youngster.id - Startup kesehatan (healthtech) besutan ACV Capital, Sirka, menggabungkan ekspansi layanan kesehatan fisik dan integrasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) guna menangkap potensi pasar kesehatan metabolik di Indonesia. Langkah strategis ini ditempuh untuk merespons tingginya angka gangguan metabolik nasional, di mana sekitar 93 juta orang dewasa Indonesia mengalami overweight (kelebihan berat badan) atau obesitas.
Didirikan pada 2021, Sirka yang awalnya beroperasi sebagai aplikasi gaya hidup (wellness) kini bertransformasi menyediakan layanan klinis terpadu, mencakup diagnosa dokter, layanan farmasi, pemeriksaan laboratorium, hingga program perawatan terstruktur. Atas akselerasi bisnis tersebut, Sirka berhasil masuk dalam jajaran Forbes Asia 100 to Watch 2026 untuk kategori Biotechnology & Healthcare.
Ekspansi Klinik Fisik dan Capaian Profitabilitas
Co-Founder dan CEO Sirka, Rifanditto Adhikara, mengungkapkan bahwa rintangan utama penanganan penyakit metabolik di Indonesia berada pada tahap awal akses medis.
“Sebagian besar masyarakat Indonesia yang membutuhkan perawatan metabolik tidak pernah bertemu dokter. Mereka mengundurkan diri bahkan sebelum konsultasi pertama dimulai,” ujar Rifanditto, dikutip Kamis (10/9/2026).
Guna mengatasi hambatan akses tersebut, Sirka membuka klinik fisik pertamanya pada 2024. Saat ini, Sirka telah mengoperasikan dua klinik di kawasan Jabodetabek yang berfokus pada manajemen berat badan, kesehatan pencernaan, perawatan diabetes, serta penanganan penyakit kronis, dengan rencana penambahan tiga lokasi klinik baru. Diversifikasi layanan dari digital ke fisik ini berhasil memperluas arus pendapatan (revenue streams) hingga membawa perusahaan mencapai profitabilitas.
Pangkas Waktu Tunggu Pasien dari 26 Menit Jadi 3 Menit Lewat AI
Selain ekspansi fisik, Sirka memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk merampingkan alur pelayanan pasien sebelum keputusan klinis diambil oleh dokter. Mengutip riset BCG tahun 2026 terhadap lebih dari 13.000 konsumen di 15 negara, hampir 60% masyarakat telah memanfaatkan generative AI untuk kesehatan pribadi, dengan tingkat adopsi tertinggi berada di negara-negara berkembang.
Dalam operasionalnya, Sirka menerapkan dua solusi AI utama. Pertama, AI Receptionist untuk menangani proses pendaftaran (intake), pemilahan awal (triage), dan pemetaan risiko (risk routing). Kedua, Doctor AI untuk menganalisis riwayat medis pasien serta menyiapkan pra-analisis terstruktur sebelum pasien bertatap muka dengan dokter.
Penerapan teknologi AI ini memangkas durasi tunggu pasien pra-konsultasi secara signifikan dari rata-rata 26 menit menjadi hanya sekitar 3 menit.
Efisiensi Operasional dan Lonjakan Tingkat Konversi Pasien
Pengurangan waktu tunggu tersebut berdampak langsung pada tingkat konversi pasien baru (patient conversion), yang melonjak dari 33% menjadi 60% selama masa uji coba. Peningkatan ini terjadi karena pasien dapat terhubung dengan tenaga medis saat motivasi berobat masih tinggi.
Di sisi lain, efisiensi waktu konsultasi dokter per pasien turun sebesar 55%, dari 18 menit menjadi 8 menit, tanpa mengurangi kualitas diagnosa dan resep yang tetap ditentukan sepenuhnya oleh dokter. Selama periode uji coba, tim medis yang sama mampu melayani hingga 947 pasien tanpa perlu menambah jumlah tenaga kesehatan (headcount).
“Pergeseran besarnya adalah bahwa layanan kesehatan mulai berskala melalui perangkat lunak dan data, bukan lagi secara linear mengikuti jumlah SDM,” pungkas Rifanditto. (*AMBS)


















Discussion about this post