesar US$11 juta untuk memperluas model bisnis pertanian rendah emisi di Indonesia, Vietnam, dan wilayah Asia Tenggara lainnya.
Investasi ekuitas dipimpin oleh BNP Paribas Asset Management Alts dengan partisipasi dari The Rockefeller Foundation. Investor terdahulu seperti Temasek dan Breakthrough Energy Ventures juga turut memberikan investasi lanjutan. Sementara itu, pembiayaan utang difasilitasi oleh mitra keuangan strategis seperti BIDV, Temasek Foundation, dan UOB.
Dengan tambahan investasi ini, total pendanaan yang berhasil dihimpun oleh Rize hingga saat ini mencapai US$47 juta (sekitar Rp849 miliar). Dana segar tersebut dialokasikan untuk memperluas jangkauan pasar ekspor, mengembangkan alat bertenaga AI (Artificial Intelligence) bagi petani, serta memperluas teknologi mitigasi emisi karbon pertanian.
Kurangi Emisi Metana Padi Lewat Metode Irigasi AWD
Budidaya padi konvensional menyumbang sekitar 12% emisi metana global, sebuah jejak karbon besar yang setara dengan seluruh industri penerbangan global. Rize mendisrupsi tantangan iklim tersebut dengan melatih petani menerapkan metode Alternate Wetting and Drying (AWD) atau pengairan basah-kering berselang.
Metode AWD yang direkomendasikan oleh International Rice Research Institute (IRRI) ini terbukti mampu mengurangi emisi metana di lahan padi hingga 50% sekaligus menghemat penggunaan air irigasi sebesar 20 hingga 30%. Selain berdampak positif bagi lingkungan, penerapan sistem pengairan berselang ini juga berhasil meningkatkan pendapatan petani kecil hingga 30% tanpa menurunkan produktivitas hasil panen mereka.
Selain itu, Rize memandu para petani agar hasil panennya memenuhi standar Batas Maksimum Residu (Maximum Residue Limit/MRL) yang diwajibkan oleh pasar ekspor premium global.
“Investasi ini akan membuka fase pertumbuhan berikutnya dengan memperluas skala operasi, memperkuat akses pasar ekspor, serta berinvestasi dalam teknologi mutakhir untuk mendukung produktivitas petani kecil,” ujar Co-Founder & CEO Rize, Dhruv Sawhney, Kamis (16/7/2026).
Verifikasi Karbon Global dan Ekspor Perdana 1.500 Ton
Didirikan pada akhir 2022 atas inisiasi Temasek, 100×100, dan Breakthrough Energy Ventures, Rize kini mengelola lebih dari 50.000 hektar lahan pertanian dengan merangkul 17.000 petani kecil di Indonesia dan Vietnam.
Upaya pengurangan emisi karbon yang dijalankan Rize telah mendapatkan pengakuan internasional. Proyek pertanian berkelanjutan milik Rize berhasil mengantongi peringkat ex ante ‘A.pre’ dari BeZero Carbon. Peringkat ini menempatkan proyek Rize dalam 30% teratas kategori proyek tanah karbon dan pertanian global. Saat ini, Rize juga tengah memproses sertifikasi Gold Standard yang diproyeksikan menghasilkan lebih dari 1 juta kredit karbon dalam lima tahun mendatang.
Sebagai bukti kesiapan pasar, beras rendah emisi yang diproduksi Rize kini dapat dilacak penuh (fully traceable) hingga ke tingkat lahan. Rize bahkan telah sukses menyelesaikan pengiriman ekspor perdana sebanyak 1.500 metrik ton ke sejumlah pasar premium dunia seperti Eropa, Kanada, Australia, dan Singapura. (*AMBS)
